Showing posts with label Y55-Hilman. Show all posts
Showing posts with label Y55-Hilman. Show all posts
Friday, June 24, 2016
Analisi Pekerjaan
Analisis Pekerjaan
Hilman Arifin Koeswara
Fakultas Teknik
Program Studi Teknik Industri
Universitas Mercu Buana
E-mail :hilmanarifin@gmail.com
ABSTRAK
Untuk
merancang dan menggambarkan desain pekerjaan dan analisa pekerjaan, Karena
setiap bidang pekerjaan harus menetapkan dan mendeskripsikan spesifikasi
pekerjaan yang dibutuhkan pada setiap bagian pekerjaannya. Kerena setiap
bidang/bagian pekerjaan mempunyai nilai kesulitan yang beragam maka dari diitu
dibutuhkan analisa pekerjaan untuk mendukung aspek bidang pekerjaan yang
berbeda-beda agar setiap bidang pekerjaan tidak hanya mengandalkan 1 orang saja
melainkan bisa banyak orang yang dapat mengerti pada bidang/bagian pekerjaan
lainnya . Hal ini biasa disebut untuk kebutuhan rooling/ mutasi bagian
karyawan.
Kata
Kunci : Analisa pekerjaan, desain pekerjaan, spesifikasi pekerjaan, deskripsi
pekerjaan
I.
PENDAHULUAN
Sumber
daya manusia pada hakekatnya merupakan salah satu modal dan memegang suatu
peran yang paling penting dalam mencapai tujuan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan
sangat perlu untuk dapat mengelola sumber daya manusia yang dimilikinya dengan
sebaik mungkin. Hal demikian merupakan salah satu kunci sukses bagi suatu perusahaan
dalam mewujudkan keseimbangan antara kebutuhan karyawan dengan tuntutan dan
kemampuan perusahaan, agar keseimbangan dapat berkembang secara produktif dan
wajar (Mangkunegara, 2009, p. 1).
Dalam
perusahaan harus terdapat suatu departemen yang dalam pelaksanaan tugasnya
adalah mengatur fungsi perencanaan sumber daya manusia. Dalam melaksanakan tugas
tersebut, maka departemen yang bersangkutan akan mengkalkulasikan perihal
jumlah karyawan yang akan diberikan wewenang dalam hal jabatan atau tanggung
jawab pekerjaan. Dengan demikian, job design dan job analysis diperlukan oleh
suatu perusahaan agar kinerja pekerjaan bisa dilaksanakan secara efektif.
Ivancevich (2007, p. 183) menyatakan bahwa job design merujuk pada tahap
pertama saat manajemen menciptakan suatu pekerjaan dengan merinci tugas dan
tanggung jawabnya.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah penting dilakukan analisis pekerjaan ?
1.2.2 Seberapa besar efek dari setiap anlisis pekerjaan terhadap
karyawan dan pekerjaan ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui fungsi dari leader/supervisor
1.3.2 Untuk mengetahui tahapan awal ketika ingin melakukan anisis
pekerjaan
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian dan tujuan analisis pekerjaan
Yang dimaksud dengan analisis pekerjaan adalah proses pengumpulan informasi mengenai suatu pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pekerja yang dilaksanakan dengan cara mengamati atau mengadakan interview terhadap pekerja dengan bukti-bukti yang benar dari supervisor.
Yang dimaksud dengan analisis pekerjaan adalah proses pengumpulan informasi mengenai suatu pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pekerja yang dilaksanakan dengan cara mengamati atau mengadakan interview terhadap pekerja dengan bukti-bukti yang benar dari supervisor.
Analisis pekerjaan ini menghasilkan suatu daftar uraian pekerjaan pernyataan tertulis mengenai kewajiban pekerja yang juga mencakup standar kualifikasi, tingkat pendidikan, pengalaman minimal yang diperlukan serta karakter pekerjaan itu sendiri.
Terdapat 12 macam tujuan diadakannya analisis pekerjaan, diantaranya adalah:
1.
Job description,
2.
Job classification,
3.
Job evaluation,
4.
Job design restructuring,
5.
Personnel requirement,
6.
Performance appraisal,
7.
Worker training,
8.
Worker mobility,
9.
Efficiency,
10.
Safety,
11.
Human resource planning,
12.
Legal requirements.
B. Manfaat Analisis Pekerjaan
Analisis pekerjaan mempunyai manfaat dalam suatu pengorganisasian, antara lain :
· Analisis susunan kepegawaian (Informasi pekerjaan)
· Desain Organisasi (menganalisis elemen, menyusun posisi organisasi)
· Redesain pekerjaan (untuk meningkatkan metode pekerja, mengurangi kesalahan, eliminasi yang tidak perlu, perbaikan kinerja)
Tahap-tahap analisis
Dalam analisis pekerjaan terdapat dua langkah utama yang harus dilakukan, yaitu
(1) penentuan tugas-tugas utama, kegiatan-kegiatan, perilaku-perilaku atau kewajiban-kewajibanyang akan dilaksanakan dalam pekerjaan.
(2) penetapan pengetahuan (knowledge), kemampuan-kemampuan (abilities), kecakapan-kecakapan (skills), dan beberapa karakteristik lainnya (faktor-faktor kepribadian, sikap, ketangkasan atau karakteristik fisik dan mental yang di perlukan bagi pekerjaan) yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tugas-tugas.
BAB III
METODOLOGI
3.1 RUANG LINGKUP KAJIAN
3.1.1 Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan berupa data kualitatif/data non numerik, yaitu
data yang berbentuk kata, kalimat, dan gambar. Sedangkan sumber data tersebut
berasal dari:
a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber penelitian
melalui pengamatan secara langsung
b. Data Sekunder, yaitu data yang sudah diperoleh dalam bentuk yang sudah
jadi, sudah diolah oleh pihak lain metode kepustakaan).
3.1.2 Teknik Pengolahan Data
Metode Deskriptif Kualitatif, adalah hasil
penelitian beserta analisis nya diuraikan dalam suatu tulisan ilmiah yang
berbentuk narasi, kemudian dari analisis yang telah dilakukan diambil suatu
kesimpulan. Data kualitatif berasal dari data yang berbentuk kata-kata, bukan
dalam bentuk angka (Anonym, 2013)
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Supervisor
Salah satu contoh analisa pekerjaan yang
dibebankan oleh supevisor adalah sebagai berikut :
Supervisor Dari hasil desain pekerjaan
supervisor, untuk topik tugas, wewenang, tanggung jawab dan tujuan termasuk
dalam kelompok deskripsi pekerjaan. Berikut merupakan tugas supervisor, yaitu
membuat laporan penjualan tiap bulan dan mengevaluasi hasil kerja bawahannya,
mengorder barang,
membuat price tag barang baru, briving
pegawai, mengontrol kebersihan barang display, mengurus keluhan konsumen, training
pegawai, bertemu dengan distributor dan melaporkan kinerja pegawai kepada
direktur. Wewenang supervisor yaitu menguasai dan mengendalikan kinerja
bawahannya, dan mengevaluasi kinerja bawahannya. Tanggung jawab supervisor,
adalah menjaga kestabilitas ketersedian barang disuplai didivisi dapat
menunjang target yang dibebankan, mengatasi keluhan konsumen dan memastikan
setiap pegawai terlibat dalam deskripsi pekerjaannya. Tujuan supervisor, adalah
mengkoordinasikan barang untuk disuplai dari divisi satu kedivisi lainnya,
menjaga kestabilitas divisi agar selalu
kondusif dan memaksimalkan penjualan perusahaan dan melaporkan produktifitas
kepada atasan seperti manager/manajemen. Untuk topik keahlian yang dibutuhkan,
pendidikan dan kemampuan dasar termasuk dalam golongan spesifikasi pekerjaan.
Berikut merupakan keahlian yang dibutuhkan
supervisor, yaitu mampu berkomunikasi dengan baik, cekatan dalam segala hal
menyangkut kegiatan toko, bisa memimpin bawahannya, dan giat bekerja.
Pendidikan yang dibutuhkan supervisor, adalah Diploma atau
S1(Sarjana).Kemampuan dasar yang harus dimiliki supervisor, yaitu komunikasi,
angka, analitikal dan hubungan dengan orang lain.
B. Metode Mengumpulkan Analisis Pekerjaan
Melakukan analisis pekerjaan biasanya
melibatkan gabungan dari seorang spesialis SDM, pekerja, dan penyelia pekerja.
Spesialis SDM (manaajer SDM, analis pekerjaan, atau konsultan). Penyelia dan
pekerja bisa mengisi kuesioner yang berisi aktivitas bawahanya. Penyelia dan
pekerja nantinya bisa menelaah dan mengesahkan kesimpulan analis pekerjaan
mengenai aktivitas dan kewajiban pekerjaaan itu.
Metode yang paling populer untuk mengumpulkan data analisis pekerjaan
adalah wawancara, kuosioner, observasi, dan diary/catatan laporan.
1. Wawancara
Para manajer menggunakan tiga jenis wawancara untuk mengumpulkan data analisis
pekerjaan, yaitu wawancara individual dengan setiap karyawan, wawancara
kelompok dengan sekelompok karyawan yang memiliki pekerjaan sama, dan wawancara
dengan satu atau banyak penyelia yang mengetahui pekerjaan tersebut.
Jenis wawancara apapun yang digunakan, penanya harus yakin bahwa orang yang
diwawancarai memahami sepenuhnya alasan wawancara, karena ada kecenderungan
bahwa wawancara adalah bentuk dari penilaian benar atau salah yang menjadi
evaluasi efisiensi.
2. Kuesioner
Sebelumnya harus menentukan bagaimana struktur kuesioner dan pertanyaan
yang digunakan. Setiap karyawan harus mengisi satu dari kemungkinan ratusan
kewajiban atau tugas khusus. Orang tersebut diminta untuk menunjukan apakah
melaksanakan setiap tugas dan berapa lama waktu yang digunakanya.
Menggunakan kuesioner adalah cara yang cepat dan efisien. Namun,
mengembangkan dan mengujinya (dengan meyakinkan pekerja memahami pertanyaanya)
bisa menjadi mahal dan memakan waktu.
3. Observasi
Metode ini berguna untuk pekerjaan yang terdiri dari aktivitas fisik yang
dapat diamati (ex.pekerja perakitan dan petugas akunting). Namun tidak sesuai
untuk pekrjaan yang membutuhkan banyak aktivitas mental (pengacara, insinyur
perancangan) dan bila karyawan hanya sekali-kali terlibat dalam aktivitas
penting (seorang juru rawat yang menangani gawat darurat). Masalah yang lain
adalah reaktivitas, pekerja berubah perilakunya karena kegiata pengawasan.
Pendekatan yang dilakukan adalah mengamati pekerjaan selama siklus
pekerjaan berlangsung dan mencatatnya. Kemudian mengakumulasikan informasi dan
hasil wawancara dengan pekerja. Lalu memintanya untuk menjelaskan hal yang
tidak dipahami dan aktivitas yang tidak diamati. Pengamatan dan wawancara juga
dapat dilakukan secara simultan (bertanya saat pekerja melakukan pekerjaanya).
4. Catatan Laporan
Partisipan
Pendekatan lain adalah dengan menanyakan kepada pekerja untuk menyimpan
sebuah catatan laporan tentang aktivitas yang mereka lakukan beserta waktunya.
Ini dapat menghasilkan gambaran yang lengkap tentang pekerjaan, khususnya saat
ditambahkan wawancara dengan pekerja dan penyelianya. Meskipun karyawan mungkin
membesarkan atau mengurangi aktivitas lainnya. Namun, sifat yang rinci dan
kronologis dari laporan cenderung untuk mengurangi masalah ini
BAB V
KESIMPULAN
Analisa pekerjaan wajib dilakukan sebagai
penunjang dari hasil kinerja/kerja setiap harinya, baik dari aspek
produktifitas quantity qualitas produk dan pekerjanya. Informasi mengenai
deskripsi pekerjaan untuk semua jabatan terdapat pada tujuan pekerjaan,
wewenang, tugas dan tanggung jawab. Sedangkan informasi mengenai spesifikasi pekerjaan
terdapat pada keahlian yang dibutuhkan, pendidikan yang dimiliki dan kemampuan
dasar yang harus dimiliki.
DAFTAR PUSTAKA
Faustino Cordoso Gomes, Manajemen Sumber Daya Manusia,
Yogyakarta, ANDI, 2003.
Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta,
Bumi Aksara, 2006.
Gary Dessler, ManajemenSumberDayaManusia; Edisi 9,trj. Eli
Tanya, INDEKS kelompok GRAMEDIA, Jakarta, 2004
Flippo, Edwin B. 1994. Manajemen Personalia. Jakarta: Erlangga
Pasolina. 2010. Jurnal: Analisis Pekerjaan.http://pasolina.blog.uns.ac.id/2010/05/10/analisis-pekerjaan/ diakses pada
tanggal 15 April 2016
Yusrizalfirzal. 2011. Jurnal: Analisis
Pekerjaan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia.https://yusrizalfirzal.wordpress.com/2011/06/21/analisis-pekerjaan-dalam-manajemen-sumber-daya-manusia/ diakses pada tanggal
15 April 201
Pelatihan Dan Pengembangan
Metode
Pelatihan Kerja:
Menurut Cherrington (1995:358), dikatakan bahwa metode dalam pelatihan dibagi menjadi dua yaitu on the job traming dan ojf the joh training. On the joh training lebih banyak digunakan dibandingkan dengan offthejob training. Hal ini disebabkan karena metode on the job training lebih berfokus pada peningkatan produktivitas secara cepat. Sedangkan metode off the joh training lebih cenderung berfokus pada perkembangan dan pendidikan jangka panjang.
Menurut Cherrington (1995:358), dikatakan bahwa metode dalam pelatihan dibagi menjadi dua yaitu on the job traming dan ojf the joh training. On the joh training lebih banyak digunakan dibandingkan dengan offthejob training. Hal ini disebabkan karena metode on the job training lebih berfokus pada peningkatan produktivitas secara cepat. Sedangkan metode off the joh training lebih cenderung berfokus pada perkembangan dan pendidikan jangka panjang.
On The Job
Training dibagi menjadi 6 macam yaitu:
1. Job instruclion training
pelatihan ini memerlukan analisa kinerja pekerjaan secara teliti. Pelatihan ini dimulai dengan penjelasan awal tentang tujuan pekerjaan, dan menunjukan langkah-langkah pelaksanan pekerjaan.
2. Apprenticeship
pelatihan ini mengarah pada proses penerimaan karyawan baru, yang bekerja bersama dan dibawah bimbingan praktisi yang ahli untuk beberapa waktu tertentu. Keefektifan pelatihan ini tergantung pada kemampuan praktisi yang ahli dalam mengawasi proses pelatihan.
3. Internship dan assistantships
pelatihan ini hampir sama dengan pelatihan apprenliceship hanya saja pelatihan ini mengarah pada kekosongan pekerjaan yang menuntut pendidikan formal yang lebih tinggi. Contoh internship training adalah cooperalive education project, maksudnya
adalah pelatihan bagi pelajar yang menerima pendidikan formal di sekolah yang bekerja di suatu perusahan dan diperlakukan sama seperti karyawan dalam perusahaan tetapi tetap dibawah pengawasan praktisi yang ahli.
4. Job rotation dan transfer
adalah proses belajar yang biasanya untuk mengisi kekosongan dalam manajemen dan teknikal. Dalam pelatihan ini terdapat 2 kerugian yahu: peserta pelatihan hanya merasa dipekerjakan sementara dan tidak mempunyai komitmen untuk terlibat dalam pekerjaan dengan sungguh-sungguh, yang kedua, banyak waktu yang terbuang untuk memberi orientasi pada perserta terhadap kondisi pekerjaan yang baru.
Tetapi pelatihan ini juga mempunyai keuntungan yaitu: jika pelatihan ini diberikan oleh manajer yang ahli maka peserta akan memperoleh tambahan pengetahuan mengenai peiaksanaan dan praktek dalam pekerjaan.
5. Junior boards dan committee assingments
alternatif pelatihan dengan memindahkan perserta pelatihan kedalam komite untuk bertanggungjawab dalam pengambilan keputusan administrasi. Dan juga menempatkan perserta dalam anggota eksekutif agar memperoleh kesempatan dalam bennteraksi dengan eksekutif yang lain.
6. Couching dan counseling
pelatihan ini merupakan aktifitas yang menharapkan timbal balik dalam penampilan kerja, dukungan dari pelatih, dan penjelasan secara berlahan bagaimana melakukan pekerjaan secara tepat.
Daftar Pustaka ; 2010 All Rights Reserved Jurnal Manajemen, Bahan Kuliah Manajemen .
1. Job instruclion training
pelatihan ini memerlukan analisa kinerja pekerjaan secara teliti. Pelatihan ini dimulai dengan penjelasan awal tentang tujuan pekerjaan, dan menunjukan langkah-langkah pelaksanan pekerjaan.
2. Apprenticeship
pelatihan ini mengarah pada proses penerimaan karyawan baru, yang bekerja bersama dan dibawah bimbingan praktisi yang ahli untuk beberapa waktu tertentu. Keefektifan pelatihan ini tergantung pada kemampuan praktisi yang ahli dalam mengawasi proses pelatihan.
3. Internship dan assistantships
pelatihan ini hampir sama dengan pelatihan apprenliceship hanya saja pelatihan ini mengarah pada kekosongan pekerjaan yang menuntut pendidikan formal yang lebih tinggi. Contoh internship training adalah cooperalive education project, maksudnya
adalah pelatihan bagi pelajar yang menerima pendidikan formal di sekolah yang bekerja di suatu perusahan dan diperlakukan sama seperti karyawan dalam perusahaan tetapi tetap dibawah pengawasan praktisi yang ahli.
4. Job rotation dan transfer
adalah proses belajar yang biasanya untuk mengisi kekosongan dalam manajemen dan teknikal. Dalam pelatihan ini terdapat 2 kerugian yahu: peserta pelatihan hanya merasa dipekerjakan sementara dan tidak mempunyai komitmen untuk terlibat dalam pekerjaan dengan sungguh-sungguh, yang kedua, banyak waktu yang terbuang untuk memberi orientasi pada perserta terhadap kondisi pekerjaan yang baru.
Tetapi pelatihan ini juga mempunyai keuntungan yaitu: jika pelatihan ini diberikan oleh manajer yang ahli maka peserta akan memperoleh tambahan pengetahuan mengenai peiaksanaan dan praktek dalam pekerjaan.
5. Junior boards dan committee assingments
alternatif pelatihan dengan memindahkan perserta pelatihan kedalam komite untuk bertanggungjawab dalam pengambilan keputusan administrasi. Dan juga menempatkan perserta dalam anggota eksekutif agar memperoleh kesempatan dalam bennteraksi dengan eksekutif yang lain.
6. Couching dan counseling
pelatihan ini merupakan aktifitas yang menharapkan timbal balik dalam penampilan kerja, dukungan dari pelatih, dan penjelasan secara berlahan bagaimana melakukan pekerjaan secara tepat.
Daftar Pustaka ; 2010 All Rights Reserved Jurnal Manajemen, Bahan Kuliah Manajemen .
Thursday, June 23, 2016
Abstrak Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
Analisis : Dari definisi di atas dapat dilihat bahwa Hasibuan (2000) memberikan penekanan dalam pemahaman MSDM yaitu sebagai sebuah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja. Dalam melakukan kegiatan manajemen sumber daya tidak hanya bagaimana seseorang pimpinan mengetahui potensi pegawainya, namun lebih pada bagaimana seorang pemimpin mendesain sebuah formulasi tertentu dalam mengaplikasikan para sumber daya pegawai yang ada sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Desain yang telah dibuat tersebut diharapkan mampu mengkoordinir keinginan-keinginan para pegawai serta koordinasi antara pegawai dan pimpinan serta antar pegawai. Melalui skema desain yang tepat diharapkan mampu meningkatkan kinerja para pegawai secara efektif dan efisien sehingga mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
- Moses N. Kiggundu (1989) dalam Ambar Teguh Sulistyani dan Rosidah (2003: 11);
Human resources management is the development and utilization of personnel for the effective achievement of individual, organizational, community, national, and international goals and objectives. (MSDM adalah pengembangan dan pemanfaatan pegawai dalam rangka tercapainya tujuan dan sasaran individu, organisasi, masyarakat, bangsa dan internasioanal yang efektif).
Analisis : Dalam definisi menurut Kinggundu (1989) tersebut dapat dilihat bersama bahwa pendapat Kiggundu (1989), memberikan penekanan pada kata “development and utilization of personnel for the effective achievement”. Secara garis besar kalimat tersebut memiliki pemahaman MSDM sebagai sebuah upaya mengembangkan potensi para pegawai melalui beberapa pelatihan, baik yang sifatnya umum maupun khusus guna memunculkan pegawai yang benar-benar berkompetensi dalam bidangnya. Menurut Notoatmodjo (1992: 5) pengembangan sumber daya secara mikro adalah suatu proses perencanaan pendidikan dan pelatihan dan pengelolaan tenaga atau karyawan untuk mencapai suatu hasil yang optimum. Sebagai tindak lanjutnya ketika seorang pegawai sudah mampu meningkatkan kapasitasnya, para pegawai tersebut diproyeksikan dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan di awal baik itu keberhasilan individu, masyarakat, maupun organisasi. Namun, dalam pemahaman tentang pengertian MSDM tersebut masih sangat terbatas belum terlalu kompleks hanya sebatas upaya pengembangan serta pendayagunaan pegawai saja dalam mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan.
Daftar Pustaka : yuharariskiyah 2013
Wednesday, June 22, 2016
Manajemen Kompensasi Terhadap Kepuasan Kinerja Kryawan
Kompensasi sangat
penting bagi pegawai, hal ini karena kompensasi merupakan sumber penghasilan
bagi mereka dan keluarganya. Kompensasi juga menjadi suatu gambaran status
sosial seorang pegawai. Kompensasi yang sesuai juga akan menentukan apakah
pegawai akan tetap bertahan bekerja atau keluar dari tempatnya bekerja.
Pemberian kompensasi dimaksudkan agar pegawai dapat bekerja secara maksimal
sehingga menghasilkan kinerja yang optimal
A. Kompensasi
Pengertian kompensasi menurut Drs. Malayu
S.P. Hasibuan (2005) adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang
langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa
yang diberikan kepada perusahaan. Menurut Tulus dalam Jurnal Bahrul Yaman
(2009) kompensasi atau balas jasa didefinisikan sebagai pemberian penghargaan
langsung maupun tidak langsung, financial maupun non-finansial yang adil dan
layak kepada karyawan atas sumbangan mereka dalam pencapaian tujuan organisasi.
Kompensasi
merupakan sebuah komponen penting dalam hubungannya dengan karyawan. Kompensasi
sangat dipengaruhi faktor-faktor internal dan eksternal perusahaan. Kompensasi
sangat dipengaruhi oleh tekanan-tekanan faktor-faktor pasar kerja, posisi rebut
tawar kolektif, peraturan pemerintah, filosofi manajemen puncak tentang
pembayaran dan manfaat termasuk tentang kompensasi internasional
(Mangkuprawira, 2004).
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kompensasi
Menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan (2005)
faktor-faktor yang mempengarihi besarnya kompensasi, antara lain yaitu:
a. Penawaran dan permintaan tenaga kerja;
b. Kemampuan yang dan
kesediaan perusahaan;
c. Serikat buruh/organisai karyawan;
d. Produktivitas
kerja karyawan;
e. Pemerintah
dengan undang-undang dan keppresnya;
f.
Biaya hidup/cost of living;
g. Posisi
jabatan karyawan;
h. Pendidikan
dan pengalaman karyawan;
i. Kondisi
perekonomian nasonal;
j. Jenis dan
sifat pekerjaan;
Dari-uraian di atas dapat diketahui
bahwa penawaran dan permintaan akan tenaga kerja mempengaruhi program
kompensasi, di mana jika penawaran jumlah tenaga kerja langka gaji cenderung
tinggi, sebaliknya jika permintaan tenaga kerja yang berkurang/kesempatan kerja
menjadi langka, gaji cenderung rendah.Daftar Pustaka : Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ Diakses 22 Juni 2016 Pukul 20.00 WIB
Manajemen Kerja
Pengertian Manajemen
Kinerja
§
Pendekatan strategis dan terpadu untuk
mencapai sukses berkelanjutan pada organisasi dengan memperbaiki kinerja
karyawan yang bekerja di dalamnya dan dengan mengembangkan kapabilitas dan
kontributor individu.
§
Merupakan gaya manajemen dalam mengelola
sumber daya yang berorientasi pada kinerja yang melakukan proses komunikasi
secara terbuka dan berkelanjutan dengan menciptakan visi bersama dan pendekatan
strategis serta terpadu sebagai kekuatan pendorong untuk mencapai tujuan
organisasi.
Tujuan
manajemen kinerja
1.
Membangun harapan yang jelas dan
pemahaman tentang:
2.
Fungsi kerja esensial yang diharapkan
dari para karyawan
3.
Seberapa besar kontribusi karyawan bagi
pencapaian tujuan organisasi
4.
Apa arti konkretnya melakukan pekerjaan
dengan lebih baik
5.
Bagaimana S D M bekerjasama untuk
mempertahankan,memperbaiki,kinerja
6.
Bagaimana prestasi kerja akan
diukur
7.
Mengenali berbagai hambatan kinerja dan
memperbaikinya
rinsip dasar
manajemen kinerja
1.
Menghargai kejujuran,
2.
Memberikan pelayanan,
3.
Tanggung jawab
4.
Adanya perumusan tujuan
5.
Terdapat konsensus dan kerja sama
6.
Sifatnya berkelanjutan,
7.
Terjadi komunikasi dua arah
8.
Mendapatkan umpan balik
Subscribe to:
Posts (Atom)




