Showing posts with label Tugas A09. Show all posts
Showing posts with label Tugas A09. Show all posts
Tuesday, June 21, 2016
Manajemen Kompensasi
Abstrak
Pentingnya kompensasi sebagai salah satu indikator kepuasan
dalam bekerja sulit ditaksir, karena
pandangan-pandangan karyawan mengenai uang atau imbalan langsung nampaknya
sangat subjektif dan barang kali merupakan sesuatu yang sangat khas dalam
industri.Tetapi pada dasarnya dugaan adanya ketidakadilan dalam memberikan upah
maupun gaji merupakan sumber ketidakpuasan karyawan terhadap kompensasi
yang pada akhirnya bisa menimbulkan
perselisihan dan semangat rendah dari karyawan itu sendiri. Oleh karena sangat
penting sekali untuk suatu perusahaan
menentukan sistem manajemen kompensasi seperti apa yang akan berlaku di
perusahaannya.
Pendahuluan
Management berasal dari kata manage
yang bisa diartikan secara langsung dengan kelola atau mengelola. Kata ini
berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni
melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan
diterima secara universal.
Mary Parker
Follet mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui
orang lain. Berarti seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang
lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ada pula yang mendefinisikan manajemen
sebagai proses perencanaan, pengaturan, pemimpinan dan pengendalian anggota
organisasi dan penggunaan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan (anonim). Sementara Ricky W. Griffin mendefinisikan
manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals)
secara efektif dan efesien.
Manajemen kompensasi merupakan salah satu bidang manajemen
sumber daya manusia yang paling sulit dan menantang karena mengandung banyak umur dan memiliki dampak yang cukup
panjang bagi tujuan-tujuan strategik organisasi. Tantangan yang dihadapi
manajemen adalah menciptakan kondisi untuk memotivasi karyawan agar memberikan
kinerja yang maksimal demi kemajuan perusahaan. Menurut Mondy (2005) kompensasi
adalah total seluruh imbalan yang diterima para karyawan sebagai pengganti jasa
yang telah mereka berikan. Menurut UU Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003,
kompetensi kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek
pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang
ditetapkan.
Pembahasan
Kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang,
barang langsung maupun barang tidak langsung yang diterima karyawan sebagai
imbalan atau jasa yang diberikan pada perusahaan. Serta kompensasi tambahan
finansial atau non finansial yang diberikan berdasarkan kebijaksanaan
perusahaan terhadap semua karyawan dan usaha meningkatkan kesejahteraan mereka
seperti tunjangan hari raya dan uang pensiun.
Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Thomas H. Stone
seperti yang dikutip oleh Moekijat sebagai berikut: “Compensation is any form
of payment to employee for work they provide their employer” (Kompensasi adalah
setiap bentuk pembayaran yang diberikan kepada karyawan sebagai pertukaran
pekerjaan yang mereka berikan kepada majikan) (Suwatno, 2001 : 105). Pendapat
serupa juga dikemukakan oleh Edwin B. Flippo yang dikutip oleh Moekijat yaitu:
“As the and equitable remuniration of personal for their contribution to
organization objectives” (Kompensasi adalah sebagai pemberian imbalan jasa yang
layak dan adil kepada karyawan-karyawan karena mereka telah memberi sumbangan
kepada pencapaian organisasi) (Suwatno, 2001 : 105).
Pembahasan
Menurut
Malayu S.P. Hasibuan (2000 : 121), tujuan pemberian kompensasi (balas jasa)
adalah antara lain :
1. Ikatan Kerja Sama, dengan pemberian kompensasi maka terjalinlah ikatan kerja sama formal
antara majikan dengan bawahan, di mana karyawan harus mengerjakan
tugas-tugasnya dengan baik, sedang pengusaha atau majikan wajib membayar
kompensasi itu sesuai dengan perjanjian yang disepakati.
2. Kepuasan Kerja, dengan balas jasa karyawan akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik,
status, sosial dan egoistiknya sehingga ia memperoleh kepuasan kerja dari
jabatannya itu.
3. Pengadaan Efektif, jika program kompensasi ditetapkan cukup besar, maka pengadaan karyawan
yang qualified untuk perusahaan itu akan lebih mudah.
4. Motivasi, jika
balas jasa yang diberikan cukup besar, manajer akan mudah memotivasi
bawahannya.
5. Stabilitas Karyawan, dengan program kompensasi agar prinsip adil dan layak serta eksternal
konsistensi yang kompentatif maka stabilitas karyawan lebih terjamin karena
turnover relatif kecil.
6. Disiplin, dengan
pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin karyawan semakin baik.
Mereka akan menyadari serta mentaati peraturan-pertaturan yang berlaku.
7. Pengaruh Serikat Buruh, dengan program kompensasi yang baik pengaruh serikat buruh
dapat dihindarkan dan karyawan akan berkonsentrasi pada kerjaannya.
8. Pengaruh Pemerintah, jika program kompensasi itu sesuai dengan undang-undang perburuhan yang
berlaku (seperti batas upah minimum) maka intervensi pemerintah dapat
dihindarkan.
Secara umum
kompensasi memiliki beberapa tujuan, diantaranya:
1. Memperoleh Personalia Yang Qualified
Dalam penarikan karyawan, biasanya calon pekerja yang memiliki kemampuan
yang cakap dalam bekerja akan lebih tertarik pada kompensasi yang lebih tinggi
maka disinilah peran pengusaha untuk Kompensasi perlu ditetapkan cukup tinggi
untuk menarik para pelamar tersebut. Seain itu untuk karyawan yang sudah
bekerja maka kompensasi tinggi akan mendorong karyawan untuk bekerja lebi baik.
2. Mempertahankan Para Karyawan Yang Ada
Sekarang
Apabila kita menginginkan kayawan baik kita tidak keluar atau berpindah
ke perusahaan lain maka tingkat kompensasi harus dijaga agar tetap kompetitif
3. Menjamin Keadilan
Administrasi pengupahan dan penggajian berusaha untuk memenuhi prinsip
keadilan. Keadilan atau konsistensi internal dan eksternal sangat penting
diperhatikan dalam penentuan tingkat kompensasi.
4. Menghargai Perilaku Yang Diinginkan
Kompensasi seharusnya mendorong perilaku-perilaku yang diinginkan untuk
kemajuan perusahaan. Prestasi kerja yang baik, pengalaman, kesetiaan, tanggung
jawab baru dan perilaku-perilaku lain dapat dihargai melalui rencana kompensasi
yang efektif.
5. Mengendalikan Biaya-biaya
Suatu program kompensasi yang rasional membantu organisasi untuk
mendapatkan dan mempertahankan sumber daya manusianya pada tingkat yang layak
untuk bekerja, Tanpa struktur pengupahan
dan penggajian sistematik organisasi dapat membayar kurang (underpay) atau
lebih (overpay) kepada para karyawannya.
6. Memenuhi Peraturan-peraturan Legal
Administrasi kompensasi diharapkan memenuhi batasan-batasan legal Negara
seperti peraturan UU tentang ketenagakerjaan yaitu UU no. 13 tahun 2003.
Komponen-komponen
dari keseluruhan program gaji secara umum dikelompokkan kedalam kompensasi
finansial langsung, tak langsung dan non finansial :
1. Kompensasi finansial secara langsung
berupa; bayaran pokok (gaji dan upah), bayaran prestasi, bayaran insentif
(bonus, komisi, pembagian laba/keuntungan dan opsi saham) dan bayaran
tertangguh (program tabungan dan anuitas pembelian saham)
2. Kompensasi finansial tidak langsung
berupa; program-program proteksi (asuransi
kesehatan, asuransi jiwa, pensiun, asuransi tenaga kerja), bayaran
diluar jam kerja (liburan, hari besar, cuti tahunan dan cuti hamil) dan
fasilitas-fasilitas seperti kendaran,ruang kantor dan tempat parkir.
3. Kompensasi non financial, berupa
pekerjaan (tugas-tugas yang menarik, tantangan, tanggung jawab, pengakuan
dan rasa pencapaian). Lingkungan kerja
(kebijakan-kebijakan yang sehat, supervise yang kompoten, kerabat yang
menyenangkan, lingkungan kerja yang nyaman).
Sistem Kompensasi sebaiknya dilakukan sebagai berikut:]
1. Bersaing (competitive)
2. Mengakui karyawan sebagai “Income Producing Assets”
3. Jangan terpengaruh oleh praktek akuntansi yang menganggap
gaji dan upah sebagai “liabilities”
4. Kompensasi harus mendukung manajemen produktivitas
5. “Payroll Cost” harus dikelola dan dikaitkan dengan
keberhasilan bisnis
6. Diketahui perincian pembayaran kempensasi sebagai:- Direct
cost - Opportunity cost: profit sharing- Investment Return: insentive bagi
karyawan yang melebihi standar.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Kompensasi :
1. Faktor Intern Organisasi
Faktor intern organisasi yang
mempengaruhi besarnya kompensasi adalah:
A. Dana Organisasi
Terhimpunnya dana tentunya sebagai
akibat prestasi-prestasi kerja yang telah ditujukan oleh karyawan. Maka Makin
besarnya prestasi kerja maka makin besar pula keuntungan organisasi/perusahaan.
Besarnya keuntungan perusahaan akan memperbesar himpunan dana untuk kompensasi,
maka pelaksanaan kompensasi akan makin baik. Begitu pula sebaliknya.
B. Serikat pekerja
Para pekerja yang tergabung dalam
seikat pekerja juga dapat mempengaruhi pelaksanaan atau penetapan kompensasi
dalam suatu perusahaan. Serikat pekerja dapat menjadi simbol kekuatan pekerja
di dalam menuntut perbaikan nasib. Keberadaan serikat pekerja perlu mendapatkan
perhatian atau perlu diperhitungkan oleh pihak manajemen.
2. Faktor Pribadi Karyawan
A. Produktivitas kerja
Produktivitas kerja dipengaruhi oleh prestasi kerja. Prestasi
kerja merupakan faktor yang diperhitungkan dalam penetapan kompensasi. Pengaruh
ini memungkinkan karyawan pada posisi dan jabatan yang sama mendapatkan
kompensasi yang berbeda. Pemberian kompensasi ini dimaksud untuk meningkatkan
produktivitas kerja karyawan.
B.
Posisi
dan Jabatan
Posisi dan jabatan berbeda berimplikasi pada perbedaan
besarnya kompensasi. Posisi dan jabatan seseorang dalam organisasi menunjukkan
keberadaan dan tanggung jawabnya dalam hierarki organisasi. Semakin tinggi
posisi dan jabatan seseorang dalam organisasi, semakin besar tanggung jawabnya,
maka semakin tinggi pula kompensasi yang diterimanya.
C.
Pendidikan
dan Pengalaman
Selain posisi dan jabatan, pendidikan dan pengalaman kerja
juga merupakan faktor yang mempengaruhi besarnya kompensasi. Pegawai yang lebih
berpengalaman dan berpendidikan lebih tinggi akan mendapat kompensasi yang
lebih besar dari pegawai yang kurang pengalaman dan atau lebih rendah tingkat
pendidikannya. Pertimbangan faktor ini merupakan wujud penghargaan organisasi
pada keprofesionalan seseorang. Pertimbangan ini juga dapat memacu karyawan untuk
meningkatkan pengetahuannya.
D.
Jenis
dan Sifat Pekerjaan
Besarnya kompensasi pegawai yang bekerja di lapangan berbeda
dengan pekerjaan yang bekerja dalam ruangan, demikian juga kompensasi untuk
pekerjaan klerikal akan berbeda dengan pekerjaan adminsitratif. Begitu pula
halnya dengan pekerjaan manajemen berbeda dengan pekerjaan teknis. Pemberian
kompensasi yang berbeda ini selain karena pertimbangan profesionalisme pegawai
juga karena besarnya resiko dan tanggung jawab yang dipikul oleh pegawai yang
bersangkutan. Sebagai contoh, kebanyakan organisasi/perusahaan pegawai yang
bertugas di lapangan biasanya mendapatkan kompensasi antara 2-3 kali lipat dari
pekerjaan di dalam ruangan/kantor. Besarnya kompensasi sejalan dengan besarnya
resiko dan tanggung jawab yang dipikulnya.
3. Faktor Ekstern
A. Penawaran dan Permintaan kerja
Mengacu pada hukum ekonomi pasar bebas, kondisi dimana
penawaran (supply) tenaga kerja ebih dari permintaan (demand) akan menyebabkan
rendahnya kompensasi yang diberikan. Sebaiknya bila kondisi pasar kerja
menunjukkan besarnya jumlah permintaan tenaga kerja sementara penawaran hanya
sedikit, maka kompensasi yang diberikan akan besar. Besarnya nilai kompensasi
yang ditawarkan suatu organisasi merupakan daya tarik calon pegawai untuk
memasuki organisasi tersebut. Namun dalam keadaan dimana jumlah tenaga kerja
lebih besar dari lapangan kerja yang tersedia, besarnya kompensasi sedikit
banyak menjadi terabaikan.
B.
Biaya
hidup
Besarnya kompensasi terutama upah/gaji harus disesuaikan
dengan besarnya biaya hidup (cost of living). Yang dimaksud biaya hidup disini
adalah biaya hidup minimal. Paling tidak kompensasi yang diberikan harus sama
dengan atau diatas biaya hidup minimal. Jika kompensasi yang diberikan lebih
rendah dari biaya hidup minimal, maka yang terjadi adalah proses pemiskinan
bangsa.
C.
Kebijaksanaan
Pemerintah
Sebagai pemegang kebijakan, pemerintah berupaya melindungi
rakyatnya dari kesewenang-wenangan dan keadilan. Dalam kaitannya dengan
kompensasi, pemerintah menentukan upah minimum, jam kerja/hari, untuk pria dan
wanita, pada batas umur tertentu. Dengan peraturan tersebut pemerintah menjamin
berlangsungnya proses pemakmuran bangsa hingga dapat mencegah praktek-praktek
organisasi yang dapat memiskinkan bangsa.
D.
Kondisi
Perekonomian Nasional
Kompensasi yang diterim oleh pegawai di negara-negara maju
jauh lebih besar dari yang diterima negara-negara berkembang dan atau negara
miskin. Besarnya rata-rata kompensasi yang diberikan oleh organsasi-organisasi
dalam suatu negara mencerminkan kondisi perekonomian negara tersebut dan
penghargaan negara terhadap sumber daya manusianya.
Tantangan Yang Mempengaruhi Kebijakan
Kompensasi :
a. Suplai dan Permintaan Tenaga Kerja
Beberapa jenis pekerjaan mungkin harus dibayar lebih tinggi
daripada yang ditunjukkan oleh nilai relatifnya karena desakan kondisi pasar.
Sebagai contoh, pada tahun 1970-an, kelangkaan tenaga akuntan menyebabkan
perusahaan (organisasi) harus memberikan tunjangan kelangkaan disamping
kompensasi dasar untuk memperoleh tenaga kerja akuntan.
b. Produktivitas
Perusahaan harus memperoleh laba untuk menjaga kelangsungan
hidup dan tumbuh. Tanpa hal ini, perusahaan tidak akan bias bersaing lagi. Oleh
karena itu, perusahaan tidak dapat membayar para karyawannya melebihi
kontribusi mereka kepada perusahan melalui produktivitas mereka. Bila ini
terjadi (bisa karena kelangkaan atau kekuatan serikat karyawan), perusahaan
biasanya merancang kembali pekerjaan-pekerjaan, melatih para karyawan baru
untuk menaikkan suplai atau melakukan automaisasi.
c. Kesediaan untuk membayar
Bukan merupakan suatu pernyataan yang berlebihan bahwa perusahaan
sebenarnya ingin membayar kompensasi secara adil dan layak. Oleh karena itu,
perusahaan juga merasa bahwa para karyawan seharusnya melakukan pekerjaan
sesuai dengan upah yang mereka terima. Manajemen perlu mendorong para karyawan
untuk meningkatkan produktivitas mereka agar kompensasi yang lebih tinggi dapat
dibayarkan.
d. Berbagai kebijaksanaan pengupahan dan
penggajian
Hampir semua organisasi mempunyai kebijaksanaan yang
mempengaruhi pengupahan dan penggajian. Salah satu kebijaksanaan yang umum
adalah memberikan kenaikan upah yang sama besarnya pada karyawan angota
serikat buruh maupun karyawan yang bukan
angota serikat. Banyak perusahaan mempunyai kebijaksanaan pembayaran bonus
(premium) diatas upah dasar untuk meminimumkan perputaran karyawan atau untuk
menarik para karyawan terbaik. Perusahaan-perusahaan lain mungkin juga
menetapkan kenaikan kompensasi secara otomatis bila indeks biaya hidup naik.
e. Kendala-kendala pemerintah
Tekanan-tekanan eksternal dari pemerintah dengan segala
peraturannya mempengaruhi penetapan kompensai perusahaan. Peraturan upah
minimum, upah kerja lembur, dan pembatasan umur untuk tenaga kerja anak-anak
merupakan beberapa contoh kendala kebijaksanaan kompensasi yang berasal dari
pemerintah
Keadilan dan kelayakan Dalam Pemberian Kompensasi
Selain hal-hal diatas, dalam
pemberian kompensasi perlu dipertimbangkan unsur keadilan dan kelayakan.
1. Keadilan
Dalam pemberian kompensasi apakah itu berupa upah, gaji,
bonus atau bentuk-bentuk lainnya, penting sekali diperhatikan masalah keadilan
terebut. Keadilan bukan berarti sama rasa sama rata tanpa pandang bulu, tetapi
harus terkait adanya hubungan antara pengorbanan (input) dengan output.
Semakin tinggi pengorbanan, semakin
tinggi penghasilan yang diharapkan, sehingga oleh karenanya yang harus dinilai
adalah pengorbanan (input) yang diperlukan suatu jabatan. Input dalam satu
jabatan ditujukan dari persyaratan-persyaratan (spesifikasi) yang harus
dipenuhi oleh orang yang memangku jabatan tersebut. Oleh karena itu semakin
tinggi pula penghasilan (output) yang diharapkan. Output ini ditunjukkan dari
upah yang diterima para karyawan yang bersangkutan, dimana didalamnya tercantum
rasa keadilan yang sangat diperhatikan oleh setiap karyawan penerima kompensasi
tersebut. Bila tuntutan keadilan seperti seperti ini telah terpenuhi ini
berarti perusahaan telah memiliki internal consistency dalam sistem
kompensasinya.
2. Kelayakan
Di samping masalah keadilan dalam
pemberian kompensasi perlu diperhatikan masalah kelayakan. Pengertian layak ini
berkaitan dengan standar hidup seperti kebutuhan pokok minuman atau upah
minimum sesuai dengan ketentuan pemerintah. Kelayakan juga dilihat dengan cara
membandingkan pengupahan di perusahaan lain. Bila kelayakan ini sudah tercapai,
maka perusahaan sudah mencapai apa yang disebut external consistency
(Konsistensi Eksternal). Apabila upaya
di dalam perusahaan yang bersangkutan lebih rendah dari perusahaan-perusahaan
lain, maka hal ini dapat mengakibatkan kesulitan bagi perusahaan untuk
memperoleh tenaga kerja. Oleh karena itu untuk memenuhi kedua konsistensi
tersebut (internal dan eksternal) perlu digunakan suatu evaluasi pekerjaan
Kesimpulan
Dalam manajemen kompensasi terdapat
proses-proses yang dilakukan agar didapatkan sistem manajemen yang sesuai
dengan keadaan perusahaan. Manajemen kompensasi tidak hanya memiliki tujuan
membuat berbagai aturan dan hanya memberikan petunjuk saja. Namun, semakin
banyak tujuan perusahaan dan tujuan pemberian kompensasi juga harus diikuti
dengan semakin efektif manajemen penggajian dan pengupahan. Peusahaan
manufaktur yang mempunyai strategi untuk memeriksa dan menerapkan praktik organisasi dan manajemen yang
inovatif, mempunyai cara-cara dalam pengimplementasiannya seperti berikut ini:
1.Pekerjaan individual dan deskripsi
pekerjaan diubah menjadi pendekatan tim kerja
2.Melaksanakan pengaturan kualitas
pekerja
3.Program imbalan kerja berbasis
kinerja
Daftar Pustka
8. http://hendrihrd.blogspot.co.id/2009/05/manajemen-kompensasi.html
Sunday, June 19, 2016
MANAJEMEN KOMPENSASI
Oleh: Nadia Amira Hapsari
ABSTRAK
Manajemen kompensasi untuk meningkatkan motivasi kerja setiap
karyawanya. Oleh karena itu perlu adanya pengertian tentang kompensasi.
Kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima para karyawan sebagai balas jasa
untuk kerja mereka. Kompensasi juga merupakan salah satu cara yang paling
efektif bagi departemen personalia guna meningkatkan prestasi kerja, motivasi
serta kepuasan kerja karyawan. Sistem kompensasi yang baik akan mampu
memberikan kepuasan bagi karyawan dan memungkinkan perusahaan memperoleh,
mempekerjakan, dan mempertahankan karyawan.Sebagian besar masyarakat khususnya
karyawan menganggap kompensasi sangat penting, sebab besarnya kompensasi bagi
mereka mencerminkan ukuran nilai karya mereka diantara para karyawan itu
sendiri, keluarga dan masyarakat. Tingkat kompensasi absolut karyawan
menentukan skala kehidupannya, sedangkan kompensasi relatif menunjukkan status,
martabat, dan harga diri mereka. Jadi bila para karyawan memandang kompensasi
mereka tidak memadai, prestasi kerja, motivasi dan kepuasan kerja mereka bias
turun secara dramatis. Sedangkan motivasi adalah proses yang menjelaskan
intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga
elemen utama dalam definisi ini diantaranya adalah intensitas, arah, dan
ketekunan.
Monday, June 6, 2016
artikel
kepuasan Kerja ( Job Satisfaction )
Kepuasan kerja adalah bentuk perasaan dan ekspresi
seseorang ketika mampu atau tidak mampu memenuhi harapan dari proses kerja dan
kinerjanya. Kepuasan kerja adalah suatu keadaan emosional yang menyenangkan
yang dihasilkan dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja .
Wexley dan Yukl mengartikan kepuasan kerja sebagai
“ the way an employee feels about his or her job”. Artinya bahwa kepuasan kerja
adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya, dapat disimpulkan
bahwa kepuasan kerja adalah perasaan yang menyokong atau tidak menyokong dalam
diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaan maupun kondisi dirinya.
Definisi kepuasan kerja
Davis dan Werther mengatakan bahwa kepuasan kerja
adalah keadaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana para karyawan
memangdang pekerjaan mereka. Serta kepuasan kerja adalah tingkat dimanan
individu merasakan positif atau negative tentang suatu pekerjaan.
Robbins (2001) mengemukakan bahwa kepuasan kerja
adalah sebagai suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya.
Pekerjaan menurut interaksi dengan rekan sekerja dan atasan, mengikuti aturan
dan kebijakan organisasi, memenuhi standar kinerja, hidup pada kondisi kerja
yang sering kurang dari ideal, dan hal serupa lainnya.
Gibson, Ivanevich dan Donnely mengatakan bahwa kepuasan kerja adalah ungkapan perasaan
seseorang tentang kesejahteraanuntuk melakukan pekerjaan bahwa kepuasan kerja
adalah sikap seseorang terhadap pekerjaan.
Bahwa sikap itu berasal dari persepsi mereka tentang pekerjaan, persepsi itu
adalah proses kognitif (pemberian arti)yang digunakan oleh seseorang untuk
menafsirkan dan memahami cara pandang individu dalam melihat hal yang sama
dengan cara yang berbeda. Kepuasan kerja juga adalah sebagai hasil dari
persepsi karyawan mengenai seberapa baik pekerjaan merekadan memberikan hal
yang dinilai penting.
Koesmono (2005) mengemukakan bahwa kepuasan kerja
merupakan penilaian, perasaan atau sikap seseorang atau karyawan terhadap
pekerjaannya dan berhubungan dengan lingkungan kerja dan sebagainya. Sehingga
dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja adalah dipenuhinya beberapa keinginan dan
kebutuhannya melalui kegiatan kerja atau bekerja.
Berdsasarkan pendapat para ahli mengenai definisi
konsep kepuasan kerja dan menurut hemat penulis, kepuasan kerja adalah sikap
positif dan perasaan yang menyenangkan erhadap pekerjaan, gaji, supervise,
rekan kerja dan hal-hal yang menyangkut
dunia kerjanya.
Teori kepuasan kerja menurut Wexle dan Yukl
a.
Discrepancy theory
Teori ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan
menghitung selisih antara apa yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan.
b. Equity theory
Prinsip dari teori ini adalah bahwa orang akan
merasakan adanya keadilan (equity) atau tidak atas suatu situasi. Perasaan
equity dan inequityatas suatu situasi.
Ada tiga elemen dari teori equity yaitu :
Input
adalah segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai sumbangan
terhadap pekerjaan.
Out comes
segala sesuatu yang berharga, yang dirasakan karyawan sebagai “hasil” dari
pekerjaannya.
Comparison person adalah kepada orang lain dengan
siapa karyawan membandingkan rasio
input-out comes yang dimiliknya.
c. Two factor theory
Menurut Herzberg (dalam Munandar, 2001) teori
kepuasan kerja yang ia namakan teori dua faktor terdiri dari faktor hygienedan
faktor motivator.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
Beberapa ahli berpendapat mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan kerja. Faktor–faktor kepuasan kerja menurut
Greenberg & Baron (1995) ada 2 faktor yaitu:
a.Faktor-faktor organisasional
1)Sistem penggajian
2) Kualitas dari supervisi
3). Desentralisasi kekuasaan
4). Tingkat kerja dan dorongan sosial
5). Kondisi kerja yang menyenangkan
b. Faktor Personal
1). Variabel kepribadian
2). Status dan senioritas
3). Pekerjaan yang sesuai dengan minat
4). Kepuasan hidup
Selanjutnya Robbins (1996) menjelaskan lagi
beberapa faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja diantaranya :
a. Tantangan kerja
b. Sistem gaji yang adil
c. Kondisi kerja yang mendukung
d. Rekan kerja yang mendukung
Menurut Spector (1997) aspek-aspek kepuasan kerja
ada 2 faktor yaitu instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor-faktor ini
dijadikan sebagai indikator dalam penelitian ini dalam skala kepuasan kerja.
Factor Interinsik
1. Activity : Seberapa jauh pekerjaan tersebut tetap dapat meyibukkan individu
2. Independence : Kewenangan untuk dapat bekeja
sendiri
3. Variety : Kesempatan untuk melakukan pekerjaan
yang berbeda-beda
4. Social status : Pengakuan masyarakat luas
tentang status pekerjaan
5. Moral values : Pekerjaan tidak berhubungan
dengan segala sesuatu yang dapat mengganggu hati nurani
6. Security Kepastian kerja yang diberikan
7. Social service : Kesempatan untuk membantu
orang lain mengerjakan tugas
8. Authority : Memiliki kekuasaan terhadap orang
lain
9. Ability utilization : Kesempatan untuk
menggunakan kemampuan yang ada
10. Responsibility :Tanggung jawab dalam membuat
keputusan dan tindakan
11. Creativity : Kebebasan untuk mengungkapkan ide
yang baru
12. Achievement : Perasaan yang didapat ketika
menyelesaikan suatu tugas
Aspek dan factor Eksterinsik
1. compensation Besarnya imbalan atau upah yang
diterima
2. Advancement ; Kesempatan untuk memperoleh
promosi
3. Coworkers ; Seberapa baik hubungan antara
sesama rekan kerja
4. Human relations supervisions : Kemampuan atasan
dalam menjalin hubungan interpersonal
5. Technical supervisions : Kemampuan atau skill
atasan menyangkut segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan
6. Company policies and practice : Seberapa jauh
perusahaan menyenangkan para pekerja
7. Working conditions : Kondisi pekerjaan seperti
jam kerja, temperatur, perlengkapan kantor serta lokasi pekerjaan
8. Recognition : Pujian yang diperoleh ketika
menyelesaikan pekerjaan yang baik.
Ada
lima komponen utama kepuasan kerja yaitu:
1) Sikap
terhadap kelompok kerja
2) Kondisi
umum pekerjaan
3) Sikap
terhadap perusahaan
4)
Keuntungan secara ekonomi
5) Sikap
terhadap manajemen
Dimensi dan Aspek-aspek kepuasan kerja
Berdasarkan konsep para hali terdapat tiga dimensi
dalam kepuasan kerja yaitu;
1) Kepuasan
kerja merupakan respion emosional terhadap situasi kerja maka dengan demikian bahwa kepuasan kerja dapat
dilihat dan diduga.
2)Kepuasan kerja sering dituntut menurut seberapa
baik hasil yang dicapai yang memenuhi atau melampaui harapan. Misalnya jika
seorang anggota oraganisasi merasa bahwa mereka bekerja terlalu keras dari pada
yang lain dalam suatu department tetapi meneroma penghargaan lebih sedikit maka
mungkin mereka makan memiliki sikap negatif pada perusahaan. rekan kerja dan
mereka tidak puas. serta sebaliknya.
3) Kepuasan kerja mewakili sikap yang berhubungan
selama bertahun-tahun. Luthans (2005) menyatakan bahwa ada sejumlah faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja. Hal-hal utama dengan mengingat dimensi-dimensi
paling penting yaitu gaji, pekerjaan itu sendiri, promosi, pengawasan, kelompok
kerja dan kondisi kerja.
5 DIMENSI
KEPUASAN KERJA
Nelson and
Quick (2006) mengungkapkan bahwa
kepuasan kerja dipengaruhi 5 dimensi
spesifik dari pekerjaan yaitu gaji, pekerjaan itu sendiri, kesempatan
promosi, supervisi dan rekan kerja.
Gaji :
sejumlah upah yang diterima dan tingkat dimana hal ini bisa diangap sebagai hal
yang pantas dibandingkan dengen orang lain di dalam organisasi. Karyawan
memandang gaji sebagai refleksi dari bagaimana manajemen memandang kontribusi
mereka terhadap perusahaan.
Promosi merupakan factor yang berhubungan dengan
ada atau tidaknya kesempatan memperoleh peningkatan karier selama bekwerja.
Kesempatan inilah yang memiliki pengaruh yang berbeda pada kepuasan kerja.
Supervise merupakan kemampuan atasan untuk
memberikan bantuan teknis dan dukungan prilaku kepada bawahan yang mengalami
permasalahan dalam pekerjaan.
Rekan Kerja merupakan tungakat dimana rekan kerja
yang pandai dan mendukung secara social merupakan factor yang berhubungan
dengan hubungan antara pegawai dan atsannya dan dengan pegawai lainnya baik
yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaan.
Aspek aspek Kepuasan kerja
a. Aspek
Psikologis yang berhubungan dengan kejiwaandan minat, ketentraman kerja dan
sikap kerja, bakat dan ketrampilan dari karyawan.
b. Aspek
social berhubungan dengan interaksi social baik antar sesame karyawan maupun
antar karyawan yang berbeda jenis kerja serta hubungan dengan anggota keluarga.
c. Aspek
fisi berhungbungan dengan kondisi tubuhnya meliputi juga jenis pekerjaanya
pengaturan kerja, pengaturan waktu istirahat dan keadaan ruangan, kondisi
kesehatan dan umur.
d. Aspek
Finasial berhubungan dengan jaminan ddan kesejatheraan yang melipti system
besaran gaji, jaminan social, tunjangan faislitas dan promosi.
·
Komitmen Organisasi
·
Organanizational Behavior adalah ketika individu membantu individu lain
secara berhati-hati tanpa mengharapkan peghargaan dengan asas asasnya yaitu
mengutamakan orang lain, kehormatan, ketilitian, Civic virtue, Peace making.
·
Employee Well-Being yaitu kepuasan kerja mempengaruhi kesejahteraan
karyawanpersaan bahagia , sehat, sukses seorang karyqawan adalah konsekuensi
kepuasan kerjanya.
·
Stress Kerja selain konsekuensi dari job satisfaction yaitu orang yang
tidak puas akan mengalami stress kerja tinggi yang diistilahkan dengan distress
dan sebaliknya eustress untuk yang memiliki kepuasan kerja.
Daftar Pustaka
Waluyo, Minto. (2013). Psikologi Industri.
Jakarta: Akademia Permata
Koesmono, Teman. (2005). Pengaruh budaya
organisasi terhadap motivasi dan kepuasan kerja serta kinerja karyawan pada sub
sektor industri pengolahan kayu skala menengah di Jawa Timur. Jurnal Manajemen
dan Kewirausahaan. Vol. 07. Hal 171-188.
Johan, Rita. (2002). Kepuasan kerja karyawan dalam
lingkungan institusi pendidikan. Jurnal Pendidikan Penabur, Vol.01, Hal 6-31.
Situmorang, Benyamin. (2014). Pengaruh perilaku
inovatif dan kepemimpinan pembelajaran terhadap Kepuasan Kerja Kepala SMP di
Medan. Elementary School Journal. Vol. 01. Hal 26-41.
Muzayanah, A., Dian, N. (2008). Hubungan antara
kecerdasan interpersonal dengan kepuasan kerja karyawan (guru). Jurnal Soul.
Vol. 01. Hal 32-46.
Wednesday, May 25, 2016
Manajemen Kompensasi
PENGERTIAN KOMPENSASI
Kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung maupun barang tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atau jasa yang diberikan pada perusahaan.
Kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung maupun barang tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atau jasa yang diberikan pada perusahaan.
Manajemen Kompensasi dan MSDM
Kompensasi adalah seluruh imbalan yang
diterima karyawan atas hasil kerja karyawan tersebut pada organisasi.
Manajemen Kompensasi
Kompensasi menurut Hasibuan (2006) adalah
semua pendapatan yan berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsun yang
diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan.
Kompensasi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia
Kompensasi
adalah segala sesuatu yang diterima para karyawan sebagai balas jasa untuk
kerja mereka. Kompensasi juga merupakan salah satu cara yang paling efektif
bagi departemen personalia guna meningkatkan prestasi kerja, motivasi serta
kepuasan kerja karyawan.
Manajemen Kompensasi
A. KOMPENSASI
1. Pengertian
Kompensasi
Kompensasi mengandung arti yang lebih luas
daripada upah atau gaji. Upah atau gaji lebih menekankan pada balas jasa yang
bersifat finansial, sedangkan kompensasi mencakup balas jasa finansial maupun
non-finansial. Kompensasi merupakan pemberian balas jasa, baik secara langsung
berupa uang (finansial) maupun tidak langsung berupa penghargaan
(non-finansial).
Pengaruh Manajemen Kompensasi Terhadap Karyawan
Oleh:
Adrina Wita Hilderia S
ABSTRAK
Kompensasi adalah semua pendapatan
yang berbentuk uang, barang langsung maupun barang tidak langsung yang diterima
karyawan sebagai imbalan atau jasa yang diberikan pada perusahaan.
Subscribe to:
Posts (Atom)








