Pendahuluan
Motivasi Kerja
Motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan individu. Sikap dan nilai tersebut merupakan suatu kekuatan untuk mendorong individu bertingkah laku dalam mencapai tujuan. Dorongan tersebut terdiri dari dua komponen, yaitu: arah perilaku kerja (kerja untuk mencapai tujuan), dan kekuatan perilaku (sebagai kuat usaha individu dalam bekerja).
Showing posts with label @A08-PRIYAGUNG. Show all posts
Showing posts with label @A08-PRIYAGUNG. Show all posts
Friday, December 2, 2016
Friday, October 14, 2016
Manajemen Karir
BAB
1
PENDAHULUAN
Manajemen Karir
adalah proses untuk membuat karyawan dapat memahami dan mengembangkan dengan
lebih baik keahlian dan minat karir mereka dan untuk memanfaatkan keahlian da
minat ini dengan cara yang paling efektif.Manajemen karir individu sebagai
manajemen karir yang dilakukan secara individu dengan tujuan menetapkan
perencanaan dan perkembangan karirnya selanjutnya
Manajemen karir
adalah proses dimana organisasi mencoba untuk menyesuaikan minat karir individual
dan kemampuan organisasi untuk merekrut karyawan (Gutteridge, 1976)
Management karir
adalah urutan sikap dan perilaku seseorang dan merupakan proses berkelanjutan
dari aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dalam rentang kehidupan orang
tersebut.
BAB
II
PEMBAHASAN
PROSES MANAGEMENT KARIR
Ada beberapa proses dalam managemen karir
diantaranya yaitu:
Career exploration
Berdasarkan pada tingkat exploration
behaviour dikembangkan oleh vocational psykologis, exploration behaviour mental
atau fisik aktivitas seseorang dalam hal ini diperlukan informasi mengenai
individu tersebut dalam lingkungan informasi digunakan untuk pengembangan
individu dan accupational concept
Development of career goal
Menurut goal setting theory, tujuan aka
mempengaruhi perilaku melalui direct attentions, stimulating effort, serta
facilitating the development strategies (Loke dan Lartham) kemampuan dan
keahlian lewat pengalaman kerja. Jadi kemajuan karir diperoleh dalam pengabdian
Political system
Terutama pada perusahaan yang quasimatrix,
seperti perusahaan telekomunikasi, akuntansi dan projek-projek kompleks yang
ada dalam organisasi. Oleh James Rosenbaum disebut sebagai metode allokasi
turnamen.yakni bersaing untuk memperebutkan kesempatan
Dalam hal ini yang penting dalam interpersonal
career strategy adalah pengembangan skill dan kompetensi kritis untuk
kesuksesan unit kerja ( pengembangan keahlian) (Noe, 1996)
Managemen
karir individual
Kesuksesan karir seseorang merupakan sebuah
kesuksesan psikologis dan merupakan tujuan tertinggi dari karir seseorang,
yaitu perasaan bangga atas prestasi yang didapatkan ketika tujuan terpenting
dalam kehidupan tercapai.
Menurut Daniel B. Turbon, suksesnya karir
diukur dengan salary dan promosi. Para peneliti beranggapan bahwa definisi dari
kesuksesan karir juga meliputi persepsi orang tersebut tentang kesuksesan karir
(karir yang sukses).
Promosi dan perubahan jabatan yang dapat
menentukan siapa yang akan maju dan siapa yang tetap. Jadi perubahan jabatan
tidak hanya menyebabkan perbedaan pekerjaan tapi juga perbedaan lingkungan dan
dengan siapa orang tersebut berinteraksi.
Management
karir organisasional
Manajemen karir organisasional mencakup
berbagai kebijakan dan tindakan organisasi untuk meningkatkan efektivitas karir
dari pekerjaannya (Orpen, 1994). Definisi karir organisasi mengacu pada
struktur karyawan dan praktek-praktek yang memberi panduan bagaimana merekrut,
mengembangkan dan memberi tugas kepada karyawan (Gaetner, 1988). Karir
organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Sejauh mana perekrutan dibatasi
hanya pada pekerjaan-pekerjaan tingkat bawah.
2.
Sejauh mana promosi ke jabatan
yang lebih tinggi berasal dari dalam.
3.
Sejauh mana penyelenggaraan
training dan pengembangan karyawan di semua level.
4.
Sejauh mana komitmen perusahaan
terhadap keselamatan karyawan
Perusahaan yang berorientasi pada karir
melakukan karyawan nya sebagai sumber daya yang berharga dan harus dilatih
dikembangkan dan dipertahankan. Dan kunci penerapan karir adalah mobilitas dan
kesempatan karir internal bagi para karyawan. Pola karir seperti ini dapat
menjadi kaku dan menghambat strukturnya sesuai lingkungannya
Perspektif
Tradisional dan Perspektif Baru Manajemen Karir
Sistem perencanaan karir (career planning
system) dalam organisasi merupakan tujuan khusus dari internal human resources,
meliputi perencanaan suksesi, training, dan development strategy, job posting,
assesment center, mentoring atau teknik-teknik lainnya.
Perencanaan karir selalu berimplikasi dalam
pendapatan, kekuasaan dan status. Bahkan dalam restrukturisasi organisasi,
traditional career path tetap merupakan
sumber informasi yang valid meskipun akan menjadi lebih sulit dalam
mendefinisikan stable paths karena posisi karir yang akan datang memiliki
tempat yang berubah
Penutup
Managemen sumber daya manusia merupakan
sebuah serangkaian kegiatan yang saling berkaitan satu sama lain. Karir
individual dan organisasi tidak dapat terpisah dan berbeda dalam karir
seseorang dalam suatu organisasi di dentukan oleh bagaimana suatu kebijakan dalam
organisasi itu membuat kebijakan terhadap karyawannya oleh karena itu
perusahaan atau organisasi haruslah dapat membantu karyawan dalam perencanaan
karir sehingga kedua belah pihak dapat memenuhi kebutuhan mereka masing masing,
namun banyak dari organisasi yang melakukan perubahan struktur organisasi
seiring dengan perkembangan jaman sehingga individu di tuntut untuk
menyesuaikan diri.
Daftar pustaka
Gutteridge, 1976
Orpen, 1994
Gaetner, 1988
Nicholson, Career systems in crisis: change and oppurtunity in the information age, 1996
2011. Manajemen karir dalam : http://www.slideshare.net/RismaJayanti/manajemen-karir-makalah-psikologi-sumber-daya-manusia-risma-aip-umb
Orpen, 1994
Gaetner, 1988
Nicholson, Career systems in crisis: change and oppurtunity in the information age, 1996
2011. Manajemen karir dalam : http://www.slideshare.net/RismaJayanti/manajemen-karir-makalah-psikologi-sumber-daya-manusia-risma-aip-umb
Manajemen Kinerja
BAB
I
PENDAHULUAN
PENGERTIAN MANAGEMEN KINERJA
Managemen
kinerja merupakan penggabungan dari kata managemen dan kinerja. Manajemen
berasal dari sebuah kata to manage yang mana arti kata ini adalah mengatur Menurut
George R Terry dalam bukunya Principles of Management, Manajemen merupakan
suatu proses yang menggunakan metode ilmu dan seni untuk menerapkan
fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian pada
kegiatan-kegiatan dari sekelompok manusia yang dilengkapi dengan sumber daya/faktor
produksi untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan lebih dahulu, secara
efektif dan efisien. Sedangkan menurut John R Schermerhorn Jr dalam bukunya
Management, manajemen adalah proses yang mencakup perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian terhadap penggunaan sumber daya
yang dimiliki, baik manusia dan material untuk mencapai tujuan.
Dari beberapa
definisi manajemen yang diberikan oleh para ahli, dapat disimpulkan manajemen
mencakup tiga aspek, yaitu:
1.
Pertama : manajemen sebagai proses
2.
Kedua : adanya tujuan yang
telah ditetapkan
3.
Ketiga : mencapai tujuan secara
efektif dan efisien
Kinerja
merupakan seperangkat hasil yang dicapai dan merujuk pada tindakan pencapaian
serta pelaksanaan sesuatu pekerjaan yang diminta (Stolovitch and Keeps, 1992)
Kinerja
merupakan salah satu kumpulan total dari kerja yang ada pada diri pekerja
(Griffin, 1987)
Secara mendasar,
Manajemen kinerja merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari perencanaan
kinerja, pemantauan / peninjauan kinerja, penilaian kinerja dan tindak lanjut
berupa pemberian penghargaan dan hukuman. Rangkaian kegiatan tersebut haruslah
dijalankan secara berkelanjutan.
BAB
II
PEMBAHASAN
PENTINGNYA
SUATU MANAGEMEN KINERJA
Organisasi dibentuk untuk suatu tujuan yang
mana pencapaian tujuan tersebut untuk menunjukan hasil kerja/prestasi
organisasi. Dan hasil kerja suatu organisasi diperoleh dari serangkaian
aktivitas yang telah dijalankan dan aktivitas tersebut dapat berupa pengelolaan
sumberdaya organisasi maupun proses pelaksanaan kerja yang mencapai tujuan
suatu organisasi.
Manajemen kinerja bukannya memberi manfaat
kepada organisasi saja tetapi juga kepada manajer dan individu. Bagi
organisasi, manfaat manajemen kinerja adalah menyesuaikan tujuan organisasi
dengan tujuan tim dan individu, memperbaiki kinerja , memotivasi pekerja,
meningkatkan komitmen, mendukung nilai-nilai inti, memperbaiki proses pelatihan
dan pengembangan, meningkatkan dasar ketrampilan, mengusahakan perbaikan dan
pengembangan berkelanjutan, mengusahakan basis perencanaan karier, membantu menahan pekerja terampil
agar tidak pindah, mendukung inisiatif kualitas total dan pelayanan pelanggan,
mendukung program perubahan budaya
Bagi manajer, manfaat manajemen kinerja
antara lain: mengupayakan klarifikasi kinerja dan harapan perilaku, menawarkan
peluang menggunakan waktu secara berkualitas, memperbaiki kinerja tim dan
individual, mengusahakan penghargaan nonfinansial pada staf, membantu karyawan
yang kinerjanya rendah, digunakan untuk mengembangkan individu, mendukung kepemimpinan,
proses motivasi dan pengembangan tim, mengusahakan kerangka kerja untuk
meninjau ulang kinerja dan tingkat kompensasi.
Bagi individu, manfaat manajemen kinerja
antara lain dalam bentuk: memperjelas peran dan tujuan, mendorong dan mendukung
untuk tampil baik, membantu pengembangan kemampuan dan kinerja, peluang
menggunakan waktu secara berkualitas, dasar objektivitas dan kejujuran untuk
mengukur kinerja, dan memformulasi tujuan dan rencana perbaikan cara bekerja
dikelola dan dijalankan.
Menurut Costello (1994) manajemen kinerja
mendukung tujuan menyeluruh organisasi dengan mengaitkan pekerjaan dari setiap
pekerja dan manajer pada misi keseluruhan dari unit kerjanya. Seberapa baik
kita mengelola kinerja bawahan akan secara langsung mempengaruhi tidak saja kinerja masing-masing pekerja secara individu
dan unit kerjanya, tetapi juga kinerja seluruh organisasi.
Apabila pekerja telah memahami tentang apa yang diharapkan dari
mereka dan mendapat dukungan yang diperlukan untuk memberikan kontribusi pada
organisasi secara efisien dan produktif, pemahaman akan tujuan , harga diri dan
motivasinya akan meningkat. Dengan
demikian, manajemen kinerja memerlukan kerja sama, saling pengertian dan
komunikasi secara terbuka antara atasan dan bawahan
MANAJEMEN
KINERJA SEBAGAI PROSES MANAJEMEN
Masukan
Manajemen kinerja membutuhkan berbagai
masukan yang harus dikelola agar dapat saling bersinergi dalam mencapai tujuan
organisasi. Masukan tersebut berupa: sumberdaya manusia (SDM), modal, material,
peralatan dan teknologi serta metode dan mekanisme kerja.
Manajemen Kinerja memerlukan masukan berupa
tersedianya kapabilitas SDM, baik sebaga perorangan maupun tim. Kapabilitas SDM
diwujudkan dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan kompetensi. SDM yang
memiliki pengetahuan dan keterampilan diharapkan dapat meningkatkan kualitas
proses kinerja maupun hasil kerja. Sedangkan kompetensi diperlukan agar SDM
mempunyai kemampuan yang sesuai dengan
kebutuhan organisasi sehingga dapat memberikan kinerja terbaiknya.
Proses
Manajemen kinerja diawali dengan
perencanaan tentang bagaimana merencanakan tujuan yang diharapkan di masa yang
akan datang, dan menyusun semua
sumberdaya dan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Pelaksanaan
rencana dimonitoring dan diukur kemajuannya dalam mencapai tujuan. Penilaian
dan peninjauan kembali dilakukan untuk mengoreksi dan menentukan
langkah-langkah yang diperlukan bila terdapat deviasi terhadap rencana.
Manajemen kinerja menjalin terjadinya saling menghargai kepentingan diantara pihak-pihak
yang terlibat dalam proses kinerja. Prosedur dalam manajemen kinerja dijalankan
secara jujur untuk membatasi dampak
meerugikan pada individu. Proses manajemen kinerja dijalankan secara transparan
terutama terhadap orang yang terpengaruh oleh keputusan yang timbul dan orang
mendapatkan kesempatan melalui dasar dibuatnya suatu keputusan.
Keluaran
Keluaran merupakan hasil langsung dari
kinerja organisasi, baik dalam bentuk barang maupun jasa. Hasil kerja yang
dicapai organisasi harus dibandingkan dengan tujuan yang diharapkan . Keluaran
dapat lebih besar atau lebih rendah dari tujuan yang telah ditetapkan. Bila
terdapat deviasi akan menjadi umpan balik dalam perencanaan tujuan yang akan
datang dan impelementasi kinerja yang sudah dilakukan.
Manfaat
Selain memperhatikan keluaran, manajemen
kinerja juga memperhatikan manfaat dari hasil kerja. Dampak hasil kerja dapat
bersifat positif bagi organisasi, misalnya karena keberhasilan seseorang
mewujudkan prestasinya berdampak meningkatkan motivasi sehingga semakin
meningkatkan kinerja organisasi. Tetapi dampak keberhasilan sesorang dapat
bersifat negatif, jika karena keberhasilannya ia menjadi sombong yang akan
membuat suasana kerja menjadi tidak kondusif.
Penutup
Jadi managemen kerja suatu perusahaan mempunyai
peran penting dalam membuat suatu output yang dapat di suatu organisasi dan
merupakan hasil langsung dari kinerja organisasi baik itu dalam bentuk barang
maupun jasa dan hasil yang dicapai suatu organisasi haruslah sebanding dengan
tujuan yang diharapkan dan juga manfaat dari managemen kinerja itu sendiri juga
memperhatikan manfaat dari hasil kerja dan dampak dari hasil kerja itu sendiri
positif bagi oranisasi misalkan karena keberhasilan seseorang dalam mewujudkan
prestasinya di dalam perusahaan tempat dia bekerja
Daftar pustaka
Veithzal Rivai dan Ahmad Fawzi, 2005
Stolovitch and Keeps, 1992
Donelly, Gibson and Ivancevich, 1994
Costelo, 1994
2015 management kinerja dalam: http://hery15061993.blogspot.co.id/2015/03/manajemen-kinerja.html
Friday, October 7, 2016
Langkah Langkah Dalam Menentukan Desain Pekerjaan
Pengertian desain pekerjaan
Desain pekerjaan adalah proses mencapai kelayakan maksimal
serta efisiensi antara orang dan pekerjaan baik dengan mendesain pekerjaan baru
maupun mendesain kembali pekerjaan pekerjaan lama, desain pekerjaan merupakan fungsi penetapan
kegiatan kegiatan individu atau kelompok karyawan dalam wadah organisasi
Friday, September 30, 2016
PENTINGNYA PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN DEMI MENCAPAI KESUKSESAN KINERJA DI PERUSAHAAN
I.PENDAHULUAN
Pelatihan dan pengembangan adalah salah satu cara sebuah
perusahaan untuk dapat meningkatkan kemampuan dan menambah pengetahuan bagi
karyawan untuk dapat meningkatkan kinerja di dalam perusahaan, serta dapat
meningkatkan motivasi karyawan dalam bekerja, pengertian pelatihan sendiri
adalah proses yang di desain untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
teknis ataupun meningkatkan kinerja pegawai sedangkan pengembangan adalah
proses yang di desai untuk menungkatkan kemampuan konsepsual dalam mengambil
keputusan dan memperluas human relation.
Setiap perusahaan mempunyai cara tersendiri untuk melatih
dan mengembangkan kemampuan antar karyawannya diantaranya adalah training yang
diadakan oleh pihak perusahaan ataupun seminar bertujuan untuk membekali
karyawan untuk dapat berkembang nantinya dan memiliki motivasi lebih dalam
bekerja setelah dilakukan training dan juga dapat bermanfaat bagi perusahaan
agar lebih maju.
II.PEMBAHASAN
Pengertian pelatihan dan pengembangan
Pelatihan (training) merupakan proses pembelajaran yang
melibatkan perolehan keahlian,konsep,peraturan atau sikap untuk meningkatkan
kinerja tenaga kerja.(simamora:2006:273) Menurut pasal I ayat 9 undang-undang
No.13 Tahun 2003. Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi,
memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja,produktivitas,
disiplin, sikap dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu
sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan Pengembangan
(development) diartikan sebagai penyiapan individu untuk memikul tanggung jawab
yang berbeda atau yang Iebih tinggi dalam perusahaan, organisasi, lembaga atau
instansi pendidikan, Menurut (Hani Handoko:2001:104) pengertian latihan dan
pengembangan adalah berbeda.
Latihan (training) dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan
berbagal ketrampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci dan rutin.
Yaitu latihan rnenyiapkan para karyawan (tenaga kerja) untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan sekarang.
Sedangkan pengembangan (Developrnent) mempunyai ruang
lingkup Iebih luas dalam upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan,
kemampuan, sikap dlan sifat-sifat kepribadian.
(Gomes:2003:197) Mengemukakan pelatihan adalah setiap usaha
untuk memperbaiki performansi pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang
menjadi tanggungjawabnya. Menurutnya istilah pelatihan sering disamakan dengan
istilah pengembangan, perbedaannya kalau pelatihan langsung terkait dengan
performansi kerja pada pekerjaan yang sekarang, sedangkan pengembangan tidaklah
harus, pengembangan mempunyai skcope yang lebih luas dandingkan dengan
pelatihan.
Pelatihan Iebih terarah pada peningkatan kemampuan dan
keahlian SDM organisasi yang berkaitan dengan jabtan atau fungsi yang menjadi
tanggung jawab individu yang bersangkutan saat ini ( current job oriented).
Sasaran yang ingin dicapai dan suatu program pelatihan adalah peningkatan
kinerja individu dalam jabatan atau fungsi saat ini. Pengembangan cenderung
lebih bersifat formal, menyangkut antisipasi kemampuan dan keahhan individu
yang harus dipersiapkan bagi kepentingan jabatan yang akan datang. Sasaran dan
program pengembangan menyangkut aspek yang lebih luas yaitu peningkatan
kemampuan individu untuk mengantisipai perubahan yang mungkin terrjadi tanpa
direncanakan (unplened change) atau perubahan yang direncanakan (planed change).
(Syafaruddin:200 1:2 17).
Hal serupa dikemukakan (Hadari:2005:208). Pelatihan adaah
program- program untuk memperbaiki kernampuan melaksanakan pekerjaan secara
individual, kelompok dan/atau berdasarkan jenjang jabatan dalam organisasi atau
perusahaan. Sedangkan pengembangan karir adalah usaha yang diakukan secara
formal dan berkelanjutan dengan difokuskan pada peningkatan dan penambahan
kemampuan seorang pekerja. Dan pengertian ini menunjukkan bahwa fokus
pengernbangan karir adalah peningkatan kemampuan mental tenaga kerja. lstilah
pelatihan dan pengembangan merujuk pada struktur total dan program di dalam dan
luar pekerjaan karvawan yang dimanfaatkan perusahaan dalam mengembangkan
keterampilan dan pengetahuan, utamanya untuk kinerja pekerjaan dan promosi
karir. Biasanya pelatihan merujuk pada pengembangan ketrampilan bekerja
(vocational) yang dapat digunakan dengan segera. (Sjafri :2003: 135).
Jenis pelatihan dan pengembangan
Terdapa banyak pendekatan untuk pelatlian. Menurut
(Simamora:2006 :278) ada lima jenis-jenis pelatihan yang dapat diselenggarakan:
Pelatihan Keahlian.
Pelatihan keahlian (skils training) merupakan pelatihan yang
sering di jumpai dalam organisasi. program pelatihaannya relatif sederhana:
kebutuhan atau kekuragan diidentifikasi rnelalui penilaian yang jeli. kriteria
penilalan efekifitas pelatihan juga berdasarkan pada sasaran yang
diidentifikasi dalam tahap penilaian.
Pelatihan Ulang.
Pelatihan ulang (retraining) adalah subset pelatihan
keahilan. Pelatihan ulang berupaya memberikan kepada para karyawan
keahlian-keahlian yang mereka butuhkan untuk menghadapi tuntutan kerja yang
berubah-ubah. Seperti tenaga kerja instansi pendidikan yang biasanya bekerja
rnenggunakan mesin ketik manual mungkin harus dilatih dengan mesin computer
atau akses internet
Pelatihan Lintas Fungsional.
Pelatihan lintas fungsional (cros fungtional training)
melibatkan pelatihan karyawan untuk melakukan aktivitas kerja dalam bidang
lainnya selain dan pekerjan yang ditugaskan.
Pelatihan Tim.
Pelatihan tim merupakan bekerjasarna terdiri dari sekelompok
Individu untuk menyelesaikan pekerjaan demi tujuan bersama dalam sebuah tim
kerja.
Pelatihan Kreatifitas.
Pelatihan kreatifitas(creativitas training) berlandaskan
pada asumsi hahwa kreativitas dapat dipelajari. Maksudnya tenaga kerja
diberikan peluang untuk mengeluarkan gagasan sebebas mungkin yang berdasar pada
penilaian rasional dan biaya dan kelaikan. Adapun perbedaan antara pelatihan
dan pengembangan menurut (Syafaruddin:2001 :217).
Tujuan pelatihan: Peningkatan kemampuan individu bagi
kepentingan jabatan saat ini.
Sasaran: Peningkatan kinerja jangka pendek.
Orientasi: Kebutuhan jabatan sekarang.
Efek terhadap karir: Keterkaitan dengan
karir relatif rendah.
Tujuan pengembangan : Peningkatan kemampuan individu bagi
kepentingan jabatan yang akan datang.
Sasaran: Peningkatan kinerja jangka
panjang.
Orientasi: Kebutuhan perubahan terencana atau tidak terencana.
Efek
terhadap karir: Keterkaitan dengan karir relatif tinggi.
Tahapan proses pelatihan dan pengembangan.
Sebelum pelatihan dapat diselenggarakan, kabutuhan akan hal
itu perlu dianalisis lebih dahulu. Hal demikian disebut sebagai langkah/tahapan
penilaian dari proses pelatihan. Menurul (Sjafri:2003:140). setelah tahap
analisis kebutuhan dilakukan, maka harus melakukan beberapa tahapan berikutnya:
Perumusan tujuan pelatihan.
Perumusan tujuan pelatihan harus ada keterkaitan antara
input, output, outcome, dan impact dan pelatihan itu sendiri.
Prinsip-prinsip pelatihan.
- partisipasi
- pendalaman
- relevansi
- pengalihan
- umpan balik
- suasana nyaman
- memiliki kriteria
- Merancang dan menyeleksi prosedur pelatihan.
- Pelatihan instruksi pekerjaan
- Perputaran pekerjaan Magang dan pelatihan
- Kuliah dan presentasi
- Permainan peran dan pemodelan perilaku
- Studi kasus
- Simulasi
- Studi mandiri dan pembelajaran program
- Pelatihan laboratorium
- Pembelajaran aksi
Dalam tahapan ini menurut (Gomes:2003:204) terdapat paling
kurang tiga tahapan utama dalam pelatihan dan pengembangan, yakni: penentuan
kebutuhan pelatihan, desain program pelatihan, evaluasi program pelatihan.
1. Penentuan kebutuhan pelatihan (assessing training needs)
Adalah lebih sulit untuk menilai kebutuhan-kebutuhan
pelatihan bagi para pekerja yang ada daripada mengorientasikan para pegawai
yang baru. Dari satu segi kedua-duanya sama. Tujuan penentuan kebutuhan
pelatihan ini adalah untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan
guna mengetahui dan atau/menentukan apakah perlu atau tidaknya pelatihan dalam
organisasi tersebut.
Dalam tahapan ini terdapat tiga macam kebutuhan akan
pelatihan yaitu:
General treatment need, yaitu penilaian kebutuhan pelatihan
bagi semua pegawai dalam suatu klasifikasi pekerjaan tanpa memperhatikan data
mengenai kinerja dari seseorang pegawai tertentu.
Oversable performance discrepancies, yaitu jenis penilaian
kebutuhan pelatihan yang didasarkan pada hasil pengamatan terhadap berbagai
permasalahan, wawancara, daftar pertanyaan, dan evaluasi/penilaian kinerja, dan
dengan cara meminta para pekerja untuk mengawasi sendiri hasil kerjanya
sendiri.
Future human resources neeeds, yaitu jenis keperluan
pelatihan ini tidak berkaitan dengan ketidak sesuaian kinerja, tetapi Iebih
berkaitan dengan sumberdaya manusia untuk waktu yang akan datang.
2. Mendesain program pelatihan (designing a training
program)
Sehenarnya persoalan performansi bisa disiatasi melalui
perubahan dalam system feedback, seleksi atau imbalan, dan juga melalui
pelatihan. Atau akan Iebih mudah dengan melakukan pemecatan terhadap pegawai
selama masa percobaannya. Jika pelatihan merupakan Solusi terbaik maka para
manajer atau supervisor harus memutuskan program pelatihan yang tepat yang
bagaimana yang harus dijalankan. Ada dua metode dan pririsip bagi pelatihan:
Metode pelatihan. Metode peIathan yang tepat tergantung
kepada tujuannya. Tujuan atau sasaran pelatihan yang berbeda akan berakibat
pemakaian metode yang berheda pula.
Prinsip umum bagi metode pelatihan
Terlepas dari berhagai metode yang ada, apapun bentuk metode
yang dipilh, metode tersebut harus rnemenuhi prinsip-prinsip seperti:
- Memotivasi para peserta pelatihan.
- Memperlihatkan ketrampilan-ketrampilan.
- Harus konsisten dangan isi pelatihan.
- Peserta berpartisipasi aktif.
- Memberikan kesempatan untuk perluasan ketrampilan.
- Memberikan feedback.
- Mendorong dari hasil pelatihan ke pekerjaan.
- Harus efektif dari segi biaya.
3. Evaluasi efektifitas program (evaluating training program
effectivenees).
Supaya efektif, pelatihan haru merupakan suatu solusi yang
tepat bagi permasalahan organisasi, yakni bahwa pelatihan tersebut dimaksudkan
untuk memperbaiki kekurangan keterampilan. Untuk meningkatkan usaha
belajarnya,para pekerja harus menyadari perlunya perolheanb informasi baru atau
mempelajari keterampilan-keterampilan baru, dan keinginan untuk belajar harus
dipertahankan. Apa saja standar kinerja yang telah ditetapkan, sang pegawai
tidak harus dikecewakan oleh pelatih yang menuntut terlalu banyak atau terlalau
sedikit. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menguji apakah pelatihan tersebut
efektif di dalam mencapai sasaran-sasarannya yang telah ditetapkan.
Program pelatihan bisa dievaluasi berdasarkan informasi yang
bisa diperoleh pada lima tingkatan:
- reaction
- learning
- behaviors
- organizational result
- cost efectivity
Manfaat pelatihan dan pengembangan
Pelatihan mempunyai andil besar dalam menentukan efektifitas
dan efisiensi organisasi. Beberapa manfaat nyata yang ditangguk dari program
pelatihan dan pengembangan (Simamora:2006:278) adalah:
- Meningkatkan kuantitas dan kualitas produktivitas.
- Mengurangi waktu belajar yang diperlukan karyawan untuk mencapai standar kinerja yang dapat diterima.
- Membentuk sikap, loyalitas, dan kerjasama yang lebih menguntungkan.
- Memenuhi kebutuhan perencanaan semberdaya manusia
- Mengurangi frekuensi dan biaya kecelakaan kerja.
- Membantu karyawan dalam peningkatan dan pengembangan pribadi mereka.
Manfaat di atas membantu baik individu maupun organisasi.
Program pelatihan yang efektif adalah bantuan yang berharga dalam perencanaan
karir dan sering dianggap sebagai penyembuh penyakit organisasional. Apabila
produktivitas tenaga kerja menurun banyak manejer berfikir bahwa solusinya
adalah pelatihan. Program pelatihan tidak mengobati semua masalah
organisasional, meskipun tentu saja program itu berpotensi untuk memperbaiki
situasi tertentu sekiranya program dijalankan secara benar
Kelemahan pelatihan dan pengembangan
Beberapa kelemahan pelatih dapat menyebabkan gagalnya sebuah
program peltihan.Suatu pemahaman terdahap masalah potensial ini harus
dijelaskan selama pelatihan pata trainer. (Simamora:2006:282).
Kelemahan-kelemahan meliputi:
- Pelatihan dan pengembangan dianggap sebagai obat untuk semua penyakit organisasional.
- Partisipan tidak cukup termotivasi untuk memusatkan perhatian dan komitmen mereka.
- Sebuah teknik dianggap dapat diterapkan disemua kelompok, dalam semua situasi, dengan keberhasilan yang sama.
- Kinerja partisipan tidak dievaluasi begitu kayawan telah kembali kepekerjaannya.
- Informasi biaya-manfaat untuk mengevaluasi program pelatihan tidak dikumpulkan.
Teknik-teknik presentasi informasi dan metode-metode
simulasi (off the job training)
Masing-masing kategori mempunyai sasaran pengajaran sikap
konsep atau pengetahuan dan/atau keterampilan utama yang berbeda.
Dalam
pemilihan teknik tertentu untuk dugunakan pada program pelatihan dan
pengembangan, ada beberapa trade offs. Ini berarti tidak ada satu teknik yang
selalu baik:
metode tergantung pada sejauh mana suatu teknik memenuhi
faktor-faktor berikut:
- Efektivitas biaya.
- Isi program yang dikehendaki
- Kelayakan fasilitas-fasilitas
- Preferensi dan kemampuan peserta
- Preferensi dan kemampuan instruktur atau pelatih
Prinsip-prinsip belajar
Teknik-teknik on the job merupakan metode latihan yang
paling banyak digunakan. Karyawan dilatih tentang pekerjaan baru dengan
sepervise langsung seorang pelatih yang berpengalaman (biasanya karyawan lain).
Berbagai macam teknik ini yang bisa digunakan dalam praktek
adalah sebagai berikut:
- Rotasi jabatan
- Latihan instruksi pekerjaan
- Magang (apprenticeships)
- Coaching
- Penugasan sementara
Teknik-teknik off the job, dengan pendekatan ini karyawan
peserta latihan menerima representasi tiruan (articial) suatu aspek organisasi
dan diminta untuk menanggapinya seperti dalam keadaan sebenarnya. Dan tujuan
utama teknik presentrasi (penyajian) informasi adalah untuk mengajarkan
berbagai sikap, konsep atau keterampilan kepada para peserta.
Metode yang bisa digunakan adalah:
- Metode studi kasus
- Kuliah
- Studi sendiri
- Program computer
- Komperensi
- Presentasi
III KESIMPULAN
berdasarkan penjelasan artikel diatas maka didapatkan kesimpulan bahwa pelatihan sangat penting bagi perusahaan agar karyawan yang ada di perusahaan dapat berkembang dan dapat motivasi lebih untuk bisa berkontribusi bagi perusahaan melalui pelatihan dan pengembangan yang di sediakan oleh perusahaan.
SUMBER
Simamora:2006:273
Hani Handoko:2001:104
Gomes:2003:197
Syafaruddin:200 1:2 17
Sofyaneffendi. 2013. pelatihan dan pengembangan sumber daya.http://google-sofyaneffendi.blogspot.co.id/p/pelatihan-dan-pengembangan-sumber-daya.html
Friday, September 23, 2016
Seleksi Dan Metoda yang dipakai
I PENDAHULUAN
Seleksi
juga bagian dari rekrutmen yang bertujuan untuk memilih karyawan yang akan
bekerja di sebuah perusahaan, seleksi itu sendiri merupakan tahap akhir proses
rekrutmen di mana proses pengambilan keputusan mengenai siapa kandidat yang
berhasil telah dilaksanakan. Hasil seleksi merupakan keputusan yang penting
yang dibuat berdasarkan pada satu atau beberapa teknik seleksi, mulai dari
interview, tes psikologi, tes mengenai pekerjaan, pusat penilaian, biodata,
referensi, grafologi (ilmu yang berkaitan dengan tulisan tangan), dan
sebagainya.
1.1
Rumusan masalah
Kenapa sebuah perusahaan perlu melakukan seleksi ?
Apa peran dari seleksi bagi sebuah perusahaan
II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Seleksi
Seleksi
adalah tahap awal dari perusahaan untuk mendapatkan karyawan yang berkompeten
di bidang yang dibutuhkan oleh perusahaan, pelaksanaan seleksi itu sendiri yang
baik dari perusahaan diharapkan dapat memudahkan untuk mengembangkan karyawan
melalui training,pembinaan dan peraturan karyawan
Standar-Standar Metode Seleksi
Seleksi personil adalah proses
dimana perusahaan-perusahaan memutuskan tentang siapa yang akan atau tidak akan
diijinkan masuk ke dalam organisasi. Beberapa standar-standar umum seharusnya
memenuhi setiap proses seleksi. Dalam hal ini kita memfokuskannya pada lima hal
yaitu: 1) reliabilitas; 2) validitas; 3) generalisabilitas; 4) utilitas; dan 5)
legalitas.
Reliabilitas
Reliabilitas
adalah konsistensi suatu pengukuran kinerja; tingkatan dimana pengukuran
kinerja bebas dari kesalahan acak. Hal-hal yang terkait dalam reliabilitas
antara lain:
- Score Kebenaran dan Reabilitas Pengukuran. Kebanyakan dari pengukuran diselesaikan dalam seleksi personil berkaitan dengan karakteristik yang kompleks seperti intelegensi, integritas, dan kemampuan kepemimipinan. Untuk menghargai beberapa kompleksitas dalam pengukuran individu-individu, kita akan mempertimbangkan sesuatu yang konkrit dalam mendiskusikan konsep-konsep ini: pengukuran tinggi.
- Standar-standar bagi Reliabilitas. Terdapat banyak cara untuk meningkatkan reliabilitas dari sebuah tes, meliputi penulisan dengan jelas, dan sub bagian-sub bagian yang tidak bermakna ganda dan menambah jangka waktu tes.
b. Validitas
Validitas adalah
perluasan dimana pengukuran kinerja menilai seluruh aspek-aspek yang relevan
dari kinerja pekerjaan. Hal-hal yang terkait dengan validitas antara lain:
- Kriteria --- Validitas terkait, yaitu suatu metode pembuatan validitas dari metode seleksi personil dengan memperlihatkan korelasi substansial antara nilai tes dengan nilai kinerja pekerjaan.
- Kajian Kriteria – validitas terkait ini berasal dari dua varietas, yaitu 1) Predictive Validation, yang berusaha membangun hubungan empirik antara skor tes pelamar dan kinerja akhir mereka pada pekerjaan. 2) Concurrent Validation, dimana tes dialamatkan pada seluruh individu-individu yang sedang memegang pekerjaan dan kemudian skor jabatan dikorelasikan dengan pengukuran yang ada dari kinerja pekerjaan mereka.
- Validasi Isi, yaitu suatu tes – strategi validasi yang dilakukan dengan mendemonstrasikan sub bagian-sub bagian, pertanyaan-pertanyaan, atau masalah-masalah tersebut yang dibentuk oleh suatu tes adalah contoh representative dari jenis-jenis situasi atau masalah-masalah yang terjadi pada pekerjaan.
Generalisabilitas
Generalisabilitas
adalah tingkatan dimana validitas dari suatu metode seleksi dibangun dalam satu
konteks yang diperluas ke konteks lainnya.
d. Utilitas
Utilitas adalah
tingkatan dimana informasi diberikan oleh metode-metode seleksi meningkatkan
efektivitas dari penyeleksian personil dalam organisasi nyata.
e. Legalitas
Legalitas
merupakan standar akhir dalam metode seleksi. Seluruh metode seleksi harus
sesuai atau mengikuti peraturan atau undang-undang yang berlaku dan
kebiasaan-kebiassaan hukum yang berlaku.
Jenis-jenis Metode Seleksi
a. Wawancara
Wawancara
seleksi telah didefinisikan sebagai “dialog yang dimulai oleh satu atau lebih
dari satu orang untuk mengumoulkan informasi dan mengevaluasi berbagai
kualifikasi pelamar untuk bekerja.”
Hal-hal yang
harus diperhatikan dalam proses wawancara seleksi adalah:
Ø
Wawancara sebaiknya terstruktur, terstandarisasi
dan terfokus pada sasaran yang akan dicapai.
Ø
Pewawancara sebaiknya mengajukan pertanyaan yang
berkaitan dengan apa yang harus dilakukan untuk menghadap suatu situasi
tertenteu ditempat kerja (Wawancara Situasi-Situational Interview)
Ø
Sebaiknya menggunakan Pewawancara yang terlatih.
b. Referensi
Referensi
merupakan suatu proses dalam seleksi karyawan yang digunakan untuk memperoleh
informasi mengenai latar belakang pelamar.
Beberapa cara
untuk memperoleh informasi mengenai latar belakang pelamar, yaitu:
Ø
Data diri yang tercantum pada Formulir Lamaran
Pekerjaan.
Ø
Formulir yang tercantum pada Daftar Riwayat
Hidup.
Ø
Informasi yang berasal dari orang yang mengenal
pelamar baik secara lisan maupun melalui surat referensi.
c. Tes
Kemampuan Fisik
Walaupun
otomatisasi dan kemajuan teknologi lainnya telah menghilangkan atau mengubah
banyak tugas pekerjaan yang menuntut fisik, banyak pekerjaan masih memerlukan
kemampuan fisik atau psikomotorik tertentu. Test kemampuan fisik diperlukan
guna memperkirakan kinerja pelamar. Hal ini dilakukan agar dapat diperkirakan
kemungkinan cedera yang akan dialami ditempat kerja.
Ada beberapa jenis
test kemampuan fisik, yaitu:
Ø
Tes Ketegangan Otot
Ø
Tes Kekuatan Otot
Ø
Tes Ketahanan Otot
Ø
Tes Ketahanan Jantung dan Pembuluh Darah
Ø
Tes Kelenturan Tubuh
Ø
Tes Keseimbangan
Ø
Tes Koordinasi
Keabsahan yang
berhubungan dengan criteria untuk jenis tes ini pada pekerjaan-pekerjaan
tertentu sebenarnya cukup kuat. Namun, tes-tes ini, terutama tes-tes kekuatan,
cenderung memiliki dampak yang merugikan terhadap beberapa pelamar penyandang
cacat dan banyak pelamar wanita.
d. Test
Kemampuan Kognitif
Test Kemampuan
Kognitif merupakan test yang dapat mebedakan individu berdasarkan kemampuan
mental. Kategori dalam test kemampuan kognitif meliputi:
Ø
Kemampuan Pemahaman Verbal (Verbal
Comprehension), mengacu pada kemampuan sesorang untuk memahami serta
menggunakan bahasa dan tulisan.
Ø
Kemampuan Kuantitatif (Quantitatice Ability),
meliputi kecepatan dan ketepatan seseorang dalam memecahkan masalah-masalah
aritmatika.
Ø
Kemampuan Penalaran (Reasoning Ability), konsep
yang lebih luas mengacu pada kemampuan seseorang untuk menemukan berbagai
solusi terhadap beragam masalah.
Beberapa
pekerjaan hanya mensyaratkan satu atau dua aspek kemampuan kognitif. Menurut
berbagai kondisi tersebut, mempertahankan pemisahan di antara berbagai aspek
merupakan hal yang tepat. Namun, banyak pekerjaan yang membutuhkan tingkat
kerumitan yang tinggi, jika tidak seluruhnya dari sebagian besar aspek
tersebut. Jadi, salah satu test umum sering sama baiknya dengan banyak test
dari aspek-aspek yang terpisah.
e. Inventarisasi
Kepribadian
Inventarisasi
kepribadian merupakan kategori pengelompokkan kepribadian yang mengacu pada
hal-hal yang disukai oleh individu. Terdapat 5 kategori aspek kepribadian yang
umumnya dianut, yaitu keterbukaan, penyesuaian diri, keramahan, kerajinan, dan
keingintahuan.
Walaupun dapat
menemukan ukuran yang dapat dipercaya, ukuran-ukuran yang tersedia secara
komersial dari setiap sifat tersebut, bukti keabsahan, dan generalisasi
merupakan perpaduan terbaik.
Konsep
“kecerdasan emosional” telah digunakan untuk menguraikan orang-orang yang
sangat efektif pada jenis-jenis konteks social yang berubah-ubah dan intensif.
Kecerdasan emosional yang disusun secara tradisional memiliki lima aspek:
Ø
Kesadaran diri, merupakan pengetahuan tentang
salah satu kekuatan dan kelemahan.
Ø
Pengaturan diri, merupakan kemampuan untuk
menjaga emosi-emosi yang mengganggu dalam pemeriksaan.
Ø
Motivasi diri, bagaimana cara memotivasi diri
sendiri dan tekun dalam menghadapi berbagai rintangan.
Ø
Empati, kemampuan untuk merasakan dan membaca
emosi-emosi orang lain.
Ø
Keterampilan sosial, kemampuan untuk mengelola
emosi-emosi orang lain.
f.
Sampel-sampel Pekerjaan
Pengujian dengan
konsep simulasi pekerjaan adalah jenis test dengan sampel yang berupaya menirukan
pekerjaan sesuai situasi dan kondisi ditempat kerja, dimana pelamar menjalankan
pekerjaan tiruan tersebut.
Ada beberapa
cara yang umumnya dilakukan, yaitu:
Ø
Permainan peran tentang cara pelamar menanggapi
suatu situasi tertentu
Ø
Para pelamar dibawa langsung ke lokasi kerja,
dan melakukan pekerjaan untuk waktu yang singkat
Ø
System masa percobaan, yang mana pelamar
diberikan kesempatan untuk melakukan pekerjaan dalam periode waktu tertentu
(sesuai kontrak)
Ø
Perusahaan mensponsori suatu lomba dimana para
peserta diharuskan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan suatu pekerjaan
tertentu.
g. Tes
Narkoba dan Tes Kejujuran
Banyak masalah
yang dihadapi masyarakatjuga ada di dalam organisasi-organisasi yang telah
mengakibatkan dua jenis tes yang baru yaitu, tes-tes kejujuran dan tes-tes
penggunaan narkoba. Dahulunya banyak perusahaan menggunakan tes-tes poligraf
atau alat pendeteksi kebohongan agar dapat mengevaluasi para pelamar pekerjaan,
tetapi ini berubah dengan berlakunya Undang-Undang Poligraf Taun 1988.
Undang-undang tersebut melarang penggunaan berbagai poligraf untuk menyaring
pekerjaan di sebagian besar organisasi. Namun, hal itu tidak menghilangkan
masalah pencurian yang dilakukan oleh para karyawan. Sebagai hasilnya, industry
pengujian kejujuran menggunakan kertas dan pensil telah lahir.
Perbedaan utama
seputar tes-tes narkoba tidak melibatkan keandalan dan keabsahannya, tetapi
apakah tes-tes tersebut mewakili gangguan pribadi, pencarian yang tidak masuk
akal, penyitaan, atau pelanggaran proses yang wajar. Analisis urin dan tes-tes
darah merupakan prosedur-prosedur yang bersifat menyerbu dan menuduh seseorang
terhadap penggunaan narkoba merupakan masalh serius. Tes narkoba harus diatur
secara sistematis bagi seluruh pelamar untuk pekerjaan yang sama. Pengujian
tampaknya lebih dapat dipertahankan untuk pekerjaan-pekerjaan yang yang
melibatkan berbagai bahaya keamanan yang terkait dengan kegagalan untuk
menjalankan pekerjaan.
CASE 1 sedikitnya frekuensi
proses seleksi karyawan PT.Maju Mundur
PT.Maju Mundur adalah sebuah
perusahaan yang mempunyai karyawan usia pensiun yang sangat tinggi dan setiap
bulan karyawan yang pensiun mencapai kurang lebih 60 orang namun disini tidak
banyaknya frekuensi dari proses seleksi karyawan baru, perusahaan mempunyai
kesuksesan dimasa lampau namun sangat disayangkan akhir akhir ini terjadi
penurunan dalam segi pendapatan, dan tanpa disadari penyebab terjadinya ini
dikarenakan banyak dari karyawan pensiun dan pemenuhan karyawan yang sesuai
dengan karyawan pensiun sangat lah lambat dan membutuhkan proses yang tidak
sebentar
III KESIMPULAN
SDM
merupakan asset yang paling penting di sebuah perusahaan dan harusnya dipilih
dengan cara yang baik dan benar sehingga dapat menjalankan perusahaan secara baik
dan juga membuat perusahaan menjadi mendapatkan karyawan yang berkompeten di
bidangnya masing masing sesuai dengan job desk
Daftar pustaka
Sukasah, Taufik, 2005.
"Pengaruh Proses Rekrutmen, Seleksi dan Penempatan terhadap Kinerja
Pegawai di Deputi Administrasi Sekretariat Negara RI”. Universitas Indonesia
Irawan, Prasetya, Suryani
S.F.Motok, Sri Wahyu Krida Sakti, 1997 Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta:
STIA LAN Press
Husnan, Suad dan Hesdjrahman.
1996. Manajemen Personalia, Jogyakarta: BPFE
Gibson, James L., Ivancevich, John
M. & Donnely, Jr., James H. 1989. Organisasi dan Manajemen Perilaku:
Perilaku, Struktur, dan Proses, Edisi keempat, Terjemahan Jakarta: Erlangga
Rivai, V. 1999, Manajemen Sumber
Daya Manusia untuk Perusahan dan Teori dan Praktik, Yogyakarta: PT Raja
Grafindo
Friday, September 16, 2016
Pentingnya Sebuah Proses Rekrutmen
Pendahuluan
Perusahaan pasti menginginkan
setiap karyawan yang sangat berkompeten di setiap bidang pekerjaan yang ada,
banyak dari perusahaan menginginkan suatu kualitas suatu sdm dengan melakukan
proses rekrutmen yang mana proses rekrutmen itu dilakukan dengan tujuan untuk
mendapatkan kandidat yang cocok untuk mengisi kekosongan di suatu posisi yang
ada namun di balik itu semua perusahaan haruslah tau bahwa proses panjang untuk
pencarian suatu kandidat yang cocok untuk mengisi kekosongan tidaklah mudah dan
memerlukan proses yang panjang dan waktu yang tidak sebentar, disisi lain
rekrutment itu sendiri adalah serangkaian kegiatan dengan tujuan utama untuk
mencari dan memikat para pelamar pekerjaan dengan memberikan mereka motivasi
untuk memperlihatkan kemampuan dan pengetahuan mereka demi menutupi kekurangan
posisi yang di identifikasi dalam perencanaan kepegawaian dalam sebuah
perusahaan ataupun suatu instansi. Menurut Schermerhorn, rekrutmen sendiri
merupakan serangkaian proses untuk penarikan sekelompok kandidat guna mengisi
posisi yang lowong dalam sebuah perusahaan ataupun instansi.
Dalam hal ini semua yang
berkaitan dengan proses rekrutment haruslah sangat diperhatikan dengan baik
oleh suatu instansi agar semua yang berkaitan dengan suatu proses pemilihan
calon kandidat dapat dipenuhi dengan maksimal, menurut Castetter (1996:86)
rekrutment adalah sekumpulan aktifitas-aktifitas dalam administrasi personel
yang dirancang untuk menghasilkan ketersediaan jumlah dan untuk personelyang
dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan dari system sekolah, sejalan dengan
pendapat Castetter, Schullers (1987:67) berpendapat bahwa rekrutmen adalah
serangkaian kegiatan dan proses yang digunakan untuk mendapatkan orang yang
tepat dengan cara yang tepat, jumlah yang cukup, pada tempat dan waktu yang
tepat, sehingga orang atau organisasi dapat memilih satu atau lebih sesuai
dengan perencanaan kebutuhan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Menurut Randal S Schuller dan Susan E Jackson (1996:277) rekrutmen adalah serangkaian kegiatan yang digunakan
untuk mendapatkan tempat (pool) pelamar kerja yang memenuhi syarat, sedangkan
menurut Edwin B Filippo (2006:40) rekrutmen adalah usaha mencari dan menarik
tenaga kerja agar melamar lowongan kerja yang ada pada suatu perusahaan.
Permasalahan
Kendala dalam suatu rekrutmen
sendiri sering terjadi di dalam pihak internal maupun eksternal di suatu
perusahaan maka suatu perusahaan baiknya mencari cara agar kendala tersebut
dapat teratasi dan meminimalkannya, suatu kendala yang ada di dalam rekrutment
kiranya perlu lagi untuk ditekankan terlebih dahulu bahwa dalam menjalankan
tugasnya mencari calon-calon pegawai, para pencari tenaga kerja suatu
organisasi haruslah menyadari bahwa mereka menghadapi berbagai kendala
tersendiri, banyak penelitian dan pengalaman sebagian orang dalam hal
rekrutment menunjukan bahwa kendala yang biasa dihadapi yaitu:
- Kendala yang bersumber dari organisasi yang bersangkutan sendiri yaitu: kebijakan yang ditetapkan dalam organisasi harus mencapai tujuan dan sasaran
- Kebiasaan pencari tenaga kerja dengan cara lama yaitu perekrutan secara alternative dengan mengubah cara perekrutan secara proporsional dengan bantuan tenaga spesialis yang memahami berbagai segi proses rekrutmen
- Memperhatikan kondisi eksternal (lingkungan) karena sangat berpengaruh dalam perekrutan untuk mendapatkan tenaga kerja proporsional yang dibutuhkan perusahaan.
Kesimpulan
Untuk dapat menghasilkan
rekrutmen yang sesuai dengan harapan maka harus memenuhi kriteria-kriteria
sebagai berikut :
- Merumuskan tujuan rekrutmen yang tepat dan terukur dalam hal pemenuhan suatu organisasi
- Merumuskan karakteristik dan syarat perekrutan yang tepat
- Melaksanakan langkah-langkah proses rekrutmen yang akuntable
Rekrutmen yang efektif tidak
hanya memenuhi kebutuhan perusahaan tetapi juga pelamar dan masyarakat pada
umumnya. Kebutuhan individu memmpunyi dua aspek rekrutmen yang menonjol: yaitu
menarik calon pelamar dan mempertahankan karyawan yang di inginkan.
Diantara beberapa unsur dari
pengelolaan sumber daya manusia yang sangat terkait dengan keberadaan
organisasi atau perusahaan adalah unsur rekrutmen dan seleksi SDM.
Refrensi :
Rendall S. Schuller dan Susan E
Jackson(1997), managemen sumber daya manusia menghadapi abad 21. Jakarta:
Erlangga
Castetter, William B (1996), The
human resource function in education administration, New Jersey: prentice-hall
inc
Siagian,Sondang P (2000),
management sumber daya menusia. Jakarta: PT Bumi Aksara
Edi, Sutrisno (2010). Management
sumber daya manusia. Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Hasibuan malayu S.P (2000),
managemen sumber daya manusia. Jakarta: PT Bumi Aksara
Thursday, September 8, 2016
Pengaruh Kualitas SDM Terhadap Perusahaan
Dewasa ini sumber daya manusia di
dalam sebuah perusahaan haruslah sangat diperhatikan terutama dalam hal
rekrutment yang mana di dalam proses perekrutan karyawan sangat krusial untuk
keberlangsungan sebuah perusahaan dalam bersaing
Subscribe to:
Posts (Atom)



