Friday, June 17, 2016

PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN

PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN

Yenny
Fakultas Teknik Industri
Universitas Mercu Buana
Jalan Meruya Selatan, Jakarta Barat
E-mail : yenzdreamz@gmail.com
.
.
.


ABSTRAK
The importance of Occupational Safety and Health Programs in improving the Employee’s Performance are to get safety and health assurance physically, socially, and psychologically so that each employee feels safe and protected at work. By implementing those programs, it is expected the employees are motivated and capable to improve their performance. The method in this study was using literature study. The result of this study prove that Occupational Safety and Health Programs will be able to improve working motivation of employees, and it will lead to Employee’s Performance improvement.
Keywords: safety, health, motivation,and employee’s performance.  

Pentingnya Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam peningkatan Kinerja Karyawan yaitu untuk mendapatkan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik, sosial, maupun psikologis agar setiap karyawan merasa aman dan terlindungi dalam bekerja. Dengan adanya program tersebut, maka diharapkan karyawan termotivasi dan mampu meningkatkan kinerjanya. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode studi literatur. Hasil penelitian membuktikan bahwa Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat meningkatkan motivasi kerja karyawan dan dapat menyebabkan peningkatan pada kinerja karyawan.

Kata Kunci: keselamatan, kesehatan, motivasi, dan kinerja karyawan.


PENDAHULUAN
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor pendukung serta penentu keberhasilan dalam menjalankan visi dan misi perusahaan. Selain itu, sumber daya manusiajuga berperan dalam menghasilkan suatu kinerja. Kinerja yang baik akan menghasilkan dampak yang positif terhadap perusahaan dan sebaliknya jika kinerja karyawan kurang baik akan menghasilkan dampak negatif terhadap perusahaan.Menyadari bahwa sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam perusahaan, jadi setiap perusahaan harus mengelola sumber daya manusia dengan baik serta selalu memperhatikan kebutuhan, keinginan, keamanan dan kesehatan karyawannya yang menjadi dasar tercapainya kinerja yang baik. Dalam proses produksi, karyawan selalu berinteraksi langsung dengan alat-alat produksi (mesin, peralatan, dan bahan kimia) sehingga diperlukan pengetahuan, keterampilan dan keahlian dalam mengoperasikan alat-alat produksi. Adanya mesin-mesin produksi modern dan canggih dapat menghasilkan dampak positif dan negatif. Dampak positif dalam penggunaan mesin-mesin modern adalah sebagai alat bantu karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan secara efektif dan efisien, selain itu dapat mempermudah dalam kegiatan produksi. Sedangkan dampak negatifnya adalah semakin canggih alat-alat produksi yang digunakan, maka semakin besar pula potensi bahaya kecelakaan kerja yang ditimbulkan apabila tidak dikendalikan oleh tenaga kerja yang terlatih dan berkualitas. Oleh karena itu, tenaga kerja bagian produksi mendapatkan perhatian lebih dari perusahaan dalam mengoperasikan alat-alat produksi agar terhindar dari kondisi dan lingkungan kerja yang tidak aman (unsafe conditions) dan tindakan (perbuatan) yang tidak aman (unsafe acts) yang disebabkan disfungsi manajemen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Keadaan ini potensial penyebab terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, kebakaran, peledakan, dan pencemaran lingkungan kerja yang menimbulkan kerugian bagi tenaga kerja, perusahaan, dan masyarakat luas. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) merupakan satu dari empat Program Jamsostek. Kepesertaan perusahaan dalam Program JKK bertujuan untuk menanggulangi adanya risiko sakit, cacat atau kematian pada tenaga kerja, mengingat kecelakaan kerja tidak dapat diprediksi kejadiannya. Perusahaan wajib membayar iuran jaminan kecelakaan kerja sesuai dengan risiko pekerjaan pada kelompok jenis usaha I, II, III, IV, dan V sebagaimana yang ditetapkan pada pasal 9 ayat 1a Peraturan Pemerintah RI No. 14/1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Kecelakaan kerja merupakan kasus yang paling banyak dibanding dengan jenis kecelakaan lainnya, efeknya langsung dirasakan, nyata dapat dilihat, serta kejadiannya dicatat dan dilaporkan. Berdasarkan data yang diperoleh Kanwil I PT Jamsostek, jumlah kepesertaan perusahaan dalam Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan tahun 2005 terbanyak dari 7 Kantor Cabang yaitu sebanyak 1.502 perusahaan aktif (39,37% dari jumlah perusahaan aktif peserta Program JKK di Provinsi Sumatera Utara) dan angka kecelakaan kerja sebanyak 1.759 kasus. Angka kecelakaan kerja pada kelompok jenis usaha III terbanyak yaitu 564 kasus (32,06%), diikuti hingga terendah kelompok jenis usaha I (536 kasus), II (331 kasus), IV (207 kasus), dan V (118 kasus).
Kecelakaan kerja biasanya disebabkan oleh faktor manusia dan faktor lingkungan. Faktor manusia adalah tindakan tidak aman dari manusia, seperti tidak disiplin dalam menerapkan peraturan kerja serta kurang terampil pekerja dalam menguasai alat-alat produksi. Sedangkan faktor lingkungan yaitu keadaan tidak aman dari lingkungan kerja yang menyangkut peralatan atau mesin-mesin. Perusahaan tidak boleh memikirkan kepentingan pribadi dalam mencari keuntungan, tetapi perusahaan juga harus memperhatikan keamanan dan kesejahteraan pekerjanya, memperlakukan pekerja sebaik mungkin tanpa harus memaksa pekerja bekerja melebihi waktu dan melebihi batas kempuannya. Kesejahteraan bukan hanya masalah gaji, upah, atau bonus tetapi K3 juga mampu memberikan kesejahteraan bagi pekerja.
Berkaitan dengan hal tersebut Husni (2005:139) : “keselamatan dan kesehatan kerja (K3) melindungi pekerja/buruh guna mewujudkan kinerja yang optimal”.
Pentingnya pemeliharaan keselamatan dan kesehatan para anggota organisasi sudah diakui secara luas di kalangan manajer karena para karyawan yang sehat dan bugar, dalam arti fisik maupun dalam arti mental psikolog, akan mampu menampilkan kinerja yang prima, motivasi yang tinggi dan tingkat kemangkiran yang rendah (Siagian,2002:263). Dengan adanya program K3 ini, sangat erat hubungannya dengan motivasi dan kinerja karyawan karena jika di dalam perusahaan tersebut menciptakan suasana kerja yang nyaman, aman dan tentram, maka karyawan akan merasa dihargai dan diperhatikan. Oleh karena itu program keselamatan dan kesehatan kerja akan mampu menaikkan motivasi dari masing-masing karyawan yang nantinya akan berpengaruh juga pada peningkatan kinerja dari para karyawan tersebut.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan maka peneliti mengambil judul Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan.

TINJAUAN PUSTAKA
Program Keselamatan
Menurut Mathis dan Jackson (2009:487) “program keselamatan kerja merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik orangorang”. Tujuan utama dari program keselamatan yang efektif dalam organisasi adalah mencegah luka-luka dan kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan. Menurut Husni (2005:136) “keselamatan kerja bertalian dengan kecelakaan kerja yaitu kecelakaan yang terjadi ditempat kerja atau dikenal dengan istilah kecelakaan industri”. Kecelakaan industri ini secara umum dapat diartikan sebagai suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas. Notoatmodjo (2009:153) menjelaskan bahwa : “keselamatan kerja bertujuan agar para karyawan di sebuah institusi bebas dari segala kecelakaan akibat kerja, gangguan-gangguan lain sehingga menurunkan bahkan menghilangkan produktivitas kerja”.
Kesehatan Kerja
Menurut Mathis dan Jackson (2006:245) : “kesehatan yaitu kondisi yang merujuk pada kondisi fisik, mental, dan stabilitas emosi secara umum”. Keselamatan dan Kesehatan Kerja K3 dijelaskan oleh beberapa pendapat para ahli, salah satu diantaranya yaitu pendapat dari Husni, berdasarkan buku yang berjudul Hukum Ketenagakerjaan tahun 2005 dapat diketahui bahwa : Husni (2005:139) : “Keselamatan dan Kesehatan Kerja melindungi pekerja/buruh guna mewujudkan kinerja yang optimal”. Dengan diterapkannya Keselamatan dan Kesehatan Kerja secara efektif, secara tidak langsung para pekerja akan merasa aman dan nyaman di lingkungan kerja, sehingga para karyawan dapat bekerja lebih fokus tanpa ada rasa tertekan dengan kondisi atau keadaan di sekitar lingkungan kerjanya.
Kinerja
Menurut Nawawi (2005:234) : “Kinerja adalah hasil pelaksanaan suatu pekerjaan, baik bersifat fisik/material maupun non-fisik/non-material”. Pernyataan ini juga didukung oleh Moeheriono, dari bukunya yang berjudul Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi, dapat diketahui bahwa, Moeheriono (2010:61) : “kinerja atau performance merupakan hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sesuai dengan kewenangan dan tugas tanggung jawab masingmasing, dalam upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika”. Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja yang telah dicapai pekerja dalam melaksanakan tugas yang telah diberikan kepadanya dengan penuh tanggung jawab dalam mencapai tujuan perusahaan.


METODE PENELITIAN
Peneliti menggunakan jenis penelitian penjelasan (eksplanatory research). Dapat dimaksudkan bahwa jenis penelitian ini menjelaskan hubungan antara variabel- variabel penelitian melalui pengujian hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya (Singarimbun,1995:5). Dalam penelitian ini menggunakan metode studi literature dari penelitian sebelumnya.
Penelitian sebelumnya menggunakan metode kuantitatif. Sebanyak 62 karyawan yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian. Analisis data dalam penelitian ini terdiri dari analisis deskriptif dan analisis inferensial yang meliputi uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda, uji F dan uji t.

PEMBAHASAN
Analisis Deskriptif Pada bagian ini akan diketahui distribusi item-item dari variabel Keselamatan Kerja (X1), variabel Kesehatan Kerja (X2), dan Kinerja Karyawan (Y) berdasarkan kuesioner yang telah diberikan kepada 62 responden.
1. Analisis Deskriptif Variabel Keselamatan Kerja
Indikator yang digunakan dalam variabel Keselamatan Kerja disajikan pada tabel berikut
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Variabel Keselamatan Kerja (X1)

Sumber : Data primer diolah, 2014.
Skor rata-rata variabel Keselamatan Kerja (X1) sebesar 4,25 masuk dalam kategori sangat setuju.
2. Analisis Deskriptif Variabel Kesehatan Kerja
Indikator yang digunakan dalam variabel Kesehatan Kerja disajikan pada tabel berikut :
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Indikator Kesehatan Kerja (X2)
Sumber : Data primer diolah, 2014.
Skor rata-rata variabel Kesehatan Kerja (X2) sebesar 4,31 masuk dalam kategori sangat setuju.
3. Analisis Deskriptif Variabel Kinerja Karyawan Indikator yang digunakan dalam variabel Kinerja Karyawan disajikan pada tabel berikut :
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Indikator Kinerja Karyawan (Y)
Sumber : Data primer diolah, 2014.
Skor rata-rata variabel Kinerja Karyawan (Y) sebesar 4,33, sehingga masuk dalam kelas interval >4,2 – 5 yang artinya masuk dalam kategori sangat setuju.
Analisis inferensial Uji Asumsi Klasik
1.     Uji Normalitas
Tabel 4. Hasil Uji Normalitas
Sumber : Data primer diolah, 2014.
Berdasarkan hasil uji normalitas di atas dapat diketahui bahwa nilai signifikan lebih besar dari 0,05 (α=0,05) maka asumsi normalitas terpenuhi.
2.     Uji Linieritas
Pengujian uji linieritas disajikan pada tabel berikut :
Tabel 5. Hasil Uji Linieritas
Hasil pengujian linieritas hubungan antar variabel menunjukkan bahwa adanya hubungan secara linier dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat, dibuktikan dengan nilai signifikansi F yang lebih kecil dari 0,05 (F<0,05) maka dapat disimpulkan bahwa model dalam bentuk model linier.><0,05) maka dapat disimpulkan bahwa model dalam bentuk model linier.
3.     Uji Multikolinieritas
Tabel 6. Hasil Uji Multikolinieritas


Sumber : Data primer diolah, 2014.
Penelitian ini tidak terjadi multikolinieritas karena hasil yang didapatkan yaitu 4,131, dimana hasil tersebut lebih kecil dari 10.

4.     Uji Heterokedastisitas
Tabel 7. Hasil Uji Heterokedastisitas
Sumber : Data primer diolah, 2014.
Penelitian ini dapat diketahui tidak terjadi gejala heterokedastisitas karena seluruh nilai probabilitas adalah lebih besar dari nilai a.
Analisis Regresi Linier Berganda
Tabel 8. Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Sumber : Data primer diolah, 2014
Y = 0,740 + 0,324 X1 + 0,509 X2 0,740 merupakan nilai dari Kinerja Karyawan, hal ini berarti jika Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja sebesar nol, maka besarnya Kinerja Karyawan sebesar 0,740. 0,324 menunjukkan hasil dari Keselamatan Kerja, nilai itu menunjukkan besarnya pengaruh Keselamatan Kerja terhadap Kinerja Karyawan. 0,509 merupakan hasil dari Kesehatan Kerja, nilai itu menunjukkan besarnya pengaruh Kesehatan Kerja terhadap Kinerja Karyawan. Dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja mempunyai pengaruh yang kuat terhadap Kinerja Karyawan sebesar 0,774 atau sebesar 77,4%. Keselamatan dan Kesehatan Kerja juga mampu memberikan kontribusinya terhadap Kinerja Karyawan sebesar 0,585 atau sebesar 58,5% dan sisanya 41,5% yang tidak dicantumkan oleh peneliti.

Hasil Uji Hipotesis
1.     Uji F (Simultan)
43,950>3,15 merupakan hasil perhitungan dari uji F, berdasarkan rumus perhitungan Fhitung lebih besar dari Ftabel yang kesimpulan bahwa hasil yang diperoleh adalah signifikan.
2.     Uji t (Parsial)
2,145>2,000 merupAkan hasil perhitungan dari uji t, berdasarkan rumus perhitungan thitung lebih besar dari ttabel dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh signifikan. 2,623>2,000 adalah hasil dari perhitungan uji t, berdasarkan rumus perhitungan thitung lebih besar dari ttabel dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh signifikan.
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
1. Gambaran Keselamatan Kerja, Kesehatan Kerja, dan Kinerja Karyawan.
a)  Berdasarkan kuesioner yang telah disebarkan kepada 62 karyawan bagian produksi PT. Inti Luhur Fuja Abadi, variabel Keselamatan Kerja diperoleh skor rata-rata sebesar 4,25. Skor tersebut masuk dalam kategori sangat setuju, hal ini menunjukkan bahwa PT. Inti Luhur Fuja Abadi memperhatikan keselamatan kerja karyawannya.
b)  Berdasarkan kuesioner yang telah disebarkan kepada 62 karyawan bagian produksi PT. Inti Luhur Fuja Abadi, variable Kesehatan Kerja diperoleh skor rata-rata sebesar 4,31. Skor tersebut juga masuk dalam kategori sangat setuju, yang berarti PT. Inti Luhur Fuja Abadi memperhatikan kesehatan kerja karyawan.
c)  Berdasarkan kuesioner yang telah disebarkan kepada 62 karyawan bagian produksi PT. Inti Luhur Fuja Abadi, variable Kinerja Karyawan diperoleh skor rata-rata sebesar 4,33 dan masuk dalam kategori sangat setuju, yang dapat disimpulkan bahwa karyawan dapat memenuhi ketentuan perusahaan dalam hal kualitas, kuantitas dan ketepatan waktu.
2. Pengaruh K3 terhadap Kinerja Karyawan.
Diperoleh hasil 43,950>3,15 melalui uji F dengan ketentuan Fhitung > Ftabel, maka dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh adalah signifikan.
3. Pengaruh Keselamatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan.
2,145>2,000 merupkan hasil perhitungan dari uji t, berdasarkan rumus perhitungan thitung lebih besar dari ttabel dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh signifikan.
4. Pengaruh Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan.
2,623>2,000 adalah hasil dari perhitungan uji t, berdasarkan rumus perhitungan thitung lebih besar dari ttabel dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh signifikan.
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.     Dapat disimpulkan bahwa PT. Inti Luhur Fuja Abadi sangat memperhatikan tingkat keselamatan dan kesehatan karyawannya, sehingga kinerja karyawan meningkat/tinggi. Terbukti dari hasil ratarata yang menunjukkan bahwa skor Keselamatan Kerja sebesar 4,25, Kesehatan Kerja sebesat 4,31 dan Kinerja Karyawan mempunyai skor sebesar 4,33. Hasil tersebut merupakan gambaran dari variabel Keselamatan Kerja, Kesehatan Kerja, dan Kinerja Karyawan PT. Inti Luhur Fuja Abadi dan masuk dalam kategori sangat setuju.
2.     Diperoleh hasil 43,950>3,15 melalui uji F dengan ketentuan Fhitung > Ftabel, maka dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh adalah signifikan, dan berkontribusi terhadap Kinerja Karyawan sebesar 58,5% dan sisanya sebesar 41,5% disebabkan oleh variabel lain.
3.     2,145>2,000 merupkan hasil perhitungan dari uji t antara variabel Keselamatan Kerja terhadap Kinerja Karyawan, berdasarkan rumus perhitungan thitung lebih besar dari ttabel dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh signifikan dan mempunyai koefisien regresi sebesar 0,324.
4.     2,623>2,000 adalah hasil dari perhitungan uji t, berdasarkan rumus perhitungan thitung lebih besar dari ttabel dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh signifikan dan mempunyai koefisien regresi terbesar yaitu sebesar 0,509.
B. Saran
  1. Berdasarkan indikator pada variabel Keselamatan Kerja, indikator kondisi tempat kerja mempunyai 3 item. Pada item penyimpanan bahan-bahan berbahaya memiliki skor rata-rata terendah, maka diharapkan pihak perusahaan lebih memperhatikan dan memperbaiki keamanan atau penempatan dari bahanbahan berbahaya.
  2. Berdasarkan indikator yang dijadikan kajian pada variabel Kesehatan Kerja, indikator kebisingan mempunyai 2 item. Pada item suara dari peralatan produksi tidak mengganggu konsentrasi memiliki skor rata-rata terendah, maka diharapkan pihak perusahaan dapat meminimalisir kebisingan di tempat kerja agar para karyawan bisa fokus dalam melakukan pekerjaannya.
  3. Berdasarkan indikator yang dijadikan kajian pada variabel Kinerja Karyawan, indikator kualitas hasil kerja mempunyai 2 item. Pada item ketelitian dalam melakukan pekerjaan memiliki skor ratarata terendah, maka diharapkan pihak perusahaan dapat menerapkan aturan seperti pemotongan upah atau gaji bagi yang tidak teliti dalam melakukan pekerjaannya.
  4. Hendaknya kepada peneliti lain dapat melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor lain yang mempengaruhi Kinerja Karyawan karena dari hasil penelitian Keselamatan dan Kesehatan Kerja memberikan kontribusi sebesar 58,5% sehingga perlu dicari faktor lain yang mempengaruhi Kinerja Karyawan di luar Keselamatan dan Kesehatan Kerja, seperti kepemimpinan dan motivasi.
DAFTAR PUSTAKA
Arianto,H. 2009. Implementasi Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Lex Jurnalica Vol. 7 No.1, Desember 2009. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=178070&val=4569&title=Implementasi%20Undang-Undang%20Keselamatan%20dan%20Kesehatan%20Kerja. Diunduh tanggal 17 Juni 2016.
Dewi,I dkk. 2014. Pengaruh Program Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Terhadap Motivasi Dan Kinerja Karyawan (Studi Pada Karyawan Pt. Ytl Jawa Timur). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 16 No. 1 November 2014|. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=265097&val=6468&title=PENGARUH%20PROGRAM%20KESELAMATAN%20DAN%20KESEHATAN%20KERJA%20TERHADAP%20MOTIVASI%20DAN%20KINERJA%20KARYAWAN%20%20(Studi%20pada%20Karyawan%20PT.%20YTL%20Jawa%20Timur). Diunduh tanggal 17 Juni 2016.
Husni, Lalu. 2005. Hukum Ketenagakerjaan. Edisi Revisi. Jakarta : Raja Grafindo.
Juwitasari, V, dkk. 2014, PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN (Studi Pada Karyawan Bagian Produksi PT. Inti Luhur Fuja Abadi, Beji Pasuruan). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 5 No. 2 Oktober 2014|.
Mathis, Robert L. Jackson John, H. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerjemah : Diana Angelica. Jakarta : Salemba Empat.

Moeheriono. 2010. Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi. Bogor : Ghalia Indonesia. Nawawi, Hadari. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS. Notoatmodjo, Soekidjo. 2009. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Edisi revisi IV. Jakarta : Rineka Cipta.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.