Monday, June 14, 2021

Pengambilan Keputusan dalam Perusahaan Industri

 

Nama : Yoga Andhinova / yogaandhinova27@gmail.com

Nim : 41619010030

Tugas Besar 2 Ompi



Pengambilan Keputusan

ABSTRAK

Dalam organisasi, pengambilan keputusan merupakan bagian dari proses manajemen yang paling penting. Setiap keputusan yang diambil selalu memberikan implikasi bagi organisasi, baik implikasi yang telah diperkirakan sebelumnya maupun tidak. Seperti halnya yang sedang dialami oleh Kelurahan Ciumbuleuit. Sulitnya pengambilan keputusan untuk menentukan diterapkan/digunakannya sistem informasi kependudukan. Metode AHP (Analytic Hierarchy Process) merupakan salah satu metode pengambilan keputusan yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Metode AHP memakai persepsi manusia yang dianggap pakar sebagai input utamanya. Selain itu, sistem pengambilan keputusan AHP mampu menghasilkan keputusan yang lebih konsisten. Untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi Kelurahan Ciumbuleuit penulis membuat suatu model keputusan dan analisis dengan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Dengan menggunakan metode AHP dapat menghasilkan keputusan dari hasil analisis yaitu sistem informasi kependudukan sebagai sistem yang terbaik dan dapat membuat keputusan dengan digunakannya Sistem Informasi kependudukan di Kelurahan Ciumbuleuit.

A.   Definisi Pengambilan Keputusan

            Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal itu berkaitan dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai ‘apa yang harus dilakukan’ dan seterusnya mengenai unsur-unsur perencanaan. Dapat juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan satu diantara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.

            Keputusan itu sendiri merupakan unsur kegiatan yang sangat vital. Jiwa kepemimpinan seseorang itu dapat diketahui dari kemampuan mengatasi masalah dan mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat adalah keputusan yang berbobot dan dapat diterima bawahan. Ini biasanya merupakan keseimbangan antara disiplin yang harus ditegakkan dan sikap manusiawi terhadap bawahan. Keputusan yang demikian ini juga dinamakan keputusan yang mendasarkan diri pada human relations.

            Setelah pengertian keputusan disampaikan, kiranya perlu pula diikuti dengan  pengertian tentang “pengambilan keputusan”. Ada beberapa definisi tentang pengambilan keputusan, dalam hal ini arti pengambilan keputusan sama dengan pembuatan keputusan, misalnya Terry, definisi pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih ( tindakan pimpinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yang dimungkinkan).

            Menurut Siagian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.

            Dari kedua pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keputusan itu diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dan tidak boleh sembarangan. Masalahnya telebih dahulu harus diketahui dan dirumuskan dengan jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan pemilihan alternatif terbaik dari alternatif yang ada.

B. Pengertian Gaya Pengambilan Keputusan

Di antara para peneliti, ada kekurangan persetujuan umum bagaimana gaya pengambilan keputusan dapat dikonseptualisasikan. Poin utama dalam perbedaan tersebut menunjukkan apabila gaya pengambilan keputusan merupakan perbedaan individu yang stabil dalam waktu dan situasi atau dalam keadaan sifat. Menurut Kahneman (2011) gaya pengambilan keputusan telah digambarkan sebagai sifatsifat yang berubah-ubah, dimana individu sering beralternatif dengan mudah. Beliau berlabel dua gaya intuisi dan penalaran yang disebut sebagai Sistem 1 dan Sistem 2 masing-masing. · Sistem 1 beroperasi secara cepat, otomatis, dengan sedikit usaha atau tidak, tidak ada rasa kontrol sukarela dan berbasis emosi (emotionally driven). · Sistem 2 ialah lambat, terkontrol, penuh usaha dan sering dikaitkan dengan pengalaman subjektif dari pilihan atau konsentrasi. Epstein et al. (dalam Wood, 2012) menganggap Sistem 1 dan Sistem 2 sebagai perbedaan individu, yang membedakan antara individu-individu berdasarkan bagaimana mereka memproses informasi dan membuat keputusan dari waktu ke waktu. Epstein et al. (dalam Wood, 2012) membahas dua sistem sebagai:

a. Gaya pemikiran intuitif-pengalaman (intuitive-experiential thinking) Ciri gaya berpikir intuitif adalah pengolahan informasi yang otomatis, cepat, dan berbasis emosi. Gaya berpikir intuitif dikaitkan dengan penggunaan heuristik.

b. Gaya pemikiran analitis-rasional (analytical-rational thinking). Ciri gaya berpikir rasional ialah pengolahan informasi analitik yang membanding dan tanpa emosi.

Epstein et al. (dalam Wood, 2012) menemukan bahwa gaya berpikir intuitifeksperiensial dan gaya berpikir analitis-rasional secara independen memprediksi penyesuaian, kemampuan coping, dan pengolahan heuristik. Menurut Rowe dan Mason (dalam Jacoby, 2006), gaya keputusan adalah proses kognitif yang merupakan cara individu pendekatan masalah. Salah satu gaya keputusan mencerminkan cara indvidu visualisasi, berpikir, dan menafsirkan situasi. Penelitian tersebut telah mengungkapkan dua faktor kunci dalam bagaimana individu bervariasi dalam membuat keputusan. Dua faktor utama yang

didefinisikan sebagai penggunaan informasi dan fokus. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pemahaman gaya keputusan individu dapat mempengaruhi pendekatan pengolahan informasi seseorang (Driver dkk dalam Jacoby, 2006). Beberapa peneliti (Scott & Bruce, 1995; Thunholm, 2004 dalam Wood, 2012) mempertimbangkan gaya pengambilan keputusan menjadi pola respon kebiasaan, yang dipengaruhi oleh karakteristik individu dan situasi. Dengan demikian, meskipun orang umumnya menggunakan satu gaya berdasar pada karakteristik masing-masing, ini mungkin berbeda seperti yang dipersyaratkan oleh situasi. Menurut Rowe dan Boulgarides (1992), cara orang mengambil keputusan dapat digambarkan melalui gaya pengambilan keputusannya. Bagaimana ia menginterpretasi atau memahami, bagaimana merespon, dan apa yang dipercaya oleh sesorang sebagai sesuatu yang penting mengartikan bahwa gaya pengambilan keputusan merefleksikan cara seseorang bereaksi terhadap situasi yang dihadapinya. Selanjutnya, Rowe dan Boulgarides (1992) menemukan bahwa gaya keputusan dapat membantu dalam memprediksi hasil keputusan. Kedua peneliti mendukung keyakinan ini dengan menunjukkan bagaimana gaya keputusan yang berbeda bereaksi terhadap stres, motivasi, pemecahan masalah, dan berpikir.

Gaya pengambilan keputusan telah didefinisikan sebagai modus khas individu menafsirkan dan menanggapi tugas pengambilan keputusan (Harren, 1979). Penelitian sebelumnya pada gaya pengambilan keputusan biasanya dikategorikan individu ke dalam salah satu dari beberapa jenis, sesuai dengan karakteristik yang paling dominan dari pendekatan mereka terhadap keputusantugas (Gati et al., 2010). Gaya pengambilan keputusan karir adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan cara individu mengumpulkan, memahami, dan informasi proses sepanjang proses pengambilan keputusan karir mereka, yaitu pendekatan mereka untuk membuat keputusan karir dan cara mereka terlibat dalam proses (Phillips & Pazienza dalam Gati et al., 2010). Ini menunjukkan satu set yang berbeda dari sikap dan perilaku yang digunakan dalam tugas pembuatan keputusan (Harren, 1979), atau individu pola kebiasaan menerapkan ketika membuat keputusan (Driver, 1983).

C. Tujuan Pengambilan Keputusan

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam organisasi itu dimaksudkan untuk mencapai tujuan organisasinya yang dimana diinginkan semua kegiatan itu dapat berjalan lancer dan tujuan dapat dicapai dengan mudah dan efisien. Namun, kerap kali terjadi hambatan-hambatan dalam melaksanakan kegiatan. Ini merupakan masalah yang hatus dipecahkan oleh pimpinan organisasi. Pengambilan keputusan dimaksudkan untuk memecahkan masalah tersebut.

 

D. Dasar Pengambilan Keputusan

  1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi

Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif yaitu mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan faktor kejiwaan lain. Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini terdapat beberapa keuntungan, yaitu :

1. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan.

2. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan.

Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat Untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan. Akan tetapi, pengambilan keputusan ini sulit diukur kebenarannya karena kesulitan mencari pembandingnya dengan kata lain hal ini diakibatkan pengambilan keputusan intuitif hanya diambil oleh satu pihak saja sehingga hal-hal yang lain sering diabaikan.

  1. Pengambilan Keputusan Rasional

Keputusan yang bersifat rasional  berkaitan dengan daya guna. Masalah – masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat, keputusan yang rasional dapat diukur apabila kepuasan optimal masyarakat dapat terlaksana dalam batas-batas nilai masyarakat yang di akui saat itu.

  1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta

Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya pengambilan keputusan didukung oleh sejumlah fakta yang memadai. Sebenarnya istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data atau informasi yang cukup itu memang merupakan keputusan yang baik dan solid, namun untuk mendapatkan informasi yang cukup itu sangat sulit.

  1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman

Sering kali terjadi bahwa sebelum mengambil keputusan, pimpinan mengingat-ingat apakah kasus seperti ini sebelumnya pernah terjadi. Pengingatan semacam itu biasanya ditelusuri melalui arsip-arsip penhambilan keputusan yang berupa dokumentasi pengalaman-pengalaman masa lampau. Jika ternyata permasalahan tersebut pernah terjadi sebelumnya, maka pimpinan tinggal melihat apakah permasalahan tersebut sama atau tidak dengan situasi dan kondisi saat ini. Jika masih sama kemudian dapat menerapkan cara yang sebelumnya itu untuk mengatasi masalah yang timbul.

Dalam hal tersebut, pengalaman memang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan masalah. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis. Pengalaman dan kemampuan untuk memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya sangat membantu dalam memudahkan pemecaha masalah.

  1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang

Banyak sekali keputusan yang diambil karena wewenang (authority) yang dimiliki. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.

Keputusan yang berdasarkan wewenang memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain : banyak diterimanya oleh bawahan, memiliki otentisitas (otentik), dan juga karena didasari wewenang yang resmi maka akan lebih permanent sifatnya.

Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata maka akan menimbulkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik dictatorial. Keputusan berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat keputusan sering melewati permasahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi kabur atau kurang jelas.

 

E.  Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam Pengambilan Keputusan

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan menurut Terry, yaitu :

a)    Hal-hal yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang emosional maupun yang rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.

b)    Setiap keputusan harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi.

c)    Setiap keputusan jangan berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi harus lebih mementingkan kepentingan organisasi.

d)    Jarang sekali pilihan yang memuaskan, oleh karena itu buatlah altenatif-alternatif tandingan.

e)    Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental dari tindakan ini harus diubah menjadi tindakan fisik.

f)     Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama.

g)    Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

h)    Setiap keputusan hendaknya dilembagakan agar diketahui keputusan itu benar.

i)      Setiap keputusan merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan mata rantai berikutnya.

 

F. Keputusan Individual dan Kelompok

Pengambilan keputusan dapat dilakukan secara individual atau kelompok, tergantung bagaimana sifat dan corak permasalahannya. Keputusan individual dibuat oleh seorang pemimpin sendirian, sedangkan keputusan kelompok dibuat sekelompok orang. Keputusan kelompok dibedakan dalam :

a)    Sekelompok pimpinan

b)    Sekelompok orang-orang bersama pimpinannya.

c)    Sekelompok orang yang mempunyai kedudukan sama dan keputusan    kelompok

 

  1. Keputusan yang dibuat oleh seseorang

Kebaikannya antara lain :

1.    Keputusannya cepat ditentukan atau diambil, karena tidak usah menunggu persetujuan dari rekan lainnya.

2.    Tidak akan terjadi pertentangan pendapat

3.    Kalau pimpinan ya ng mengambil keputusan itu  mempunyai kemampuan yang tinggi dan berpengalaman yang luas dalam bidang yang akan diputuskan, keputusannya besar kemungkinan tepat.

Kelemahannya antara lain :

1.    Bagaimana kepandaian dan kemampuan pimpinan tetapi pasti memiliki keterbatasan.

2.    Keputusan yang terlalu cepat diambil dan tidak meminta pendapat orang lain seringkali kurang tepat.

3.    Jika terjadi kesalahan pengambilan keputusan merupakan beban berat bagi pimpinan seorang diri.

  1. Keputusan yang dibuat oleh Sekelompok Orang

Kelebihannya antara lain :

1.    Hasil pemikiran beberapa orang akan saling melengkapi

2.    Pertimbangannya akan lebih matang

3.    Jika ada kesalahan pada pengambilan keputusan tersebut, beban ditanggung secara bersama.

Kelemahannya antara lain :

1.    Ada kemingkinan terjadi perbedaan pendapat

2.    Biasanya memakan waktu lama dan berlarut-larut karena terjadi perdebatan-perdebatan

3.    Rasa tanggung jawab masing-masing berkurang, dan ada kemungkinan saling melemparkan tanggung jawab jika terjadi kesalahan.

 

Mengenai pembuatan keputusan individual dan kelompok Siagian menyatakan bahwa ada tiga kekuatan yang selalu mempengaruhui suatu keputusan yang dibuat. Tiga kekuatan itu :

1.    Dinamika individu di dalam organisasi

Pengaruh individu dalam organisasi sangat terasa terutama dalam hal ini adalah

pemimpinnya. Seorang pemimpin yang mempunyai kepribadian yang kuat, pendidikan yang tinggi, pengalaman ynag banyak akan memberi kesan dan pengaruh yang besar terhadap bawahannya

2.    Dinamika kelompok orang-orang di dalam organisasi

Dinamika kelompok mempunyai pengaruh besar, oleh karena itu pemimpin hendaknya mengusahakan agar kelompok lebih cepat menjadi dewasa.

3.    Dinamika lingkungan organisasi

Pengaruh lingkungan juga memegang peranan yang cukup penting untuk diperhatikan. Antara organisasi dan lingkungan itu saling mempemgaruhi.

 

G. Proses Pengambilan Keputusan

Setiap keputusan yang diambil itu merupakan perwujudan kebijakan yang telah digariskan. Oleh karena itu, analisis proses pengambilan keputusan pada hakikatnya sama saja dengan analisis proses kebijakan. Proses pengambilan keputusan meliputi :

  1. Identifikasi masalah

Dalam hal ini pemimpin diharapkan mampu mengindentifikasikan masalah yang ada di dalam suatu organisasi.

  1. Pengumpulan dan penganalisis data

Pemimpin diharapkan dapat mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat membantu memecahkan masalah yang ada.

  1. Pembuatan alternatif-alternatif kebijakan

Setelah masalah dirinci dengan tepat dan tersusun baik, maka perlu dipikirkan cara-cara pemecahannya. Cara pemecahan ini hendaknya selalu diusahakan adanya alternatif-alternatif beserta konsekuensinya, baik positif maupun negatif. Oleh sebab itu, seorang pimpinan harus dapat mengadakan perkiraan sebaik-baiknya. Untuk mengadakan perkiraan dibutuhkan adanya informasi yang secukupnya dan metode perkiraan yang baik. Perkiraan itu terdiri dari berbagai macam pengertian:

    • Perkiraan dalam arti Proyeksi

Perkiraan yang mengarah pada kecenderungan dari data yang telah terkumpul dan tersusun secara kronologis.

    • Perkiraan dalam arti prediksi

Perkiraan yang dilakukan dengan menggunakan analisis sebab akibat.

    • Perkiraan dalam arti konjeksi

Perkiraan yang didasarkan pada kekuatan intuisi (perasaan). Intuisi disini sifatnya subjektif, artinya tergantung dari kemampuan seseorang untuk mengolah perasaan.

  1. Pemilihan salah satu alternatif terbaik

Pemilihan satu alternatif yang dianggap paling tepat untuk memecahkan masalah tertentu dilakukan atas dasar pertimbangan yang matang atau rekomendasi. Dalam pemilihan satu alternatif dibutuhkan waktu yang lama karena hal ini menentukan alternative yang dipakai akan berhasil atau sebaliknya.

  1. Pelaksanaan keputusan

Dalam pelaksanaan keputusan berarti seorang pemimpin harus mampu menerima dampak yang positif atau negatif. Ketika menerima dampak yang negatif, pemimpin harus juga mempunyai alternatif yang lain.

  1. Pemantauan dan pengevaluasian hasil pelaksanaan

Setelah keputusan dijalankan seharusnya pimpinan dapat mengukur dampak dari keputusan yang telah dibuat.

 

H. Karakteristik informasi

Untuk mendukung keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen, maka manajemen membutuhkan informasi yg berguna. Untuk tiap2 tingkatan manajemen dengan kegiatan yg berbeda-beda, dibutuhkan informasi yg berbeda-beda pula, karakteristik informasi ini antara lain :

    1. Kepadatan Informasi : untuk manajemen tingkat bawah, karakteristik informasinya adalah terperinci(detail) dan kurang padat, krn terutama digunakan untuk pengendalian operasi. Sedang untuk manajemen yg lebih tinggi tingkatannya, mempunyai karakteristik informasi yg semakin tersaring(terfilter), lebih ringkas dan padat.
    2. Luas Informasi : manjemen bawah karakteristik inf. Adalah terfokus pada suatu masalah tertentu, krn digunakan oleh manajer bawah yg mempunyai tugas yg khusus. Untuk manajer tingkat tinggi, karakteristik inf yg semakin luas, karena manajemen atas berhubungan dengan masalah yg luas.
    3. Frekuensi informasi : Manajemen tingkat bawah frekuensi inf yg diterimanya adalah rutin, krn digunakan oleh manajer bawah yg mempunyai tugas yg terstruktur dgn pola yg berulang2 dari waktu ke waktu. Manajem tingkat tinggi, frekuensi informasinya adalah tidak rutin atau adhoc (mendadak), krn manajemen atas berhubungan dengan pengambilan keputusan tdk terstruktur yg pola dan waktunya tdk jelas.
    4. Waktu Informasi : Manajemen tingkat bawah, inf yg dibutuhkan adalah if historis, krn digunakan oleh manajer bawah di dalam pengendalian operasi yg memeriksa tugas2 rutin yg sudah terjadi. Untuk manajemen tingkat tinggi, waktu inf lebih ke masa depan berupa inf prediksi krn digunakan untuk pengambilan keputusan strategik yg menyangkut nilai masa depan.
    5. Akses Informasi : Level bawah membutuhkan inf yg periodenya berulang2, sehingga dapat disediakan oleh bagian sistem inf yg memberikan dalam bentuk laporan periodik. Dengan demikian akses inf tdk dapat secara on line, tetapi dapat secara off line. Sebaliknya untuk level lebih tinggi, periode inf yg dibutuhkan tdk jelas, sehingga manajer2 tingkat atas perlu disediakan akses on line untuk mengambil inf kapan pun mereka membutuhkan.
    6. Sumber Informasi : Karena manajemen tingkat bawah lebih berfokus pd pengendalian internal perusahaan, maka manajer2 tingkat bawah lebih membutuhkan inf dgn data yg bersumber dari internal perusahaan sendiri, tetapi manajer tingkat atas lebih berorientasi pada masalah perencanaan strategik yg berhubungan dengan lingkungan luar perusahaan, shg membutuhkan inf dgn data yg bersumber pd eksternal perusahaan.

 

 

 

 

 

I. Kesimpulan

Pengambilan keputusan dalam sebuah perusahaan merupakan hal yang penting bagi kemajuan perusahaan tersebut. Dalam mengambil sebuah keputusan diperlukan ketepatan dalam menganalisis masalah, menetapkan tujuan, mengidentifikasi alternatif yang ada, dan mengevaluasinya. Di perusahaan manapun masalah selalu menjadi tantangan bagi setiap karyawan dan pimpinan perusahaan tersebut. Adanya masalah dalam perusahaan bukan berarti perusahaan tersebut memiliki kualitas yang buruk, bahkan dengan adanya masalah dalam perusahaan, pimpinan dituntut untuk mengambil keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalah yang ada. Penulis mengambil judul hubungan kualitas pengambilan keputusan dalam kelompok dengan kualitas hasil keputusan di Hotel Sahid Raya Yogyakarta, dapat disimpulkan, hasil analisis korelasi product moment antara kualitas pengambilan keputusan (X) dengan kualitas hasil keputusan (Y), diketahui bahwa hubungan yang muncul adalah hubungan yang positif dan mantap. Hubungan positif yang mantap diperoleh dari nilai koefisien product moment r=0,674. hubungan yang signifikam diperoleh dari nilai signifikansi 0,000 yang lebih kecil dari nilai koefisien alpha 0.05 (0.000 < 0.05). Sangat kuatnya tingkat hubungan antara kualitas pengambilan keputusan dalam kelompok dengan kualitas hasil keputusan, menunjukkan bahwa kualitas pengambilan keputusan dalam kelompok berhubungan erat dengan kualitas hasil keputusan, namun untuk menghasilkan hubungan yang lebih erat lagi diperlukan faktor lain yaitu tingkat evaluasi yang merupakan salah satu tahap dalam pengambilan keputusan.


Daftar Pustaka

Danang Sunyoto. 2012. Dasar-dasar manajemen pemasaran. Cetakan Pertama. Yogyakarta : CAPS.

Danang Sunyoto. 2014. Konsep Dasar Riset Pemasaran & Perilaku Konsumen. Yogyakarta : CAPS.

Danang Sunyoto. 2015. Perilaku Konsumen dan Pemasaran. Yogyakarta : CAPS. Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit Andi, Yogyakarta : 1997.

Malayu Hasibuan. (2005). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Mauled Mulyono. (1993). Penerapan Produktivitas Dalam Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Moekijat. (1989). Manajemen Kepegawaian. Bandung: Mandar Maju.
Payaman Simanjuntak. (2001). Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia.

Ravianto. 2003. Produktivitas dan Manusia Indonesia. Jakarta: Lembaga Sarana Informasi Usaha dan Produktivitas.

Rusdiana, D. 2012. Pengaruh Penerapan Gugus Kendali Mutu dan Budaya Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan (Studi Kasus: Departemen Produksi, Rumah Potong Ayam PT Sierad Produce, Tbk - Bogor). Jurnal Penelitian. Vol. 2 No. 5. Hal. 1-25.

Sedarmayanti. (2009). Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Bandung: Mandar Maju.

Soeprihanto, John. 2003. Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karyawan. Yogyakara: Universitas Gadjah Mada

3 comments:

  1. 40_Wildan
    Menurut saya artikel yang dibuat sudah sangat bagus dan penjelasan yang diberikan cukup lengkap serta dilengkapi dengan mind map yang mudah dipahami. saran dari saya artikel dibuat lebih rapih lagi agar memudahkan dalam membaca artikel ini.
    Nilai:83

    ReplyDelete
  2. 35_Ardy

    Menurut saya artikel yang dibuat sudah bagus dan sesuai dengan materi yang dijelaskan. penulisan artikel juga rapi dan tersusun dengan baik. sumber penulisan juga jelas dan mind map dibuat dengan baik.
    Nilai : 82

    ReplyDelete
  3. 32_Caesar

    Teknik Penulisan : Secara gamblang tersusun rapih dari judul artikel sampai daftar pustaka , materi yang disampaikan juga sudah kompleks

    Riview : Mindmap dapat di perbarui untuk mengundang para pembaca untuk mengetahui konten artikel ini

    Nilai :85

    ReplyDelete

Note: Only a member of this blog may post a comment.