Showing posts with label Y37-Tarma. Show all posts
Showing posts with label Y37-Tarma. Show all posts
Thursday, June 23, 2016
Friday, June 17, 2016
STUDI LITERATUR KEPUASAN KERJA TERHADAP TURNOVER INTENTION (Jurnal)
STUDI
LITERATUR KEPUASAN KERJA TERHADAP TURNOVER INTENTION
Tarma
Wijaya
Fakultas
Teknik, Universitas Mercu Buana, Jakarta
tarma.wijaya.tw@gmail.com
The rapid economic
growth nowadays lead the organization to improve their performance.
Individual’s tendecy to do job shopping constraint in retaining their best
employee. Job shopping can lead to low productivity that caused onrganization’s
performance. One way to retain the best employees is considering the job
satisfaction’s aspects. This study aimed to determine the relationship betweem
job satisfaction on turnover intention. The method of this study using
qualitative approach with literature studies as data collection technique. The
researcher find that there is significant correlation between job satisfaction
on turnover intention from previous researches.
Keyword: turnover intention, job satisfaction, literature
study
Pesatnya pertumbuhan
ekonomi saat ini mengakibatkan organisasi dituntut untuk meningkatkan performanya
dalam persaingan bisnis. Kecenderungan individu untuk berpindah pekerjaan
menjadi salah satu kendala organisasi dalam mempertahankan karyawan terbaiknya.
Berpindahnya karyawan dapat mengakibatkan produktivitas yang rendahsehingga
menjadi salah satu masalah performa organisasi. Salah satu cara untuk
mempertahankan karyawan terbaiknya adalah dengan memperhatikan aspek-aspek yang
ada dalam kepuasan kerja. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
antara kepuasan kerja terhadap niat untuk keluar. Metode penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengambilan data berupa studi
literatur. Peneliti menyimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara
kepuasan kerja terhadap niat untuk keluar dari penelitian-penelitan sebelumnya.
Kata kunci: intensi
untuk keluar,kepuasan kerja,studi
literatur
Dalam situasi bisnis yang semakin rumit
dan perubahan yang cepat dan persaingan
yang meningkat seperti saat ini,
organisasi menghadapi pergeseran bertahap dalam hubungan karyawan dengan organisasi.
Kesetiaan terhadap organisasi dilaporkan menurun sejalan dengan tingkat turnover, rata-rata masa kerja menurun,
dan karyawan melakukan “job shopping” (Newmark, 2001).Banyak
penelitian yang mengungkapkan akibat negatif dari turnover karyawan. Biaya pengeluaran, baik yang langsung maupun
tidak langsung, berkaitan dengan turnover.
Pengeluaran tidak hanya dari rekrutmen dan pelatihan, namun juga gangguan operasional
kerja dan demoralisasi bagi karyawan yang masih menetap (Randhawa, 2007). Oleh karena itu, mempertahankan karyawan yang
berharga adalah masalah penting untuk organisasi yang kompetitif di mana
karyawan dinilai sebagai aset yang berharga dalam organisasi. Biasanya ini
menjadi perhatian penting bagi organisasi untuk menempatkan energinya untuk
mempertahankan karyawan yang telah mereka miliki (Hong & Kaur, 2008).
Untuk memprediksi turnover yang akan terjadi dapat
dilihat dari pengukuran intensi untuk keluar. Mobley (1977) mendefenisikan intensi untuk keluar sebagai
sebuah motivasi untuk meninggalkan pekerjaan dengan sukarela. Walaupun intensi
untuk keluar mungkin tidak diwujudkan dalam turnover
yang sesungguhnya, namun adalah hal yang umum diterima bahwa intensi untuk
keluar individual dapat digunakan untuk memprediksi turnover yang seseungguhnya (Price, 2001). Aspek yang ada dalam
turnover intention adalah segala pemikiran untuk berhenti dari pekerjaan,
segala perbuatan untuk mencari alternatif pekerjaan baru, dan kecenderungan
untuk berhenti dari pekerjaan.
Salah satu faktor yang menyumbang peranan
dalam mencegah turnover karyawan
adalah dengan memperhatikan kepuasan kerja karyawannya. Greenberg & Baron
(1997) mengatakan bahwa, kepuasan kerja adalah respon psikologis, emosional,
dan evaluatif yang individu miliki terhadap pekerjaannya. Menurut Cranny, Smith dan Stone (1992), kepuasan
kerja adalah sebuah kombinasi dari reaksi kognitif dan afektif terhadap
perbedaan persepsi antara apakah yang karyawan ingin terima dibandingkan dengan
apakah yang karyawan benar-benar terima.
Herzberg (dalam Sowmya &
Panchanatham, 2011) mengemukakan 2 (dua)
dimensi dari kepuasan kerja yaitu motivator
dan higine. Faktor motivator (faktor ekstrinsik) adalah
elemen yang berhubungan dengan tugas dan kewajiban dari pekerjaan yang dilakukan seperti
tanggung jawab, rangsangan kerja, pertumbuhan pengakuan, kemajuan, dan prestasi
kerja. Sedangkan faktor hygine
(faktor intrinsik) merupakan semua elemen kerja yang berhubungan dengan
pekerjaan itu sendiri seperti penghasilan, rekan kerja, kebijaksanaan dan
administrasi perusahaan serta pengawasan. Namun menurut Herzberg, faktor hygine tidak mampu memotivasi karyawan
namun dapat meminimalisasi ketidakpuasan jika ditangani dengan tepat.
Baron dan Greeenberg (1997) mengemukakan
3 (tiga) penyebab utama dalam kepuasan kerja yaitu (1) faktor yang berkaitan
dengan prosedur dan kebijakan organisasi, termasuk di dalamnya tipe dari sistem
reward dan bagaimana mereka
terdistribusikan, kebijakan organisasi yang spesifik, dan kualitas dari
supervisi, (2) faktor yang berhubungan dengan aspek spesifik dari pekerjaan
atau setting kerja, (3) faktor yang
berkaitan dengan karekteristik personal dari karyawan.
Gibson ,
Ivancevich, Donnel & Konopaske (2003) menyatakan bahwa kepuasan
kerja memiliki banyak dimensi yang cukup kompleks. Beberpa dimensi yang sering
dipakai dalam penelitian adalah 5 (lima) aspek yang mengacu pada JDI (Job Description Index) yang dikemukakan
oleh Smith, Kendal, dan Hulin pada tahun 1969.
Kelima aspek tersebut adalah pekerjaan itu sendiri (work it-self), rekan kerja (co-workers),
promosi (promotions), gaji/upah (pay), dan atasan (supervisions) (Dibboye, Smith, & Howell, 1994).
Aspek pekerjaan itu sendiri mengarah kepada kesesuaian antara
keinginan dari para pekerja dan dimensi inti pekerjaan yang terdiri dari ragam
keterampilan, identitas pekerjaan, keberartian pekerjaan, otonomi serta umpan
balik. Dengan demikian semakin besarnya keragaman aktivitas pekerjaan yang
dilakukan, maka individu akan merasa pekerjaannya semakin berarti dan tidak
menyebabkan bosan.
Aspek supervisi adalah sebuah usaha untuk memimpin dengan
mengarahkan orang lain sehingga dapat menjalankan tugas dengan lebih baik.
Aktivitas supervisi meliputi memilih orang yang tepat untuk sebuah pekerjaan,
menimbulkan minat orang lain terhadap pekerjaan dan mengajarkan bagaimana harus
melakukan pekerjaannya, mengukur dan menilai hasil kerjanya, mengadakan koreksi
dan memindahkan orang kepada pekerjaan yang lebih sesuai bahkan memberhentikan
individu yang tidak mampu melakukan pekerjaanya dengan baik, memberi pujian dan
penghargaan dan menyelaraskan setiap orang kedalam sebuah kerja sama yang
sinergi.
Aspek imbalan merupakan salah satu faktor yang dapat
digunakan untuk meningkatkan prestasi kerja, memotivasi dan kepuasan kerja. Ada
2 (dua) macam imbalan yaitu imbalan intrinsik dan imbalan ekstrinsik. Imbalan
intrinsik diperoleh karena adanya pengakuan dan penghargaan. Imbalan ekstrinsik
diperoleh karena adanya promosi, upah, dan gaji.
Aspek kesempatan kerja memberikan kesempatan untuk
pertumbuhan pribadi, lebih bertanggung jawab dan meningkatkan status sosial.
Dengan demikian individu yang merasakan adanya ketetapan promosi merupakan
salah satu kepuasan dari pekerjaannya.
Aspek rekan kerja berarti bahwa individu menginginkan adanya
perhatian dari atasan maupun dari rekan kerjanya serta lingkungan yang
mendukungnya. Hal tersebut dapat memberikan kepuasan terhadap kebutuhan sosial
seperti rasa dihormati, berprestasi dan berafiliasi.
Salah satu dari banyak penelitian yang
meneliti tentang hubungan kepuasan kerja dengan intensi untuk keluar adalah
penelitian yang dilakukan oleh Boselie & Wiele (2002), yang menyimpulkan
dari 2300 survei terhadap karyawan di Belanda bahwa karyawan yang memilki
persepsi positif terhadap HRM practices menunjukkan tingkat kepuasan
yang lebih tinggi secara keseluruhan dan keinginan yang lebih rendah untuk
keluar dari pekerjaannya. Korunka, Hoonaker, dan Carayon (2008) pada
penelitianya menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan
kerja dan intensi untuk keluar pada pekerja IT pada orang Amerika. Secara
sederhana dapat dijelaskan bahwa seseorang yang merasa senang dan puas dalam
pekerjaan dan lingkungan kerjanya, ia akan merasa nyaman untuk bekerja dalam
organisasi tersebut. Sehingga kecil keinginian untuk berpindah tempat kerja
kemudian mencari rasa nyaman pada lingkungan yang baru.
Dalam studi literaturnya Mudor &
Tookson (2011) menemukan adanya indikasi bahwa efek dari kepuasan kerja
terhadap niat untuk keluar dapat diperbesar dalam dua jalan. Pertama, ketika
individu menemukan keselarasan antara pekerjaannya dengan identitas diri
mereka. Kedua, ketika keterlibatan dalam pekerjaanya memeperbesar kelesuruhan
kepuasan hidupnya.
METODE PENELITIAN
Metode pengumpulan data dalam
penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data
berupa studi kepustakaan. Studi kepustakaan merupakan metode pengumpulan data dan
informasi melalui dokumen baik dokumen tertulis, fot, gambar, maupun dokumen
elektroinik yang dapat mendukung dalam proses penelitian. Hal tersebut dapat dilakukan
dengan cara mempelajari sejumlah buku, literatur, jurnal ilmiah, maupun website
internet.
KESIMPULAN
Salah satu cara yang dilakukan organisasi
untuk mempertahankan karyawan terbaiknya dan meningkatkan produktivitasnya
adalah dengan memperhatikan kebutuhan karyawannya sehingga timbul rasa puas
terhadap pekerjaannya. Hal tersebut disebabkan oleh dampak dari turnover yang melibatkan pengeluaran
yang besar bagi organisasi. Niat untuk keluar (turnover interntion) merupakan salah satu cara memprediksi turnover yang sesuangguhnya. Kepuasan
kerja dapat diartikan perasaan di mana
individu merasa positif ataupun negatif terhadap pekerjaannya. Aspek-aspek yang
terdapat dari Job Description Index yang terdiri dari 5 (lima) aspek yaitu
rekan kerja, pekerjaan itu sendiri, promosi, upah/gaji, promosi dan atasan
dapat dijadikan tolok ukur untuk mengukur kepuasan kerja. Beberapa penelitian
menyimpulkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara kepuasan kerja dengan
niat untuk keluar dari pekerjaan. semakin tinggi kepuasan kerja yang dirasakan
oleh individu maka semakin kecil niat untuk keluar dari pekerjaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Boselie, P.,
& Wiele, T. V. D. (2002).Employee perception on HRM and TQM and the effects
on satisfaction and intention to leave.Management
Service Quality, 12(3), 165-172.
Cranny, C.
J, Smith, P.C., & Stone, E. F. (1992). Job
Satisfaction: How People Feel about Their Jobs and How It Affects Their Performance.
New York: Lexington Books.
Dibboye, R. L., Smith
C. S., & Howell. W. C., (1994). Understanding
Industrial And Organizational Psychology: An Integrated Approach. USA:
Holt, Rinehart, and Winston Inc.
Gibson, J.L.,
Ivancevich, J.M., Donnel, J.H. & Konopaske, R.(2003). Organizations:
Behavior, structure, processes. 11th ed.,New York, McGraw-Hill.
Greenberg,
J., & Baron, R.A. (1997). Behavior in
Organizations: Understanding and Managing the Human Side of Work (6th ed).
New Jersey: Prentice-Hall.
Hong, L. C.,
&Kaur, S. (2008). A relationship between organizational climate, employee
personality and intention to leave. International
Review of Business Research Papers, 4(3),
1-10.
Korunka, C.,
Hoonaker, P., & Carayon, P. (2008).Quality of working life and turnover
intention in information technology work.Human
Factors and Ergonomic in Manufacturing, 18(4),
409-423.
Mudor, H.,
Tookson, P. (2011). Conceptual framework on the relationship between human
resource management practices, job satisfaction, and turnover. Journal of Economic and Bhavioral Studies,
2(2), 41-49
Newmark, D.
(2000). On The Job : Is Long-Term
Employment a Thing of the Past?. New York : Sage.
Price, J. L.
(2001). Reflection on determinant of voluntary turnover. International Journal of Manpower, 27(7), 600-624.
Randhawa, G.
(2007). Relationship between job satisfaction and turnover intention : An
empirical Analysis. Indian
Management Studies Journal, 11, 149-159.
Sownya, K.
R., &Panchanatham, N. (2011). Factors influencing job satisfactionof
banking sector in Chennai, India. Journal
of Law and Conflict Resolution, 3(5),76-79.
Tuesday, June 14, 2016
Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Artikel)
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok dan tamu) di tempat kerja.
Penerapan SMK3 berdarkan standar OHSAS 18001:2007
Kebijakan K3
Penerapan SMK3 berdarkan standar OHSAS 18001:2007
Manajemen perusahaan memiliki komitmen untuk patuh terhadap peraturan perundangan K3, mencegah kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, dan pencemaran.
Wewenang yang dimiliki manajemen puncak adalah memberi sanksi kepada
karyawan yang bekerja dan investor di area pabrik tidak menggunakan alat
keselamatan kerja.
Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan perusahaan adalah membuat jadwal rencana kegiatan
yang terdiri dari beberapa kegiatan yang dilakukan oleh divisi yang terkait untuk
menerapkan SMK3 di perusahaan. Perusahaan melakukan identifikasi bahaya,
penilaian resiko, dan pengendalian resiko K3 serta menanggulangi limbah terhadap
pengendalian dampak lingkungan.
Pelaksanaan
Struktur dan tanggung jawab pelaksanaan SMK3 di perusahan dengan dibentuknya
tim P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang merupakan
bagian dari divisi keselamatan lingkungan dan damkar. Tim P2K3 adalah tim yang
memiliki kewenangan, tanggung jawab, menyediakan sumberdaya manusia, sarana
dan prasarana yang berkaitan tentang pelaksanaan SMK3 dengan manajemen
perusahaan. Program-program yang dilakukan perusahaan sebagai pelaksanaan
SMK3 dan keselamatan lingkungan diantaranya program kesehatan, program keselamatan, dan program lingkungan. Program keselamatan yang dilakukan
diantaranya memasang rambu-rambu penggunaan alat pelindung diri di setiap area
kerja, rambu-rambu peringatan akan bahaya kerja yang akan terjadi, menerapkan
toolbox meeting, memberikan dan menyediakan alat pelindung diri bagi tenaga kerja
secara gratis, sosialisasi dan rapat panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja
(P2K3), mengadakan pelatihan K3 tentang P3K dan pelatihan tanggap darurat,
melakukan patroli control setiap pagi selama jam kerja, dan penyedian alat pemadam
kebakaran disetiap area kerja serta pemberian jalur evakuasi atau jalur hijau.
Program peduli lingkungan yang diterapkan meliputi pengolahan limbah cair dan
penggunaan kembali hasil limbah cair, penyediaan tempat sampah dan area
penghijauan.
Pemeriksaan dan tindakan perbaikan
Pemeriksaan SMK3 yang dilakukan adalah dengan memantau dan mengukur faktor
lingkungan kerja termasuk peralatan yang digunakan dan dampak terhadap
lingkungan. Pemantauan dan pengukuran meliputi pencatatan informasi dan kejadian
yang terjadi di lapangan secara kualitatif dan kuantitatif, melaksanakan audit K3
secara periodik. Tindakan perbaikan yang dilakukan meliputi patroli kontrol,
mengevaluasi peraturan SMK3 yang diterapkan, melaporkan insiden yang terjadi
dilapangan, mengidentifikasi pelaksanaan perbaikan seperti mendatangkan tim dari
luar untuk pengujian emisi dan sertifikasi peralatan pabrik, melaporkan, perawatan
alat keselamatan seperti alat pemadam kebakaran, dan mengevaluasi tentang
penggunaan alat pelindung diri.
Kaji ulang manajemen
Pengkajian ulang manajemen yang diterapkan dilakukan untuk menjamin
kesinambungan antara perencananan, pelaksanaan dan perbaikan berjalan sesuai yang
di harapkan. Pengkajian ulang manajemen dilakukan dengan menyelengarakan rapat
dan tinjauan antara tim P2K3 dengan manajemen puncak seperti direksi dan kepala
divisi lainnya.
Daftar pustaka:
- Materi pelatihan OHSAS 18001:2007. 2015. Sucofindo.
- Susihono, Wahyu. 2013. Penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan identifikasi potensi bahaya kerja. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Friday, June 10, 2016
Hubungan Industrial (Artikel)
Pengertian hubungan industrial berdasarkan Pasal 1 angka 16 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”)
Friday, June 3, 2016
Manajemen Talenta (Artikel)
TALENT MANAGEMENT SYSTEM
Dalam mempersiapkan calon
pemimpin masa depan, kompensasi dan benefit yang menarik atau
pelatihan-pelatihan terbaik saja tidak cukup.
Monday, May 30, 2016
Saturday, May 28, 2016
Kepuasan Kerja (Artikel)
Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kepuasan hidup, karena sebagian besar waktu manusia dihabiskan di tempat kerja. Berikut ini beberapa pengertian kepuasan kerja yang diambil dari beberapa sumber:
Thursday, May 26, 2016
Motivasi Kerja (Artikel)
A. Motivasi Kerja
Dalam sejarah teori motivasi berkembang di era tahun 1950-an, dimana proses dan formulasi telah terbentuk ketika itu.
Friday, May 13, 2016
MANAJEMEN KOMPENSASI (Artikel)
MANAJEMEN KOMPENSASI
Oleh: Tarma Wijaya
41615120026
Definisi
- Kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung ataupun tidak langsung yang diterima oleh karyawan sebagai imbalan atas yang diberikan kepada perusahaan. (Hasibuan, 2013:117)
- Setiap bentuk imbalan yang diterima oleh seorang sebagai balasan atas kontribusinya terhadap organisasi. (Mondy & Noe, 2005)
- Kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima oleh karyawan sebagai balas jasa atas kontribusinya kepada perusahaan atau organisasi. (Ardana, 2012:153)
1. Ikatan Kerja Sama
Dengan pemberian kompensasi maka terjalinlah ikatan kerja sama formal antara majikan dengan bawahan, dimana karyawan harus mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, sedangkan pengusaha atau majikan wajib membayar kompensasi itu sesuai dengan perjanjian yang disepakati.
2. Kepuasan Kerja
Dengan balas jasa karyawan akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik, status, sosial dan egoistiknya sehingga ia memperoleh kepuasan kerja dari jabatannya itu.
3. Pengadaan Efektif
Jika program kompensasi ditetapkan cukup besar, maka pengadaan karyawan yang qualified untuk perusahaan itu akan lebih mudah.
4. Motivasi
Jika balas jasa yang diberikan cukup besar, manajer akan mudah memotivasi bawahannya.
5. Stabilitas Karyawan
Dengan program kompensasi agar prinsip adil dan layak serta eksternal konsistensi yang kompetitif maka stabilitas karyawan lebih terjamin karena turnover relatif kecil.
6. Disiplin
Dengan memberikan balas jasa yang cukup besar maka disiplin karyawan semakin baik. Mereka akan menyadari serta mentaati peraturan-peraturan yang berlaku.
7. Pengaruh Serikat Buruh
Dengan program kompensasi yang baik pengaruh serikat buruh dapat dihindarkan dan karyawan akan berkonsentrasi pada kenyataan.
8. Pengaruh Pemerintah
Jika program kompensasi itu sesuai dengan undang-undang perburuhan yang berlaku (seperti batas upah minimum) maka intervensi pemerintah dapat dihindarkan.
Equity "keadilan"
Menurut Hasibuan (2000:122) program kompensasi (balas jasa) harus ditetapkan atas asas adil dan layak serta dengan memperhatikan undang-undang perburuhan yang berlaku. Prinsip adil dan layak harus mendapat perhatian dengan sebaik-baiknya supaya balas jasa yang akan diberikan menambah gairah dan kepuasan kerja karyawan.
Asas adil Besarnya kompensasi yang dibayar kepada setiap karyawan harus disesuaikan dengan prestasi kerja, jenis pekerjaan, resiko pekerjaan, tanggung jawab, jabatan pekerja, dan memenuhi persyaratan internal konsistensi.
Adil dalam hal ini bukan berarti setiap karyawan menerima kompensasi yang sama besarnya. Asas adil harus menjadi dasar penilaian, perlakuan dan pemberian hadiah atau hukuman bagi setiap karyawan. Dengan asa adil akan tercipta suasana kerja sama yang baik, semangat kerja, disiplin, loyalitas, dan stabilitas karyawan akan lebih baik. Berikut ini beberapa pertanyaan terkait equity:
Internal equity (jika dipandang dari nilai relatif setiap jabatan terhadap sebuah organisasi, apakah tingkat pembayarannya adil?)
External equity (apakah gaji/upah yang dibayarkan oleh sebuah organisasi adil jika dibandingkan dengan tingkar upah yang dibayarkan organisasi sejenis?)Individual equity (apakah imbalan yang diterima oleh seseorang "adil" jika dibandingkan dengan imbalan yang diterima oleh orang lain yang mengerjakan pekerjaan yang sama atau sejenis?)
Asas layak dan wajar terkait kompensasi yang diterima karyawan dapat memenuhi kebutuhannya pada tingkat normatif yang ideal. Tolak ukur layak adalah relatif, penetapan besarnya kompensasi didasarkan atas batas upah minimal pemerintah dan eksternal konsistensi yang berlaku.
Manajer personalia diharuskan selalu memantau dan menyesuaikan kompensasi dengan eksternal konsistensi yang sedang berlaku. Hal ini penting supaya semangat kerja dan karyawan yang qualified tidak terhenti, tuntutan serikat buruh dikurangi dan lain-lainnya.
Tahapan Manajemen Kompensasi
- Mengidentifikasi dan melakukan studi atas jabatan
- Menentukan "Internal Equity"
- Menentukan "External Equity"
- Mencocokan Nilai Eksternal dan Internal
Menurut Hasibuan (2000:126) Kebijaksanaan kompensasi baik besarnya, susunannya, maupun waktu pembayarannya dapat mendorong semangat kerja dan keinginan karyawan untuk mencapai prestasi kerja yang optimal sehingga membantu terwujudnya sasaran perusahaan.
Besarnya kompensasi harus ditetapkan berdasarkan analisis pekerjaan, uraian pekerjaan, posisi jabatan, konsistensi eksternal serta berpedoman kepada keadilan dan undang-undang perburuhan. Dengan kebijaksanaan ini diharapkan akan terbina kerja sama yang serasi dan memberikan kepuasan kepada semua pihak.
Susunan kompensasi yang ditetapkan dengan baik akan memberikan motivasi kerja bagi karyawan. Kompensasi kita ketahui terdiri dari kompensasi langsung (gaji/upah/insentif) dan kompensasi tidak langsung (kesejahteraan karyawan), jika perbandingan kedua kompensasi ini ditetapkan sedemikian rupa maka kehadiran karyawan akan lebih baik.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhui Besarnya Kompensasi
- Penawaran dan Permintaan Tanaga Kerja
- Kemampuan dan Kesediaan Perusahaan
- Serikat Buruh atau Organisasi Karyawan
- Produktivitas Kerja Karyawan
- Pemerintah dengan Undang-Undang dan Kepresnya
- Biaya Hidup (Cost of Living)
- Posisi Jabatan
- Pendidikan dan Pengalaman Kerja
- Kondisi Perekonomian Nasional
- Jenis dan Sifat Pekerjaan
Referensi:
Handoko, T. Hani. Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia Edisi 2. 1987. Yogyakarta. Penerbit: BPFE-Yogyakarta
Rachmawati, Ike Kusdyah. Manajemen Sumber Daya Manusia. 2008. Yogyakarta. Penerbit: C.V Andi Offset
https://khoyunitapublish.wordpress.com/2013/02/25/kompensasi-manajemen/ diakses 9 Mei 2016
http://www.slideshare.net/playtool/manajemen-kompensasi-compensation-and-benefit diakses 9 Mei
Thursday, May 12, 2016
MANAJEMEN KINERJA (Artikel)
MANAJEMEN KINERJA
Oleh: Tarma Wijaya
41615120026
Pengertian dan Tujuan Manajemen Kinerja
Manajemen Kinerja adalah suatu proses untuk menetapkan pemahaman bersama tentang apa yang hendak dicapai serta bagaimana cara mencapainya, dan merupakan suatu pendekatan untuk dapat meningkatkan kemungkinan pencapaian kesuksesan dalam pekerjaan.
Tujuan umum manajemen kinerja adalah membangun suatu budaya dalam perusahaan yang mendorong individu dan kelompok untuk bertanggung jawab memperbaiki secara terus menerus kegiatan operasional perusahaan serta kemampuan dan kontribusi mereka.
Tujuan untuk menerapkan manajemen kinerja sebaiknya ditentukan dan disetujui oleh manajemen puncak. Adapun tujuannya adalah:
- Meningkatkan kinerja organisasi, kelompok dan individu.
- Mengintegrasikan sasaran organisasi, kelompok dan individu.
- Memperoleh kejelasan akan harapan perusahaan terhadap kinerja yang harus dicapai oleh individu dan kelompok.
- Mengembangkan keterampilan dan kompetensi karyawan.
- Meningkatkan hubungan kerjasama yang lebih erat antara bawahan dan atasan.
- Menyediakan sarana yang dapat meningkatkan obyektifitas penilaian kinerja karyawan
- Memberdayakan karyawan agar dapat meningkatkan kinerja dan proses pembelajaran mandiri.
Tahapan Proses Manajemen Kinerja
1. Perencanaan Kinerja
Kegiatan ini merupakan yang paling penting, karena merupakan kegiatan yang menentukan kinerja yang diharapkan perusahaan dari karyawan. Tanpa ada kejelasan mengenai harapan perusahaan terhadap karyawan, maka karyawan tidak dapat bekerja secara efektif untuk mencapai sasaran perusahaan.
Perencanaan kinerja diawali dengan Visi dan Misi Perusahaan dimana akan diketahui jelas sasaran perusahaan dan kompetensi SDM yang dibutuhkan. Setelah ditetapkan sasaran perusahaan maka ditetapkan juga standar kinerja dan standar kompetensi individual sehingga didapatkan komitmen rencana kinerja. Pada perencanaan kinerja dibuat juga fokus pengukuran kinerja untuk masing-masing level karyawan. Fokus pengukuran kinerja meliputi tanggung jawab, tugas dan standar kerja.
2. Pengelolaan Kinerja
Kegiatan pengelolaan kinerja merupakan kegiatan yang terus menerus harus dilakukan agar dapat memastikan bahwa rencana yang sudah disepakati dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Kegiatan ini antara lain meliputi kegiatan pembinaan, konseling, pemberian umpan balik dsb. Pembinaan yang berkelanjutan diperlukan untuk memberikan umpan balik terhadap pencapaian kinerja dan meninjau serta memperbaharui sasaran.
3. Penilaian Kinerja
Merupakan kegiatan yang secara formal dilakukan untuk mengetahui atau menilai seberapa jauh pelaksanaan kinerja masih sesuai atau tidak dengan rencana yang telah disepakati. Fungsi penilaian kinerja bagi perusahaan antara lain:
- Memperbaiki kinerja karyawan
- Menetapkan kompensasi (gaji, bonus dll)
- Penempatan karyawan (promosi, mutasi atau suksesi)
- Pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan karyawan
- Merencanakan karir dan pengembangan.
Merupakan tindak lanjut dari proses penilaian kinerja yaitu untuk memberikan penghargaan atas kinerja yang telah dicapai karyawan. Kegiatan tersebut dapat berupa promosi dan rotasi atau peningkatan kompetensi, pemberian bonus atau gaji.
Referensi:
http://www.esaunggul.ac.id/article/manajemen-kinerja/ diakses 9 Mei 2015
Dessler, Gary, "Human Resources Management", Prentice-hall, Inc, 2005
Lembaga Manajemen PPM, "Modul pelatihan Performance Management", PPM Institute of Management, 2004
Wednesday, April 13, 2016
MANAJEMEN KARIR (Artikel)
Karir adalah sebuah perjalanan proses manuju tingkat yang lebih baik dalam lingkup pekerjaan.
Manajemen karir adalah proses dimana organisasi mencoba untuk menyesuaikan minat karir individual dan kemampuan organisasi untuk merekrut karyawan (Gutteridge, 1976).
Sedangkan menurut Greenhouse (1987), manajemen karir adalah proses dimana individu mengumpulkan informasi mengenai nilai, minat, kelebihan dan kekurangan skill (career exploration), mengidentifikasikan tujuan karir dan penggunaan strategi karir dengan tujuan karir tersebut akan tercapai.
Rencana Pengembangan Karir
Perencanaan karir merupakan kegiatan atau usaha untuk mengatakan perjalanan karir pegawai serta mengidentifikasi hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan karir tertentu.
Program pengembangan karir terdiri dari 2 elemen utama, yakni:
- Perencanaan karir tingkat organisasional
- Perencanaan karir tingkat individual (karyawan)
Perencanaan karir tingkat organisasional bertujuan untuk mengidentifikasi hal-hal sebagai berikut:
- Profil kebutuhan pegawai
- Deskripsi jabatan/pekerjaan
- Peta jalur karir
- Mekanisme penilaian kinerja pegawai
Perencanaan karir tingkat individual (karyawan)
Bagi pegawai, perencanaan karir ditingkat organisasi tidak akan dianggap penting bila tidak ada kaitannya dengan karir si pegawai tersebut.
Karena itu, perencanaan karir ditingkat organisasi harus bisa diterjemahkan menjadi perencanaan karir ditingkat individu pegawai.
Tujuan perencanaan karir untuk seorang pegawai adalah untuk mengetahui sedini mungkin prospek karir pegawai tersebut dimasa depan, serta menentukan langkah-langkah yang perlu diambil agar tujuan karir tersebut dapat dicapai secara efektif - efisien. Hal tersebut bisa berjalan dengan baik dengan cara sebagai berikut berikut:
- Dialog
- Bimbingan
- Keterlibatan individual
- Umpan balik
- Mekanisme perencanaan karir
Subscribe to:
Posts (Atom)

















