Friday, September 9, 2016

Strategi Pengelolaan SDM Di PT. PERTAMINA (Persero) dalam Menghadapi Tantangan Harga Minyak Global



I.                   PENDAHULUAN
PT. PERTAMINA (Persero) merupakan perusahaan tempat saya bekerja yang bergerak di bidang Industrial Minyak dan Gas. Dalam dinamikan persaingan industri minyak dunia yang semakin ketat, elektabilitas PT. PERTAMINA (Persero) tetap terjaga dan cukup baik.
Hal ini dibuktikan ditengah-tengah  harga minyak dunia yang merosok jatuh yang membuat mayoritas Industri Minyak dan Gas merugi harus sampai melakukan perampingan SDM, sebaliknya PT. PERTAMINA (Persero) justru lebih dulu melakukan Rekrutmen SDM Baru dan tetap optimis untuk menghasilkan laba sesuai target. Hal ini dikarenakan “Sumber Daya Manusia/aparatur merupakan faktor yang sangat berperan dalam suatu organisasi atau pemerintahan dalam memberikan pelayanan kepada publik”. (Baedhowi, 2007) Sehingga dengan menerapkan Optimalisasi Sistem Perekrutan, Pengelolaan dan Pengarahan yang baik, segala macam permasalahan dan tantangan Global bukan tidak mungkin untuk dapat dijawab dan diselesaikan.
Dalam wawancara bersama Direktur Utama PT. PERTAMINA (Persero) Bapak Dwi Soetjipto, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan akan mengkaji ulang kegiatan usahanya, untuk menutupi kerugian atas harga minyak dunia merosot.
"Kami review semua. Kami berharap di down stream juga dimaksimalkan untuk tutup kerugian di up stream ini," kata Dwi dalam wawancara langsung di Jakarta, Rabu (20/1/2016).
Selain itu, Dwi menuturkan, “Aset dalam pengertian kita bukan hanya fix assets dalam neraca keuangan tapi aset tetap baik bergerak tak bergerak, aset di sini paling penting sumber daya manusia”. (Wicaksono, 2015)

II.                PERMASALAHAN
Penurunan harga minyak dunia pada Tahun 2015 silam tentunya menjadi kabar buruk bagi para investor dan pekerja migas. British Petroleum atau lebih dikenal dengan BP yang pada Tahun 2014 membukukan keuntungan sebesar US$ 8,1 Miliar, mengalami kerugian US 5,2 Miliar pada Tahun 2015. Selain itu BP juga berencana memangkas 7,000 Karyawan hingga akhir 2017. Kemudian perusahaan lainnnya seperti Exxon Mobil yang merupakan perusahaan minyak terbesar di dunia juga mengalami penurunan pendapatan yang semula mencapai US$ 87,28 Miliar pada Tahun 2014, menjadi US$ 59,81 miliar pada Tahun 2015. (Putra, 2015)
Hal ini menjadi tentunya juga menjadi tantangan bagi PT. PERTAMINA (Persero), untuk mencari cara bagaimana untuk meningkatkan profit perusahaan tanpa menambah hutang atau mengurangi tenaga kerja.           
III.             PEMBAHASAN dan SOLUSI
Menurut Flaherty (1996):  “Kesuksesan dan daya saing sangat tergantung pada tingkat efisiensi dan efektifitas operasional dan strategik. Tingkat efisiensi dan keefektifan operasional meliputi restrukturisasi operasi, penurunan biaya operasi, peningkatan kualitas barang dan jasa, inovasi secara terus menerus, dan pengembangan produk baru”.
Untuk itu, dalam mempertahankan elektabilitas dan daya saingnya, PT. PERTAMINA (Persero) melakukan optimalisasi Manajemen SDM. Berikut konsep dan penjelasan strategi yang diterapkan Pertamina:

1.      Penurunan Biaya Operasional Dengan Meningkatkan Efisiensi Dan Produktifitas Perusahaan Melalui Program Continous Improvement
Melalui Program Continous Improvement sampai dengan Semester I 2016 ini Pertamina mencatat dampak yang signifikan, dengan tercapainya program efisiensi sebesar 144% dari target. (Sumber : Fungsi Keuangan PT. PERTAMINA (Persero))  Program tersebut selain untuk pengembangan dan optimalisasi SDM juga dilombakan untuk memancing inovasi para pekerja Pertamina dalam membangun budaya sadar biaya.
Dalam pelaksanaannya, menurut saya pribadi program tersebut masih memiliki beberapa kekurangan, diantaranya meskipun sudah dilombakan seringkali antusias dari pekerja kurang untuk mengikuti program ini. Kemudian, inovasi yang sudah dibuat oleh pekerja di suatu lokasi tidak dapat diakses oleh pekerja di lokasi lainnya.
Pada permasalahan pertama mengenai antusiasme pekerja. Menurut saya dapat diselesaikan dengan cara memasukkan program Continous Improvement ke dalam penilaian KPI (Key Performance Index) masing – masing pekerja. Hal ini diperlukan untuk membangun budaya terlebih dahulu terhadap program Continous Improvement. Selain itu hendaknya perusahaan dapat menganggarkan biaya investasi untuk program ini, sebagai bentuk dukungan dan keseriusan perusahaan kepada karya – karya serta inovasi yang dibuat dari para pekerjanya sendiri. Sehingga terbentuklah SDM yang berkualitas.
 Permasalahan kedua, menurut saya dapat diselesaikan dengan cara membuat database intern Pertamina yang mudah diakses seperti contoh sistem database yang dibuat oleh Google. Sehingga mudah dicari dan mudah diakses sebagai referensi untuk Improvement selanjutnya ataupun untuk di implementasikan di lokasi lain. Mengingat para pekerja Pertamina di sebarkan di seluruh wilayah di Indonesia maupun di Luar Negeri.
2.      Menjaga Dan Meningkatkan Kualitas Barang Dan Jasa Untuk Mempertahankan Custommer Satisfaction Dengan Pengembangan Produk Baru
Penurunan harga minyak mentah dunia diikuti juga dengan turunnya harga jual produk BBM di Pertamina. Hal ini tentunya dapat dijadikan peluang bagi Pertamina untuk meningkatkan penjualan produk – produk BBK (BBM andalannya) seperti Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamax Racing dengan menggencarkan promosi serta meningkatkan pengetahuan Custommer terhadap keunggulan produk - produk tersebut.
Meski demikian, dalam praktiknya menurut saya masih terdapat kekurangan. Menurut saya Pertamina terlalu terbuai dengan Brandingnya yang memang sudah dikenal di seluruh pelosok tanah air Indonesia, sehingga pertamina kurang memperhatikan teknik promosi yang baik untuk meningkatkan ataupun memperluas pemasarannya. Padahal dari segi spesifikasi dan kualitas BBM Pertamina sangat baik jika dibandingkan dengan kualitas BBM milik kompetitor dalam negeri.
Solusi dari saya yakni agar pertamina melakukan pembekalan terhadap SDM di Direktoran Pemasaran untuk mulai menggaet pasar luar neegeri, sesuai dengan visi Pertamina yakni “Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia.”

IV.             KESIMPULAN DAN SARAN
Penurunan harga minyak dunia pada Tahun 2015 menjadi kabar buruk bagi para pelaku industri migas. Tidak sedikit Industri Migas seperti BP yang berencana memangkas 7,000 Karyawan hingga akhir 2017. (Putra, 2015) Contoh kasus tersebut menunjukkan bahwa perusahaan menganggap bahwa karyawan tersebut merupaan sumber daya bisnis yang dapat dipangkas untuk kepentingan penghematan perusahaan di tengah – tengah terjadinya krisis. Hal ini membuktikan bahwa penerapan sistem MSDM di beberapa Industrial migas belum sepenuhnya optimal, dan tentunya bertentangan dengan konsep dasar MSDM bahwa, “setiap karyawan adalah manusia, bukan mesin dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis”. (Afia, 2016)  
Untuk dapat meningkatkan profit perusahaan tanpa menambah hutang dan mengurangi tenaga kerja di PT. PERTAMINA (Persero), peningkatan produktifitas serta efisiensi biaya melalui optimalisasi Manajemem SDM menjadi salah satu strategi yang diambil Pertamina. Bentuk implementasi nyata dari hal tersebut ditandai dengan beberapa diantaranya yakni program Continous Improvement yang konsepnya mengembangkan kemampuan SDM untuk membangun budaya sadar budaya dengan meningkatkan efisiensi dan produktifitas kerja perusahaan. Kemudian melakukan pengembangan produk baru dengan memanfaatkan kondisi harga jual yang lebih murah untuk meningkatkan penjualan produk BBM. Hal ini sesuai dengan teori Flaherty (1996) “Kesuksesan dan daya saing sangat tergantung pada tingkat efisiensi dan efektifitas operasional dan strategik”.
V.                REFERENSI

Afia, A. 2016. Definisi dan Urgensi. http://sdmberkualitas.blogspot.co.id . 08 September 2016 (20:33).
Baedhowi. 2007. Revitalisasi Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Layanan Publik. Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Bisnis & Birokrasi, Vol.15, No.2 (Mei).
Flaherty. 1996. Global Operation Management. New York: McGraw Hill, Inc.
Putra, I R. 2015. 4 Dampak Mengerikan Anjloknya Minyak Dunia. http://www.merdeka.com/uang/4-dampak-mengerikan-anjloknya-harga-minyak-dunia.html . 07 September 2016 (06.22)
Soetjipto, D.  2016. Langkah Pertamina dalam Menghadapi Harga Minyak Dunia Merosot. Forum Knowledge Management Pertamina. 20 Januari 2016 . Jakarta
Wicaksono, P E. 2015. Alasan Pertamina Tak Pecat Karyawan Meski Harga Minyak Anjlok. http://bisnis.liputan6.com/read/2360981/alasan-pertamina-tak-pecat-karyawan-meski-harga-minyak-anjlok

No comments:

Post a Comment