Motivasi Kerja
I. Definisi
Robbins dan Judge (2007) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang
menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu
tujuan.
Showing posts with label Tugas B10. Show all posts
Showing posts with label Tugas B10. Show all posts
Friday, June 24, 2016
Motivasi Kinerja Dengan Coaching
Abstrak
Meski semboyannya SDM itu aset, tetapi prakteknya tidak seluruhnya begitu. Banyak SDM yang belum menjadi aset. Kata orang-orang SDM: “Hanya SDM yang bagus yang menjadi aset usaha”. Bagus ini apa penjelasannya? Penjelasan yang umum bisa kita singkat dengan 3 R: right people, right job and right performance.
Persoalan yang kita hadapi adalah bagaimana menemukan 3R ini? Tentu kita sadar bahwa 3R ini bukan sebuah hasil yang final (one-off). Amat sangat jarang kita bisa langsung menemukan orang yang tepat untuk ditempatkan di pekerjaan yang tepat agar bisa mencapai performansi yang tepat (tinggi). Yang sering terjadi, 3R ini ini dicapai melalui proses.
Karena itu, coaching bisa menjadi salah satu jalan untuk menemukan 3R. Kalau pun 3R ini belum bisa diwujudkan ke tingkat yang ideal, tapi setidak-tidaknya coaching yang kita lakukan akan memperluas wilayah “interkoneksi” antara ‘workforce requirement’ dan ‘workforce capabilities’.
Thursday, June 23, 2016
Artikel "Motivasi Kerja"
Abstrak
Motivasi
dapat diartikan sebagai keiginan untuk melakukan sesuatu, dengan demikian
motivasi hidup ialah keinginan untuk menjalani kehidupan, motivasi usaha atau
bisnis adalah keiginan untuk menjalankan suatu usaha atau bisnis, sedangkan
motivasi kerja merupakan keinginan untuk melaksanakan pekerjaan
A.
Motivasi Kerja
Menurut Samsudin (2005), pengertian
motivasi sebagai proses mempengaruhi atau mendorong dari luar terhadap
seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau melaksanakan sesuatu yang telah
ditetapkan. Motivasi juga dapat diartikan sebagai dorongan (driving force)
dimaksudkan sebagai desakan yang alami untuk memuaskan dan memperahankan
kehidupan.
Menurut
Hidayat (2014), motivasi timbul tidak saja karena ada unsur didalam diri tetapi
juga karena adanya stimulus dari luar. Seberapapun tingkat kemampuan yang
dimiliki seseorang, mereka pasti butuh motivasi. Dengan perkataan lain potensi
sumberdaya manusia adalah sesuatu yang terbatas. Kinerja seseorang dengan
demikian merupakan fungsi dari faktor-faktor kemampuan dan motivasi diri. Untuk
menghasilkan kuantitas dan kualitas yang optiomal sangat dipengaruhi oleh
bagaimana kemampuan manajer dalam memberikan motivasi kepada semua pegawai.
B.
Hierarki Kebutuhan Manusia
Menurut Hendry (2010), Abraham Maslow
(Mangkunegara, 2005) mengemukakan bahwa hierarki kebutuhan manusia adalah
sebagai berikut :
- 1. Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan untuk makan, minum, perlindungan fisik, bernapas, seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah atau disebut pula sebagai kebutuhan yang paling dasar
- 2. Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan akan perlindungan diri dari ancaman, bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidp
- 3. Kebutuhan untuk rasa memiliki (sosial), yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai
- 4. Kebutuhan akan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain
- 5. Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill dan potensi. Kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide, gagasan dan kritik terhadap sesuatu
C.
Daftar Pustaka
Hidayat, A.A. 2014. Perancangan dan
Perilaku Organisasi (MSDM): Motivasi Kerja. Universitas Mercubuana. Jakarta
Hendry. 2010. Definisi Motivasi Kerja. https://teorionline.wordpress.com/2010/01/25/definisi-motivasi-kerja/
Diakses pada hari Kamis 23 Juni 2016 pada pukul 17:30 WIB
Samsudin, S. 2005. Manajemen Sumber Daya
Manusia. Pustaka Setia. Bandung
Monday, June 20, 2016
Motivasi dan Etos Kerja
By : Ilham Noer Satria Aji
Motivasi Kerja dan Etos Kerja
Organisasi diharapkan
untuk selalu menjaga tenaga kerja yang terlatih dengan baik dan efektif
(Nimalathasan, 2012) dalam Desi, Ayu I.Jurnal Manajemen, Strategi Bisnis, dan
Kewirausahaan vol 7 no.2, Agustus 2013. Pengelolaan sumber daya manusia yang
dimaksudkan adalah bahwa perusahaan harus mampu untuk menyatukan persepsi atau
cara pandang karyawan dan pimpinan perusahaan dalam rangka mencapai tujuan
perusahaan antara lain melalui pembentukan mental bekerja yang baik dengan
dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap pekerjaannya, memberikan motivasi
kerja, bimbingan, pengarahan dan koordinasi yang baik dalam bekerja oleh
seorang pemimpin kepada bawahannya. Menciptakan kepuasan kerja karyawan adalah
tidak mudah karena kepuasan kerja dapat tercipta jika variabel-variabel yang
mempengaruhinya antara lain motivasi kerja, kepemimpinan dan budaya organisasi/perusahaan
dapat diakomodasikan dengan baik dan diterima oleh semua karyawan di dalam
suatu organisasi/perusahaan. Gibson (1996) dalam Ermayanti (2001:3) dan
Brahmasari (2005:96), mengemukakan bahwa kinerja organisasi tergantung dari
kinerja individu atau dengan kata lain kinerja individu akan memberikan
kontribusi pada kinerja organisasi, artinya bahwa perilaku anggota organisasi
baik secara individu maupun kelompok memberikan kekuatan atas kinerja
organisasi sebab motivasinya akan mempengaruhi pada kinerja organisasi.
Sujak (1990) dalam
Ermayanti (2001:3), mengemukakan bahwa pemahaman motivasi, baik yang ada dalam
diri karyawan maupun yang berasal dari lingkungan akan dapat membantu dalam
peningkatan kinerja. Dalam hal ini seorang manajer perlu mengarahkan motivasi
dengan menciptakan kondisi (iklim) organisasi melalui pembentukan budaya kerja
atau budaya organisasi sehingga para karyawan merasa terpacu untuk bekerja
lebih keras agar kinerja yang dicapai juga tinggi. Pemberian motivasi harus
diarahkan dengan baik menurut prioritas dan dapat diterima dengan baik oleh
karyawan, karena motivasi tidak dapat diberikan untuk setiap karyawan dengan
bentuk yang berbeda-beda. Kepuasan kerja dan lingkungan kerja sangat
mempengaruhi terhadap motivasi dan etos kerja. Artinya, jika karyawan
mendapatkan lingkungan kerja yang baik, jenjang karir yang baik, serta imbalan
yang baik, maka mereka akan termotivasi untuk bekerja dengan baik, memiliki
etos kerja yang tinggi. Sehingga mereka dapat bekerja dengan baik dan mencapai
kepuasan kerja dengan baik.
MOTIVASI
Menurut Sardiman (2007:
73), menyebutkan motif dapat diartikan sebagai daya upaya yang mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak
dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu
demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat dikatakan sebagai suatu kondisi
intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata motif itu, maka motivasi dapat
diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif
pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat
dirasakan atau mendesak.
Menurut Mc. Donald
(dalam Sardiman 2007: 73), menyebutkan bahwa motivasi sebagai perubahan energi
dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului
dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian Mc.Donald ini
mengandung tiga elemen penting yaitu: Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan
energi pada diri setiap individu manusia (walaupun motivasiitu muncul dari
dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia,
Motivasi di tandai dengan munculnya rasa/feeling yang relevan dengan
persoalan-persoalan kejiwaan, efeksi dan emosi serta dapat menentukan
tinggkah-laku manusia, Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan dan tujuan
ini akan menyangkut soal kebutuhan.
Menurut Azwar (2000:
15), motivasi adalah rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga yang dimiliki
seseorang atau sekolompok masyarakat yang mau berbuat dan bekerjasama secara
optimal dalam melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Malayu (2005:
143), motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti dorongan atau
pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar
mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya
upayanya untuk mencapai kepuasan. Motivasi (motivasion) dalam manajemen hanya
ditujukkan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Pentingnya
motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan
mendukung prilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil
yang optimal. Sedangkan menurut Edwin B Flippo (dalam malayu 2005: 143),
menyebutkan bahwa motivasi adalah suatu keahlian, dalam mengarahkan pegawai dan
organisasi agar mau bekerja secara berhasil, sehingga para pegawai dan tujuan
organisasi sekaligus tercapai.
Menurut American
Enyclopedia (dalam malayu 2005: 143), menyebutkan bahwa motivasi sebagai
kecenderungan (suatu sifat yang merupakan pokok pertentang) dalam diri
seseorang yang membangkitkan topangan dan mengarahkan tindak-tanduknya.
Sedangkan menurut G.R. Terry (dalam malayu 2005: 145) mengemukakan bahwa
motivasi adalah keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang
merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan. motivasi itu tampak dalam dua
segi yang berbeda, yaitu dilihat dari segi aktif/dinamis, motivasi tampak
sebagai suatu usaha positif dalam menggerakkan, mengerahkan, dan mengarahkan
daya serta potensi tenaga kerja, agar secara produktif berhasil mencapai dan
mewujudkan tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Sedangkan apabila dilihat dari segi
pasif/statis, motivasi akan tampak sebagai kebutuhan sekaligus sebagai
peranggsang untuk dapat menggerakkan, mengerahkan, dan mengarahkan potensi
serta daya kerja manusia tersebut ke arah yang diinginkan.
Menurut Henry Simamora,
pengertian motivasi menurutnya adalah Sebuah fungsi dari pengharapan individu
bahwa upaya tertentu akan menghasilkan tingkat kinerja yang pada gilirannya
akan membuahkan imbalan atau hasil yang dikehendaki.
Menurut Soemanto secara
umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh
dorongan efektif dan reaksi- reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia
itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang
memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri
seseorang.
Menurut Weiner (1990)
yang dikutip Elliot et al. (2000), motivasi didefenisikan sebagai kondisi
internal yang membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita mencapai
tujuan tertentu, dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan tertentu.
Menurut Uno (2007),
motivasi dapat diartikan sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri
seseorang yang diindikasikan dengan adanya; hasrat dan minat; dorongan dan
kebutuhan; harapan dan cita-cita; penghargaan dan penghormatan. Motivasi adalah
sesuatu apa yang membuat seseorang bertindak (Sargent, dikutip oleh Howard,
1999) menyatakan bahwa motivasi merupakan dampak dari interaksi seseorang
dengan situasi yang dihadapinya (Siagian, 2004).
Mangkunegara (2005:101)
dalam Ayu, Ida B. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. VOL.10 NO. 2, September
2008: 124-135 mengemukakan bahwa
terdapat
2 (dua) teknik memotivasi kerja pegawai, yaitu: (1) Teknik pemenuhan kebutuhan
pegawai, artinya bahwa pemenuhan kebutuhan pegawai merupakan fundamen yang
mendasari perilaku kerja. (2) Teknik komunikasi persuasif, adalah merupakan salah
satu teknik memotivasi kerja pegawai yang dilakukan dengan cara mempengaruhi
pegawai secara ekstra logis. Teknik ini dirumuskan dengan istilah “AIDDAS”
yaitu Attention (perhatian), Interest (minat), Desire (hasrat), Decision
(keputusan), Action (aksi atau tindakan), dan Satisfaction (kepuasan). Penggunaannya,
pertama kali pemimpin harus memberikan perhatian kepada pegawai tentang
pentingnya tujuan dari suatu pekerjaan agar timbul minat pegawai terhadap
pelaksanaan kerja, jika telah timbul minatnya maka hasratnya akan menjadi kuat
untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan kerja dalam mencapai tujuan
yang diharapkan oleh pemimpin. Dengan demikian, pegawai akan bekerja dengan
motivasi tinggi dan merasa puas terhadap hasil kerjanya.
KINERJA
Menurut Simamora (2003:45)
kinerja adalah ukuran keberhasilan organisasi dalam mencapai misinya. Sedangkan
Shadily (1992:425), mengatakan kinerja atau performance adalah berdaya guna
prestasi atau hasil. Wahyudi Kumorotomo (1996) memberikan batasan pada konsep
kinerja organisasi publik setidaknya berkaitan erat dengan efisiensi,
efektifitas, keadilan dan daya tanggap.
Kinerja atau prestasi kerja
adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya (Anwar Prabu Mangkunegara, 2006:67).
Kinerja karyawan adalah hasil
dari proses pekerjaan tertentu secara berencana pada waktu dan tempat dari karyawan
serta organisasi bersangkutan (Mangkuprawira dan Hubeis, 2007:153).
Kinerja didefinisikan sebagai
seperangkat hasil yang dicapai dan merujuk pada tindakan pencapaian serta
pelaksanaan sesuatu pekerjaan yang diminta (Stolovitch and Keeps, 1992).
Kinerja merupakan suatu
fungsi dari motivasi dan kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan
seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu.
Kesediaan dan ketrampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan
sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan
bagaimana mengerjakannya (Hersey and Blanchard, 1993).
Pengertian kinerja merujuk
pada tingkat keberhasilan melaksanakan tugas serta kemampuan mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Kinerja dinyatakan baik dan sukses jika tujuan yang
diinginkan dapat tercapai dengan baik (Donelly, Gibson and Ivancevich, 1994)
Kinerja sebagai kualitas dan
kuantitas pencapaian tugas-tugas, baik yang dilakukan oleh individu, kelompok
maupun perusahaan (Schermerhorn, Hunt and Osborn, 1991).
Kinerja merupakan fungsi
interaksi antara kemampuan (Ability=A), motivasi (motivation=M) dan kesempatan
(Opportunity=O) atau Kinerja = Æ’(A x M x O); artinya: kinerja merupakan fungsi
dari kemampuan, motivasi dan kesempatan (Robbins,1996).
Kinerja adalah hasil kerja
yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugasnya atas kecakapan, usaha
dan kesempatan. Berdasarkan paparan diatas kinerja adalah suatu hasil yang
dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang didasarkan atas
kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu menurut standar dan kriteria
yang telah ditetapkan sebelumnya (Hasibuan, 2002:160).
Menurut Soeprihanto, kinerja
pegawai adalah hasil kerja seorang pegawai selama periode tertentu dibandingkan
dengan berbagai kemungkinan, misalnya standar, target/sasaran atau kriteria
yang telah ditentukan terlebih dahulu dan disepakati bersama (Soeprihanto,
1996:6). Menurut Soeprihanto, aspek-aspek kinerja meliputi:
1.
Kualitas pekerjaan
2.
Kuantitas pekerjaan
3.
Kemampuan bekerja sendiri
4.
Pemahaman dan pengenalan pekerjaan
5.
Kemampuan memecahkan persoalan
Pegawai
Pengertian Pegawai adalah
Dalam Bahasa Indonesia kata pegawai berasal dari kata pe- dan gawai. Pe adalah
sebuah awalan yang menunjukkan arti orang yang mengerjakan atau mempunyai
pekerjaan seperti yang disebutkan oleh kata dasar, sedangkan gawai berarti
kerja (tim dosen IKIP Malang 1990:179).
Berdasarkan
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pegawai adalah orang yang bekerja
pada suatu tempat yang resmi, memiliki data-data pribadi dan mempunyai kekuatan
hukum. Tempat pekerjaan yang dimaksud adalah organisasi, lembaga, atau badan
lainnya yag berhubungan dengan pegawai.
Kinerja
Pegawai
Kinerja Pegawai adalah
kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan
menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan. Kinerja
pegawai merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya. Faktor-faktor yang menandai kinerja adalah hasil ketentuan:
1. Kebutuhan
yang dibuat pekerja.
2. Tujuan
yang khusus.
3. Kemampuan.
4. Kompleksitas.
5. Komitmen.
6. Umpan
balik.
7. Situasi.
8. Pembatasan.
9. Sikap
pada setiap kegiatan.
10. Usaha.
11. Ketekunan.
12. Ketaatan.
13. Kesediaan
untuk berkorban.
14. Memiliki
standar yang jelas.
Selanjutnya Gibson (1994:110)
mengungkapkan beberapa metode penilaian kinerja, terdiri dari:
1.
Metode Skala Penilaian Grafik.
Metode Skala penilaian grafik skala yang
mendaftarkan sejumlah ciri dan kisaran kinerja untuk masing-masing pegawai
kemudian dinilai dengan mengidentifikasi skor yang paling baik menggambarkan
tingkat kinerja untuk masing-masing ciri.
2.
Metode Skala Penilaian Perilaku.
Metode Skala penilaian perilaku merupakan suatu
metode penilaian yang bertujuan mengkombinasikan manfaat dari insiden kritis
dan penilaian berdasarkan kuantitas dengan menjangkau skala berdasarkan
kukantitas pada contoh-contoh spesifik dari kinerja yang baik dan jelek.
3.
Metode Manajemen Berdasarkan Sasaran.
Metode ini meliputi penetapan tujuan khusus
yang dapat diukur bersama dengan masing-masing pegawai dan selanjutnya secara
berkala meninjau kemajuan yang dicapai.
Di dalam buku Sistem
Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN, 2003:259), penilaian kerja adalah
salah satu tahapan penting dalam siklus pembangunan sumber daya manusia, baik
di sektor publik maupun swasta. Penilaian kinerja ini merupakan proses
pengukuran terhadap tingkat penyelesaian (degree of completion) tugas-tugas
yang dilakukan oleh pegawai selama masa tertentu dengan menggunakan instrumen
yang sesuai dengan karakteristik tugas tersebut. Selanjutnya agar dapat
menghasilkan penilaian kinerja yang volid dan readible, maka perlu adanya
instrumen pengukuran kinerja sebagai alat yang dipakai untuk mengukur kinerja
individu seorang pegawai. Substansi instrumen pengukuran kinerja ini terdiri
dari aspek-aspek yang berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan tugas dan dapat
diukur, yaitu meliputi:
1. Prestasi
Kerja (Achievement) yaitu hasil kerja pegawai dalam menjalankan tugas baik
secara kualitas maupun kuantitas kerja.
2. Keahlian
(skill) yaitu kemampuan teknis yang dimiliki oleh pegawai dalam menjalankan
tugas-tugas yang dibebankan padanya.
3. Perilaku
(attitude) yaitu sikap atau tigkah laku pegawai yang melekat pada dirinya dan
dibawa dalam tugas-tugasnya. Perilaku disini mencakup kejujuran, tanggung
jawab, dan disiplin.
4. Kepemimpinan
(leadership) merupakan aspek kemampuan manajerial dan seni dalam memberikan
pengaruh kepada orang lain untuk mengkoordinasikan pekerjaan secara tepat dan
cepat, termasuk dalam hal pengawasan.
Dari beberapa pendapat
tersebut dapat diketahui bahwa syarat-syarat yang ditentukan untuk pelaksanaan
kinerja adalah sesuai dengan kualitas pekerjaan, ditentukan pula kuantitas
pekerjaan yang menjadi beban dari pegawai maupun organisasi. Kesanggupan
menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan pada setiap pegawai menjadi dasar
penilaian bagi pimpinan atau atasan.
Agar diperoleh hasil yang
memuaskan, prestasi kerja yang tepat berfokus pada:
1. Solusi
jangka panjang.
2. Pemberian
penghargaan terhadap kemampuan usaha dalam melaksanakan tugas.
3. Memberikan
penghargaan pada kepemimpinan.
4. Memberikan
penghargaan pada pertumbuhan dan perkembangan kinerja karyawan.
5. Memberikan
penghargaan pada komitmen dan loyalitas.
6. Memberikan
penghargaan pada kinerja tim dan kerja sama.
7. Memberikan
penghargaan pada kreativitas.
8. Tingkat
perolehan penghargaan.
Dalam Keputusan MENPAN NO:
63/KEP/M.PAN/7/2003 tanggal 10 Juli 2003, kriteria yang dipakai untuk melakukan
penilaian kualitas pelayanan publik adalah sebagai berikut kriteria kualitas,
dengan cakupan:
· Kesederhanaan,
tingkat penyelesaian terhadap tugas.
· Kejelasan
dan kepastian.
· Frekuensi
keluhan atau pujian terhadap kinerja pegawai, (jumlah pekerjaan yang tidak
tertunda).
· Penggunaan
perangkat-perangkat modern untuk mempercepat dan mempermudah pekerjaan
Setiap pegawai atau masing-masing
pegawai tidak sama dalam hal penilaian
kualitas maupun kuantitas pekerjaan. Tingkat penyelesaian dan kesalahan
dalam pelaksanaan tugas masing-masing pegawai juga berbeda. Demikian juga
jumlah pekerjaan yang diselesaikan, waktu yang dibutuhkan, dan pekerjaan yang
ditunda masing-masing pegawai berbeda. Berdasarkan hasil pegawai dalam
menjalankan pekerjaan baik secara kualitas dan kuantitas pekerjaan maka dapat
menghasilkan prestasi kerja. Beberapa ukuran tersebut dapat menjadi tujuan
penyelesaian tugas secara efektif dan cermin setiap pegawai dalam penentuan
kemandirian pegawai.
Manfaat penilaian kinerja
Sumber Daya Manusia, menurut Handoko (1992) adalah sebagai berikut:
1. Perbaikan
kinerja.
2. Penyesuaian-penyesuaian
kompensasi.
3. Keputusan-keputusan
penempatan.
4. Kebutuhan-kebutuhan
latihan dan pengembangan.
5. Perencanaan
dan pengembangan karir.
6. Penyimpangan-penyimpangan
proses staffing.
7. Ketidak
akuratan informasi.
8. Kesalahan-kesalahan
desain pekerjaan.
Berkaitan
dengan masalah kinerja, dalam rangka terlaksananya pemerintahan yang lebih
berdaya guna dan berhasil guna, bersih, serta bertanggung jawab, telah
diterbitkan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah dalam mencapai misi organisasi dan tujuan-tujuan serta
sasaran organisasi. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
kinerja pegawai adalah hasil yang telah dicapai, atau yang dikerjakan pegawai
dalam melaksanakan kerja atau tugas tertentu dalam mencapai tujuan organisasi.
Daftar Pustaka
Djati Sundring Pantja. 1999. Pengaruh
Variabel-variabel Motivasi terhadap Produktivitas Tenaga Kerja Karyawan pada
Industri Rumah Tangga di Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan
Universitas Kristen Petra, Volume 1 Nomor 1. Surabaya.
Sylvana Andi, 2002. Pengaruh Gaya Kepemimpinan
terhadap Kinerja dan Kepuasan Kerja Anggota Polri Polda Metro Jaya. Jurnal
Universitas Terbuka. Jakarta.
Marchelle, Vannecia S, Drs. Eddy M. Sutanto,
dkk. 2013. Jurnal Pengaruh Kepuasan Kerja dan Loyalitas Kerja Terhadap
Organizational Citizenship Behavior pada Karyawan PT.Surya Timur Sakti Jatim.
AGORA Vol 1, No. 1. Surabaya.
Engko, Cecilia. 2008. Pengaruh Kepuasan Kerja
Terhadap Kinerja Individual dengan Self
Esteem dan Self Efficacy Sebagai
Variabel Intervening. Jurnal bisnis dan Akuntansi, Vol 10, No. 1. Ambon.
Sunday, June 19, 2016
MOTIVASI KERJA
Motivasi kerja karyawan dipengaruhi oleh berbagai faktor
baik faktor internal maupun eksternal. Salah satu faktor eksternal yang
mempengarui motivasi kerja karyawan adalah kesejahteraan karyawan, penghargaan,
lingkungan kerja, masa kerja, serta pendidikan dan latihan kerja. Motivasi
ekstrinsik tetap diperlukan sebab tidak semua pekerjaan dapat menarik minat
bawahan atau sesuai dengan kebutuhan.
Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung
efektivitas kerja, karena motivasi adalah keadaan intern diri seseorang yang
mengaktifkan dan mengarahkan tingkah lakunya kepada sasaran tertentu. Adanya
motivasi kerja yang terdapat dalam diri pegawai yang disertai oleh disiplin
kerja yang baik merupakan dua aspek yang sangat diharapkan oleh instansi.
Efektivitas kerja di sini tidak akan dapat meningkat tanpa adanya motivasi
kerja yang tinggi untuk melakukan pekerjaan dengan optimal tanpa ada tekanan
dan paksaan dari orang lain yang diimbangi oleh disiplin yang tinggi.
Definisi motivasi
Orang-orang tidak hanya berbeda dalam kemampuan melakukan
sesuatu tetapi juga dalam motivasi mereka melakukan hal itu. " Motivasi
orang bergantung pada kuat lemahnya motif yang ada. Motif berarti suatu keadaan
di dalam diri seseorang (inner state) yang mendorong, mengaktifkan,
menggerakkan, mengarahkan dan menyalurkan perilaku ke arah tujuan."
(Koontz, 1990:115)
Peranan manusia dalam mencapai tujuan tersebut sangat
penting dalam pencapaian tujuan organisasi. Untuk menggerakkan manusia agar
sesuai dengan yang dikehendaki organisasi, maka haruslah dipahami motivasi
manusia bekerja pada suatu organisasi, karena motivasi inilah yang menentukan
perilaku orang-orang untuk bekerja atau dengan kata lain perilaku merupakan
cerminan yang paling sederhana dari motivasi. Adapun beberapa pengertian
motivasi adalah sebagai berikut:
"Motivasi berarti sesuatu hal yang menimbulkan
dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Jadi motivasi dapat pula
diartikan faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara
tertentu." (Manullang, 1982:76)
"Motivasi seringkali diartikan dengan istilah
dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan jiwa dan jasmani untuk
berbuat mencapai tujuan, sehingga motivasi merupakan suatu driving force yang
menggerakkan manusia untuk bertingkah laku, dan di dalam pebuatannya itu
mempunyai tujuan tertentu." (As'ad, 1995:45)
Motivasi adalah sesuatu yang menimbulkan proses pemberian
dorongan bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau
bekerja ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi secara efisien."
(Sarwoto, 1983:135)
Dari ketiga definisi tentang motivasi dapat ditarik
kesimpulan bahwa motivasi adalah suatu dorongan kebutuhan dan keinginan
individu yang diarahkan pada tujuan untuk memperoleh kepuasan dari apa yang
dibutuhkannya. Dalam memotivasi karyawan, manager harus mengetahui motif dan
motivasi yang diinginkan karyawan sehingga karyawan mau bekerja ikhlas demi
tercapainya tujuan perusahaan.
Daftar
Pustaka
As’ad,
Moh. 2003. Psikologi Industri. Edisi keempat. Liberty Yogyakarta.
Dharma, Agus. 1985. Manajemen
Prestasi Kerja. Edisi Pertama Rajawali, Jakarta.
Gibson, James L., Ivancevich, Donnelly, Jr, 1995. Organisasi: Perilaku, Struktur,
Proses. Edisi I. Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Hamalik, Oemar. 1993. Psychologi
Manajemen. Tri Gendakarya, Bandung.
Handoko, Hani. 2002. Manajemen Personalia. BPFE, Yogyakarta.
Hariandja, Marihot, T.E. 2002. Manajemen
Sumber Daya Manusia, Grasindo.
Jakarta.
Jakarta.
Mangkunegara, A. Prabu. 2005. Evaluasi
Kinerja SDM, Refika Aditama, Bandung.
Saturday, June 18, 2016
Saturday, June 11, 2016
Motivasi Kerja

Motivasi Kerja (edit)
I. Definisi
Robbins dan Judge (2007) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan.
Friday, June 10, 2016
Motivasi Kerja
Istilah motivasi berasal dari bahasa
latin yaitu movere yang berarti bergerak atau menggerakkan. Motivasi
diartikan juga sebagai suatu kekuatan sumber daya yang menggerakkan dan
mengendalikan perilaku manusia.
Wednesday, June 8, 2016
MOTIVASI KERJA
MOTIVASI KERJA
Pengertian
Motivasi Kerja adalah sangat penting bagi Anda baik yang ingin bertahan di karir tertentu, untuk mengembangkan karir, bahkan untuk pancapai jenjang karir tertinggi. Tanpa motivasi kerja adalah tidak mungkin Anda mendapatkan prestasi kerja yang tinggi yang akan berimbas pada kemajuan karir Anda.
Orang-orang yang sukses dalam karir adalah mereka yang memiliki motivasi kerja. Jika seseorang yang memiliki keterampilan begitu memukau, artinya dia memiliki motivasi tinggi untuk menguasai keterampilan itu. Jika seseorang yang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan cepat, artinya dia memiliki motivasi kerja yang tinggi. Termasuk mereka yang selalu disiplin bekerja, karena motivasi kerjanya yang luar biasa.
Persaingan kerja bukanlah hal yang mudah. Setiap tahun, akan muncul ribuan tenaga kerja baru yang siap menggantikan posisi Anda. Belum rekan kerja, para pelamar yang datang dari luar negeri, bahkan keryawan di perusahaan pesaing pun bisa mengancam karir Anda jika Anda tidak mampu mempertahankan kinerja yang baik. Jadilah yang terbaik, pertahankan motivasi kerja Anda.
Faktor Yang mempengaruhi Motivasi Kerja
Tentu saja ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi motivasi kerja karyawan di sebuah perusahaan.
Faktor kebijakan perusahaan. Melipui gaji, tunjangan, dan pensiun. Dampaknya terhadap motivasi kerja biasanya hanya sekedar untuk bertahan. Tidak memberikan dampak yang begitu besar dalam peningkatakn kinerja. Jadi, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan masalah gaji, pensiun, dan tunjangan untuk memotivasi karyawan untuk mendapatkan kinerja terbaik. Kecuali, jika perusahaan mampu memberikan gaji selangit, jauh diatas rata-rata gaji, mungkin akan memiliki pengaruh. Saya katakan, mungkin.
Faktor imbalan atau reward. Jika dikelola dengan baik, sistem imbalan atau reward terhadap karyawan yang berprestasi akan memberikan dampak yang besar untuk peningkatan motivasi.
Faktor kultur perusahaan. Nah, yang ini, jangan dianggap sepele. Meski terlihat sederhana, tetapi masalah kultur perusahaan bisa memberikan dampak yang besar dalam peningkatan motivasi kerja. Kultur-kultur yang mengedepankan rasa hormat, kebersamaan, kejujuran, dan keakraban akan meningkatkan motivasi kerja cukup signifikan.
Faktor kondisi mental karyawan itu sendiri. Ini yang terpenting. Jika seorang karyawan yang memiliki mental yang kuat, dia akan tetap memiliki motivasi kerja meski ketiga faktor diatas kurang mendukung. Mereka memiliki pikiran jauh ke depan. Pandangannya tidak sempit hanya saat ini saja. Mereka memiliki jiwa besar untuk tetap memberikan kontribusi sebaik mungkin. Sayangnya, faktor ini kadang terlewatkan baik oleh karyawannya sendiri maupun oleh perusahaan.
I. Definisi
Robbins dan Judge (2007) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan.
Selanjutnya, Samsudin (2005) memberikan pengertian motivasi sebagai proses mempengaruhi atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan. Motivasi juga dapat diartikan sebagai dorongan (driving force) dimaksudkan sebagai desakan yang alami untuk memuaskan dan memperahankan kehidupan.
Mangkunegara (2005,61) menyatakan : “motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja di perusahaan (situation). Motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja maksimal”.
Berdasarkan pengertian di atas, maka motivasi merupakan respon pegawai terhadap sejumlah pernyataan mengenai keseluruhan usaha yang timbul dari dalam diri pegawai agar tumbuh dorongan untuk bekerja dan tujuan yang dikehendaki oleh pegawai tercapai.
II. Teori Motivasi
Secara garis besar, teori motivasi dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yaitu teori motivasi dengan pendekatan isi/kepuasan (content theory), teori motivasi dengan pendekatan proses (process theory) dan teori motivasi dengan pendekatan penguat (reinforcement theory)
Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara satu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Apabila pegawai kebutuhannya tidak terpenuhi maka pegawai tersebut akan menunjukkan perilaku kecewa. Sebaliknya, jika kebutuhannya terpenuhi amak pegawai tersebut akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi dari rasa puasnya.
Kebutuhan merupakan fundamen yang mendasari perilaku pegawai. Karena tidak mungkin memahami perilaku tanpa mengerti kebutuhannya.
Abraham Maslow (Mangkunegara, 2005) mengemukakan bahwa hierarki kebutuhan manusia adalah sebagai berikut :
Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan untuk makan, minum, perlindungan fisik, bernapas, seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah atau disebut pula sebagai kebutuhan yang paling dasar
Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan akan perlindungan diri dari ancaman, bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidp
Kebutuhan untuk rasa memiliki (sosial), yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai
Kebutuhan akan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain
Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill dan potensi. Kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide, gagasan dan kritik terhadap sesuatu
Teori Keadilan
Keadilan merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja seseorang, jadi perusahaan harus bertindak adil terhadap setiap karyawannya. Penilaian dan pengakuan mengenai perilaku karyawan harus dilakukan secara obyektif. Teori ini melihat perbandingan seseorang dengan orang lain sebagai referensi berdasarkan input dan juga hasil atau kontribusi masing-masing karyawan (Robbins, 2007).
Teori X dan Y
Douglas McGregor mengemukakan pandangan nyata mengenai manusia. Pandangan pertama pada dasarnya negative disebut teori X, dan yang kedua pada dasarnya positif disebut teori Y (Robbins, 2007).
McGregor menyimpulkan bahwa pandangan manajer mengenai sifat manusia didasarkan atas beberapa kelompok asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung membentuk perilaku mereka terhadap karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut.
Teori dua Faktor Herzberg
Teori ini dikemukakan oleh Frederick Herzberg dengan asumsi bahwa hubungan seorang individu dengan pekerjaan adalah mendasar dan bahwa sikap individu terhadap pekerjaan bias sangat baik menentukan keberhasilan atau kegagalan. (Robbins, 2007)
Herzberg memandang bahwa kepuasan kerja berasal dari keberadaan motivator intrinsik dan bawa ketidakpuasan kerja berasal dari ketidakberadaan faktor-faktor ekstrinsik. Faktor-faktor ekstrinsik (konteks pekerjaan) meliputi : (1) Upah, (2) Kondisi kerja, (3) Keamanan kerja, (4) Status, (5) Prosedur perusahaan, (6) Mutu penyeliaan, (7) Mutu hubungan interpersonal antar sesama rekan kerja, atasan, dan bawahan
Keberadaan kondisi-kondisi ini terhadap kepuasan karyawan tidak selalu memotivasi mereka. Tetapi ketidakberadaannya menyebabkan ketidakpuasan bagi karyawan, karena mereka perlu mempertahankan setidaknya suatu tingkat ”tidak ada kepuasan”, kondisi ekstrinsik disebut ketidakpuasan,atau faktor hygiene. Faktor Intrinsik meliputi : (1) Pencapaian prestasi, (2) Pengakuan, (3) Tanggung Jawab, (4) Kemajuan, (5) Pekerjaan itu sendiri, (6) Kemungkinan berkembang. Tidak adanya kondisi-kondisi ini bukan berarti membuktikan kondisi sangat tidak puas. Tetapi jika ada, akan membentuk motivasi yang kuat yang menghasilkan prestasi kerja yang baik. Oleh karena itu, faktor ekstrinsik tersebut disebut sebagai pemuas atau motivator.
Teori Kebutuhan McClelland
Teori kebutuhan McClelland dikemukakan oleh David McClelland dan kawan-kawannya. Teori ini berfokus pada tiga kebutuhan, yaitu (Robbins, 2007) :
a) Kebutuhan pencapaian (need for achievement) : Dorongan untuk berprestasi dan mengungguli, mencapai standar-standar, dan berusaha keras untuk berhasil
b) Kebutuhan akan kekuatan (need for pewer) : kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya.
c) Kebutuhan hubungan (need for affiliation) : Hasrat untuk hubungan antar pribadi yang ramah dan akrab.
III. Model Pengukuran Motivasi
Model-model pengukuran motivasi kerja telah banyak dikembangkan, diantaranya oleh McClelland (Mangkunegara, 2005:68) mengemukakan 6 (enam) karakteristik orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi, yaitu : (1) Memiliki tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi, (2) Berani mengambil dan memikul resiko, (3) Memiliki tujuan realistik, (4) Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisasikan tujuan, (5) Memanfaatkan umpan balik yang konkrit dalam semua kegiatan yang dilakukan, dan (6) Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogramkan.
Edward Murray (Mangkunegara, 2005,68-67) berpendapat bahwa karakteristik orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi adalah sebagai berikut : (1) Melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya, (2) Melakukan sesuatu dengan mencapai kesuksesan, (3) Menyelesaikan tugas-tugas yang memerlukan usaha dan keterampilan, (4) Berkeinginan menjadi orang terkenal dan menguasai bidang tertentu, (5) Melakukan hal yang sukar dengan hasil yang memuaskan, (6) Mengerjakan sesuatu yang sangat berarti, dan (7) Melakukan sesuatu yang lebih baik dari orang lain.
Referensi :
Anwar Prabu Mangkunegara. 2005. Evaluasi Kinerja. Bandung : Refika Aditama
Robbbins dan Judge. 2007. Perilaku Organisasi, Buku 1 dan 2. Jakarta : Salemba Empat
Sadili Samsudin. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung Pustaka Setia.
Subscribe to:
Posts (Atom)





